Cerita Kecil dari Guru-guru SM-3T Angkatan V LPTK Universitas Riau di Kabupaten Jayawijaya

Administrator
Minggu, 11 September 2016 23:52:07 WIB
482 Views

Menjemput Impian di Tanah Papua

Aktiva Rias Pamuji, S.Pd

 

Papua,,,

Tanah idaman seribu impian...

            Aku menyebut Papua sebagai “Tanah Impian” dan sampainya aku di Papua aku sebut sebagai “Menjemput Impian”.

Bermula dari suguhan salah satu program Televisi Nasional yang mengangkat pengabdian manusia-manusia luar biasa di Tanah Papua dan pada akhirnya mampu menggugah hati seorang anak manusia yang kala itu masih duduk di bangku kelas 2 SMP, saat dimana kata para ilmuwan adalah masa-masa remaja mencari jati diri dan membangun jutaan impian yang akan di bawanya ke Masa Depan.

Ya, saat itu juga jiwanya terasa terpanggil dan segera terwujudkan dalam salah satu impian besarnya, “MEMAJUKAN PAPUA”. Ah,,, Impian?? Ya... pada awalnya hanyalah sebuah impian yang dirasa cukup “KEREN” untuk di pajang di setiap Biodata yang dituliskan pada setiap buku harian teman-teman J

Siapa yang menyangka akhirnya setelah 10 tahun berlalu, “Rias Kecil” beranjak dewasa dan dituntun serta diberi kesempatan untuk mewujudkan impiannya, “MEMAJUKAN PAPUA” J

Ya, disinilah aku, Tanah Papua. Tanah yang dulunya hanya ada dalam angan-angan “Rias kecil” dengan impian besar “Memajukan Papua”.

Aku menjemput mimpi dan mewujudkan mimpi untuk mengabdi pada diri sendiri dan mengabdi pada negeri.

***

            24 Agustus 2015, rombongan SM-3T angkatan V LPTK Universitas Riau mendarat dengan sempurna di Bandara Wamena, Kabupaten Jayawijaya-PAPUA. Dengan berbekal impian dan tujuan mulia, guru-guru SM-3T siap merajut mimpi di Negeri Timur Matahari.

            Sambutan yang luar biasa dari pemerintah daerah, senior dan masyarakat sekitar menjadikan tekad kami semakin bulat untuk menetap disini, 1 tahun lamanya mencerdaskan kehidupan bangsa.

***

            SD Negeri Wamena, merupakan sekolah unggulan di Distrik Wamena. Lokasinya berada di tengah kota dengan berbagai peradaban. Siswa di sekolah ini 50 : 50 antara pendatang dengan siswa asli. Kami menyebutnya siswa asli karena siswa tersebut merupakan anak pribumi, sama seperti kami menyebut orang tua mereka “Orang Asli” yang artinya “Orang Papua”.

            Enak di kota??? Hemm,,,

Iya, pasti ada suka dan duka mengajar di sekolah unggulan daerah yang berada di tengah kota.

Senang karena beban mengajar tidak seberat teman-teman yang bertugas di Distrik dengan keterbatasan sarana-prasarana serta kendala yang berasal dari anak didik itu sendiri, yaitu keinginan ke sekolah.

Kecewa karena tidak dapat merasakan pengalaman sebenarnya hidup di Distrik, seperti pengalaman yang di ceritakan banyak pendatang di sini. Mereka datang ke Papua, mereka tinggal di Distrik, mereka mengukir cerita...

***

Aku mengukir cerita...

            Ya,, bertugas di kota tidak membuatku berhenti membuat cerita hidup. Kehidupan harus berjalan, sebuah cerita harus di ceritakan...

            Mengajar sebagai guru SD merupakan pengalaman pertamaku, menjadi wali kelas merupakan pengalaman keduaku, mengajar 70 siswa dalam satu ruangan juga merupakan pengalaman pertamaku dan yang luar biasa, menghadapi anak umur kelas 2 SD merupakan pengalaman pertama yang sempat aku ragukan kemampuanku di dalamnya.

Sabar,,, Lembut,,, Bertahan,,, itu kuncinya J

Waktu berlalu, dan semua menjadi biasa. Akhirnya aku mengenal semua anak muridku dengan berbagai karakter mereka yang telah kucoba pelajari selama 1 bulan terakhir ini. Banyak yang terkenang, salemo (ingus aka angka sebelas di bawah hidung, red) yang ternyata bukan cuma cerita belaka, yang ternyata bukan cuma milik mereka yang di Distrik, yang ternyata menjadi tantangan besar di sini. Kemudian Alvian dan Gidion,,,

2 Murid kesayangan, 2 murid yang mencuri perhatian J

Alvian, oh Alvian...

            Alvian, murid istimewa yang secara langsung dikenalkan padaku oleh wali kelas 2 sebelumnya. Alvian adalah siswa tinggal kelas di kelas ini. Alvian bukan anak bodoh, hanya saja kurangnya perhatian keluarga membuatnya mengalami kesulitan belajar.

            Alvian jarang mandi,,,

Ya, SE SU A TU . . . . . Ketika Alvian masuk kelas dan dia tidak mandi, pasalnya seluruh anggota kelas akan tau kalau Alvian tidak mandi karena aroma semerbak yang ditimbulkannya dapat dengan mudah menguasai ruangan dan menghipnotis seluruh anggota kelas untuk kehilangan konsentrasi. Sering sekali ketika Alvian datang ke sekolah tanpa mandi, aku harus mengalihkan kelas menjadi kelas alam alias belajar di luar ruangan agar baunya tidak menggangu dan agar anak yang lain dapat tetap belajar dengan jarak dan zona yang aman dari Alvian.

            Kini Alvian selalu mandi,,,

Ya, aku dan Alvian sudah mengikat janji kelingking, “Alvian janji akan selalu mandi sebelum pergi ke sekolah, dan ibu guru janji mengizinkan Alvian duduk di dekat ibu guru setiap kali Alvian mau.”

            Memang,,, Alvian tidak akan mau menulis jika tidak duduk dekat dengan ibu guru. Anak yang satu ini suka sekali duduk di meja ibu guru Rias, atau dia akan menulis sambil berdiri jika tidak ada kursi di meja Ibu Guru Rias, Sweet sekali. Alvian hanya akan menulis jika ditemani. Ini yang membuatku menjadi sangat sayang padanya. Aku merasa sangat dekat dengannya.

            4 bulan berlalu dan banyak kemajuan yang telah Alvian capai. Dulu, Alvian bahkan tidak dapat menulis namanya sendiri, tapi sekarang dia sudah bisa menuliskan namanya di buku tanpa hambatan. Dulu,,, Alvian tidak bisa menulis dikte, sekarang Alvian bisa. Dulu,,, Alvian tidak bisa membaca lebih dari 4 huruf, sekarang Alvian sudah bisa membaca kata seperti “Sekarang, bermain, dan kata lain yang memiliki lebih dari 4 huruf”.

Aku senang, bukan hanya aku yang menjemput impian, tapi aku mengantarkan anak didikku mengukir impian mereka J

***

 

Gidion, murid istimewa...

Sama dengan Alvian, Gidion juga merupakan “murid asli” disini, hanya saja dia memiliki kulit yang lebih putih dari Alvian, dan kemampuan yang lebih baik dari Alvian.

Daya tangkap Gidion bagus, dia setara dengan murid pendatang lainnya. Membaca lancar, berhitung lancar, dan menulis juga lancar. Gidion sebenarnya bukan murid dari kelasku, namun karena kelas II.B dan II.C di gabung menjadi 1, maka Gidion sekarang menjadi salah satu muridku. Yang disayangkan dari Gidion adalah dia terlalu aktif, sehingga seringkali dia menjadi biang keributan di kelas.

Aku sayang Gidion,,,

Selain karena kepintarannya yang lebih unggul dari pada teman-teman aslinya, Gidion juga telah menyentuh hati. Tidak seperti yang aku bayangkan, ternyata dia juga seperti Alvian, kurang perhatian orang tua.

Suatu hari, Gidion datang ke kelas pada pukul 09.00 WIT, padahal sekolah di mulai pada pukul 07.30 WIT. Sebagai guru, aku merasa berkewajiban menanyakan alasannya. Belum selesai aku bertanya, Gidion menangis dan berkata:

“Maaf Ibu Guru Rias, sa terlambat, jangan marah e”

Ah,,, ko jangan menangis, ibu guru tanya, kenapa ko terlambat?” Kataku.

Gidion tetap menunduk dan bahkan semakin terisak. Aku iba, aku perhatikan seluruh tubuhnya, kulihat tangannya kotor bekas tanah, bajunya juga terkena kotoran tanah. Aku bujuk kembali Gidion agar mau bercerita. Akhirnya dia berkata:

”Sa bantu mama,,, mama bilang kalau tidak bantu, tidak usah sekolah sampai keluar”

Namun aku salut, aku sayang sekali dengannya. Gidion. Tetap berjuang nak, sekolah yang tinggi, sekolah yang pintar, bahagiakan Mama dan Bapa agar adik-adikmu tidak perlu bekerja demi pergi kesekolah. J

***

Papua, aku akan terus mengukir cerita, biar saja aku tidak menjadi kenangan, tapi Papua akan tetap terkenang sampai kapanpun.

 

Papua, tanah impian,,,

Tanah seribu senyuman J

 

                                                                        Salam Cinta Papua

Dari anak Negeri yang ingin Mengabdi

 

Aktiva Rias Pamuji, S.Pd

 

Susah Untuk Mengingat Pelajaran

Aldo Lanrey Royanto Malau, S.Pd.

Guru SMP Negeri 4 Wamena

 

Memperoleh informasi dari teman kuliah bahwa ada pendaftaran SM-3T, saya bertanya-tanya apa itu SM-3T? karena SM-3T sangat asing bagi saya. Selama saya di bangku perkuliahan tidak ada terdengar tentang program tersebut. Saya mencari informasi tentang SM-3T dari berbagai sumber dan pada akhirnya saya mengerti tentang program ini. Program SM-3T adalah Program Pengabdian Sarjana Pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T(Terdepan, terluar, dan Tertinggal) selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan dilanjutkan dengan Program Pendidikan Profesi Guru.Saya merasa kaget ternyata program ini dibuat khusus bagi sarjana pendidik yang akan ditugaskan di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. Akhirnya saya putuskan untuk mengikuti program ini melalui seleksi yang begitu ketat untuk lulus tes. Saya dinyatakan lulus dan berhak mengikuti program SM-3T.

BulanAgustus 2015 adalah hari bersejarah dan luar biasa dalam hidup saya, di mana hari itu adalah hari penentuan tempat pengabdian saya selama 1 tahun lamanya di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Propinsi Papua. Provinsi yang berada paling timur Indonesia yang secara geografis terletak di daerah pegunungan. Memberi kesan pertama kali ketika aku menginjakkan kaki di tanah ini langsung disambut dengan dinginnya iklim pegunungan dan panas matahari di dataran tinggi, sambutan dari alam pegunungan tengah. Jayawijaya membuat rasa ingin tahu penulis semakin membias, pemandangan gunung–gunung yang menjulang tinggi mengelilingi daerah ini seperti sebuah tembok rakasasa yang sangat kokoh membuat saya terkagum dan tak berhenti memandang kesegala arah, panas yang menyengat kulit tidak terasa karena dinginnya iklim pegunungan tengah. Ini kah surga kecil yang jatuh di bumi, seperti salah satu lirik lagu yang pernah saya dengar sebelumnya.

Banyak hal yang membuat saya penasaran, berdasarkan apa yang menjadi pemikiran saya yang merupakan hasil dari pengumpulan informasi sosial, maupun media, bahkan melalui film dokumenter mengenai keadaan daerah sasaran Papua Kabupaten Jayawijaya, dan pemikiran saya salah besar setelah penulis flashback ternyata itu data yang sudah lama, yang sempat membuat penulis berfikiran daerah terpencil, terpelosok, dan terisolir, ternyata pada kenyatannya tidak.

            Tanggal 28 Agustus 2015 pembagian SK Penempatan Pengabdian, dan SMP 4 Negeri Wamena menjadi tempat pengabdianku. SMP Negeri 4 Wamena, sekolah yang berjarak 12 kilometer dari pusat kota Wamena, disinilah pengabdian ku dimulai. Betapa kagetnya saya melihat siswa-siswi SMP Negeri 4 Wamena, dsini saya menemukan hal yang tak pernah saya lihat di kota-kota. Mereka ke sekolah hanya beralaskan kulit saja, baju seragam yang sudah robek-robek bahkan ada yang berpakaian kaos saja yang aromanya begitu membuat hidung menjadi risih. Tapi saya salut dengan keinginan mereka untuk menimba ilmu, bagaimana tidak ? untuk pergi kesekolah saja mereka harus berjalan kaki dengan waktu yang tidak sedikit. Ada yang 1 jam, 2 jam, bahkan ada yang 3 jam. Jadi mereka berangkat jam 5 subuh agar tidak terlambat tiba di sekolah                          

            Hari Rabu tepatnya tanggal 2 September 2015, saya mulai mengajar di kelas VII. Terlebih dahulu saya memperkenalkan diri karena ada pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, begitu juga sebaliknya dengan murid-murid saya. Setelah itu saya masuk materi tentang permainan bola besar. Mereka belum tahu apa saja permainan bola besar itu, akhirnya saya jelaskan apa itu permainan bola besar dan macam-macam permainan bola besar. Saya menjelaskan salah satu permainan bola besar yaitu permainan sepak bola. Kembali lagi saya terkejut mereka tidak tahu apa itu sepak bola? Yang mereka tahu hanya bola kaki. Kembali saya menjelaskan bahwa sepak bola dan bola kaki itu sama saja. Pada saat saya menjelaskan salah satu teknik yang harus dikuasai dalam permaian sepak bola adalah menyundul bola, dan mereka tidak tahu apa itu menyundul. Dan setelah diberi penjelasan bahwa dalam bahasa Wamena menyundul itu adalah mengkope. Setelah saya jelaskan dan diberi pemahaman akhirnya mereka mengerti pada saat itu.

Keesokan harinya saya sangat terkejut pada saat saya tanya ke salah satu murid saya tentang materi yang sudah saya berikan kemarin, dan dia hanya menjawab “lupa bapa guru”. Disinilah timbul permasalahan yang saya hadapi sebagai guru, mereka susah untuk mengingat. Sudah 3 bulan saya mengabdi di sekolah SMP Negeri 4 Wamena, segala cara sudah saya lakukan agar mereka mampu untuk mengingat pelajaran yang sudah diberikan, tapi memang mereka sulit untuk mengingat. Salah satu upaya yang saya buat adalah tepat pada tanggal 28 Oktober 2015, saya dan sekolah membuat perlombaan antar kelas untuk memperingati sumpah pemuda. Perlombaan yang dibuat adalah perlombaan Futsal bagi laki-laki dan Bola voli untuk perempuan. Tujuan dibuatnya perlombaan ini adalah menumbuhkan rasa kepedulian dan semangat tinggi sebagai pemuda agar lebih giat belajar untuk mencapai cita-cita, selain itu juga agar mereka tahu peraturan, teknik, dan strategi dalam permainan baik permainan bola voli maupun Futsal.

 

Tidak Ada Guru dan Alumni SM-3T, Sekolah ini Tutup

oleh Anju Nofarof Hasudungan

Mendengar kabar-kabar bahwa Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T) Angkatan V adalah yang terakhir. Membuat penulis ingin menulis bagaimana peran penting Guru SM-3T dan Alumninya (GGD) dalam proses belajar-mengajar, bahkan sampai pada tahap keberlansungan sekolah tersebut. Salah satu perwakilan dari kasus diatas, ialah sekolah tempat penulis mengabdi, SD Negeri Niniki namanya. Awalnya penulis bertugas sendiri di sekolah tersebut sesuai dengan Surat Keputusan (SK) penempatan yang dibuat oleh Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Jayawijaya. Sebelum dikirim seorang partner untuk menemani penulis berkarya di sekolah ini. Berbeda dengan teman-teman lain yang berdua-dua. Penulis hanya sendiri. Penulis tidak banyak komentar soal ditempatkannya penulis sendiri disekolah tersebut. Sebab, bagi penulis ini tidak masalah mengingat komitmen dan keteguhan hati untuk siap mengabdi untuk bangsa dan negara dimanapun ditempatkan. Banyak yang dikorbankan untuk ikut program ini.

Ketidaktahuan penulis dengan sekolah dasar negeri Niniki buat penulis benar-benar percaya bahwa Tangan TUHAN bekerja dalam menempatkan penulis.

28 Agustus 2015, waktu dimana SK penempatan di bagikan adalah pertama kalinya penulis mendengar nama dari sekolah Niniki. Dan tiga hari setelah SK dikeluarkan, 31 Agustus 2015 penulis mulai bertugas di sekolah yang punya arti "Hati TUHAN", sekolah ini dahulunya dirintis oleh misionaris. Awal memulai tugas sebagai pendidik, penulis harus menjemput siswa-siswi Niniki ke lapangan sepakbola, tempat dimana mereka sering bermain. Sebab, mereka tidak tahu akan ada guru yang akan mulai mendidik mereka kembali. Setelah sekian lama mereka terliburkan karena suatu keadaan.

Bukan kebetulan penulis ditempatkan di SD Negeri Niniki, berlokasi di Distrik Pyramid, Kabupaten Jayawijaya, Irian Jaya. Penulis harus mendapatkan sekolah yang mengalami banyak permasalahan dan kendala baik internal maupun eksternal. Yakni:

  1. Internal
  2. Tenaga pendidik tidak ada sama sekali kecuali satu Alumni SM-3T yang dalam program pemerintah pusat disebut Guru Garis Depan (GGD) yang baru dua bulan bertugas sebelum penulis datang. Sehingga sekolah ini banyak kehilangan siswa-siswinya dengan berpindah sekolah.
  3. Kedua manajemen sekolah yang tidak ada. Kepala sekolah dan semua administrasinya hanya berlangsung di kota Wamena. Tidak ada proses manajemen sekolah berlangsung. Akibatnya sekolah ini tidak terurus dengan baik.

 

  1. Eksternal
  2. Sengketa tanah antar dua kelembangaan gereja yang ada membuat sekolah ini pernah dipalang oleh masyarakat setempat. Sekolah ini tidak banyak didukung oleh masyarakat setempat. Bedahalnya dengan dua sekolah yang ada disekitar Niniki yakni, SD YPPGI dan Inpres Pyramid.

Akibat masalah dan kendala diatas baik operasional dan pengelolaan sekolah dasar Niniki berjalan tidak optimal bahkan jauh dari standar. Banyak diantara para tenaga pendidik baik guru asli Irian Jaya maupun yang bukan. Tidak mau mengajar di sekolah tersebut akibat masalah dan kendala yang penulis sebutkan tadi. Sehingga sekolah Niniki hanya ada dua guru SM-3T dan satu guru GGD. Sekolah dasar Niniki seperti milik kami bertiga. Padahal dulunya sekolah ini menjadi sangat favorit pada awal sekolah ini dibangun.

Hingga, tulisan ini dibuat pada 12 Desember 2015, Niniki hanya ada dua Guru dan keduanya dari SM-3T. sebab, satu Guru GGD sedang prajabatan selama dua bulan lebih. Sekolah ini sempat tutup selama tiga bulan lebih karena tidak ada guru yang mau mengajar. Akibatnya banyak siswa-siswi yang berpindah sekolah. Beda hal dengan cerita yang terdapat dalam film Laskar Pelangi, sekolahnya bisa tutup apabila siswanya tidak mencukupi. Kalau SD Negeri Niniki bukan siswanya yang buat Niniki terancam ditutup tetapi Tenaga Pendidiknya yang tidak ada.

Lalu bagaimana jika tidak ada guru SM-3T di sekolah ini ? bisa jadi sekolah ini akan tutup. Ini mungkin satu dari sekian banyak kasus tentang kekurangan guru di daerah 3T.

Kalaupun program SM-3T di akhiri. Penulis berharap program Guru Garis Depan tidak. Sebab, baik SM-3T maupun GGD menjadi garda terdepan dalam menjangkau anak-anak di daerah 3T untuk memperoleh pendidikan.

Pesan untuk Kemendikti selaku Kementerian yang menaungi SM-3T bahwa kami pun yang tergabung dalam program SM-3T banyak belajar tentang hidup selama mengikuti program ini. Menurut saya, ini bagus untuk membentuk karakter dan mental kami di waktu muda.

SM-3T…

Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia

 

 

SD INPRES ABUSA

 Asrida Damanik, S.Pd

            `

Saya mengetahui SM3T dari salah satu teman saya, dia banyak bercerita tentang pendidikan di Indonesia bagian Timur khususnya Papua, saya pun tertarik untuk mengikuti SM3T dan Puji Tuhan saya Lulus seleksi dan mendapat penempatan di Papua. Di awal pengumuman penempatan untuk mengajar saya mendapat di SMP N 3 wamena, namun berhubung sekolah tersebut tidak membutuhkan guru Bidang studi saya, akhirnya saya pun di pindahkan ke SD Inpres Abusa. SD Inpres Abusa berjarak kurang lebih 1 jam dari kota wamena namun kita harus berjalan kaki sejauh 5 Kilometer untuk sampai ke SD Inpres Abusa karena kendaraan tidak bisa masuk berhubung jalannya tidak bagus, tidak ada listrik dan susah signal.

Hari pertama berada di Abusa, saya bangun pagi-pagi dan bersiap-siap untuk sekolah kira-kira jam 7 pagi saya sudah siap untuk sekolah namun belum ada satupun anak sekolah yang datang, kemudian saya berpikir apa jam saya yang salah atau saya yang lupa mengatur jam saya ke waktu bagian timur namun matahari sudah sangat terang. Setelah menunggu sekitar 2 jam kemudian satu-persatu anak-anak murid berdatangan, dengan senyum cerah, tidak memakai alas kaki dan tidak memakai seragam sekolah (hanya sebagian anak-anak murid yang memakai seragam)

Setelah berkenalan dengan guru-guru dan semua anak-anak sekolah SD Inpres Abusa saya di tugaskan mengajar di kelas V (lima). Sekitar jam 10 saya pun masuk ke ruang kelas V , pada saat saya sudah menginjakkan kaki di ruang kelas V saya pun melihat ruangan yang lumayan besar beralaskan tanah namun hanya berisikan 5 orang anak-anak murid saja yang menatap saya dengan dengan muka datar (tanpa ekspresi). Untuk mencairkan suasana saya pun tersenyum dan mengajak mereka berkenalan, setelah berkenalan saya pun tau nama mereka berlima adalah Adel Morip, Deta Sorabut, Hana Sorabut, Ina Pabika, dan vero. Saya pun bertanya “ kelas lima hanya lima orang saja?”, mereka menjawab “ ia ibu guru, kelas lima hanya lima orang saja”. Saya pun mulai bercerita tentang diri saya dan kota kelahiran saya dan bagaimana dunia luar itu dan betapa pentingnya untuk sekolah.

Hari pertama mengajar saya sempat bingung melihat mereka, karena mereka lebih banyak melamun dan bengong meliha saya. Ketika saya tanya mereka mengatakan saya mengajarnya terlalu cepat dan mereka tidak mengerti sebagian bahasa yang saya gunakan karena kebanyakan dari mereka tidak terlalu mengerti Bahasa Indonesia karena selama ini guru mereka selalu menggabungkan dua bahasa dalam mengajar yaitu bahasa Daerah dan bahasa Indonesia. Saya pun bingung karena tidak mungkin saya menggunakan bahasa daerah karena saya sendiri tidak mengerti bahasa daerah. Akhirnya saya pun tetap menggunakan bahasa Indonesia namun salah satu dari mereka yang mengerti bahasa Indonesia menjelaskan kembali apa yang saya jelaskan kepada temannya yang tidak mengerti.

Pada saat belajar Bahasa Indonesia sayapun bertanya. “ sudah ada yang bisa baca?”. Semuanya diam. Saya bertanya lagi “ pada sudah bisa baca?” namun semuanya diam lagi. Kemudian saya pun menuliskan sebuah kalimat di papan tulis dan menyuruh mereka membacanya, dua dari lima orang mengeja sedangkan tiga orang lagi sama sekali tidak bisa membaca. Saya pun mulai mengajar mereka membaca huruf dan mengeja kaliamat. Disela-sela mengajar salah satu murid saya berkata “ ibu guru harum sekali.” Saya berpikir ini kesempatan saya untuk mengajarkan mereka kebersihan. kemudian saya berkata “ia, ibu guru harum karena ibu guru mandi pakai sabun, trus sikat gigi juga dan ingusnya di buang supaya tidak ingusan. Jadi kalian besok supaya harum dan bersih mulai besok harus mandi pakai sabun, sikat gigi dan ingusnya di buang ya”. Mereka menjawab “ ia ibu guru”.

Seperti sudah menjadi kebiasaan mereka apa yang kita ajarkan hari ini besok akan lupa, jangankan besok mungkin ketika kita tanya pada hari itu juga mereka sudah lupa, dan satu lagi mereka jarang sekali membawa alat tulis dan bawa buku hanya satu untuk semua mata pelajaran. Ketika ditanya kenapa tidak bawa alat tulis mereka menjawab tidak ada uang beli alat tulis. Maka untuk setiap harinya sebelum pelajaran dimulai saya selalu bertanya siapa yang tidak punya alat tulis dan sudah menjadi kewajiban untuk memberikan mereka alat tulis.

Satu hal yang saya lihat dari mereka adalah semangat mereka untuk sekolah walaupun rumah mereka jauh dari sekolah tetapi mereka selalu datang sekolah, pernah satu kali saya berkata kepada mereka “ anak-anak besok datangnya lebih cepat ya jam 8 harus sudah sampai sekolah!” salah satu dari mereka menjawab “ ibu guru kita orang tidak punya jam” kemudia saya bertanya lagi “ jadi kalian lihat jam dari mana?” mereka menjawab “Kita lihatnya dari matahari toh, kalau mataharinya sudah naik baru kita berangkat sekolah”. Saya pun hanya bisa mengangguk-angguk dan besoknya saya mengajarkan mereka bagaimana cara melihat jam.

Satu hal lagi yang membuat hati miris adalah pengetahuan mereka tentang Negara kita sangat sedikit, jika kita tanya mereka apa nama Negara kita maka mereka akan menjawab Papua bukan Indonesia karena bagi mereka Negara mereka adalah Papua bukan Indonesia, dan pengetahuan lainnya seperti apa lagu kebangsaan kita, apa warna bendera kita dan siapa presiden kita sangat sedikit dari mereka yang mengetahuinya. Itulah yang menjadi tugas kita sebagai tenaga pengajar di daerah 3T mengenalkan mereka Indonesia dan dunia luar karena Papua juga Indonesia.

Seiring berjalannya waktu setelah 3 bulan mengajar di SD Inpres Abusa saya menganggap mereka bukan hanya sebagai anak murid lagi tetapi juga sebagai adik dan teman bermain mereka. Dua dari anak murid saya sudah bisa membaca, satu orang mengeja dan dua orang lagi masih menjadi PR buat saya selama mengajar di SD Inpres Abusa.

 

AULIA HASANAH

 

24 Agustus 2015 pertama kali saya menginjakkan kaki di kota wamena. Kota yang akan menjadi tempat tinggal saya dan 53 teman yang datang dari Riau selama setahun ke depan. Kami disini di tugaskan untuk mengajar dan mendidik anak – anak yang sangat membutuhkan pendidikan yang berasal dari daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Melalui program SM3T yang berasal dari kemenristek-dikti, saya mengikuti program ini di tahun ke-5 nya. Dimana, kemungkinan ini adalah tahun terakhir dari program SM3T ini.

Cerita pengalaman dari hampir 4 bulan di wamena maupun di penempatan pun sudah terhimpun satu per satu. Mulai dari pertama kali kami dikumpulkan dengan kepala sekolah dari masing – masing sekolah yang akan kami tempati sampai saat ini, akhir dari semester ganjil. Saya masih sangat ingat ketika nama saya dipanggil dipanggil pertama kali, dan mendengar bahwa SD Inpres Yiwika akan menjadi tempat pengabdian saya selama setahun kedepan. Kepala sekolahnya, bapak Sakeus Daby tersenyum lebar saat kami berdiri untuk memperkenalkan nama kami, menyambut kami dengan sangat hangat. Saya bersama teman saya Nursyamzana ditempatkan di SD inpres tersebut.

Selang dua hari kemudian, saya dan bersama ketua jalur arah kurulu (bang ibam) ikut bersama kepala sekolah saya untuk tinjauan lokasi sekolah saya. Kurang lebih 20 menit perjalan, kami sampai di SD Inpres Yiwika. Kami habisakan waktu sekitar 1 jam berbicara dan melihat-lihat keadaan sekolah dan tempat kami akan tinggal nanti. Kepala sekolah menyarankan kai untuk tinggal bersama penjaga sekolah dan istrinya di lingkungan sekolah, dan kami pun menyetujui nya, walau ada sedikit keraguan untuk tinggal bersama orang asli sini pada awalnya. Dimana kami berdua yang notabene beragama islam akan tinggal bersama orang sini yang beragama kristen katolik. Setelah bercerita panjang lebar dengan ditemani kopi, kami beranjak pulang ke wamena.

Esoknya tepat tangga 1 september, saya bersama teman-teman yang memiliki penempatan di jalur kurulu sampai bolakme, menaiki dua mobil dari dinas perhubungan ditemani dengan beberapa kepsek dan bapak lobia yang berasal dari dinas PdanP menuju kepenempatan kami masing – masing. Dimulai dari tempat terjauh yaitu bolakme yang berbatasan dengan kabupaten tolikara. Sampai akhirnya ke tempat penempatan saya dan nana di SD Inpres Yiwika. Dibantu teman – teman yang ikut mengantar kami, kami mengangkut koper dan beberapa barang belanjaan ke tempat kami akan tinggal. Setelah berpamitan dengan teman yang lain, kami akhirnya merebahkan badan di tempat tidur baru kami.

Seminggu pertama kami lewati dengan kurang sinyal dan jaringan internet. Tidak hanya itu, kurang nya sarana seperti air mani dan air bersih pun membuat kami kurang betah tinggal di sana. Sampai kami beranikan diri untuk mengajukan tempat tinggal baru kepada kepala sekolah. Yang kemudian disetujui dan akan dicari solusi oleh kepala sekolah. Hanya saja, pada malam itu, tepatnya malam kamis minggu kedua kami disana, rumah kami kedatangan dua orang mabuk yang begitu membuat kami shock dan ketakutan. Sehingga bulatlah keinginan kami untuk pindah rumah. Kami langsung menelpon ke teman kami yang ditempatkan di SMP dan SMA kurulu. Untuk tinggal sementara. Walau belum izin dengan kepala sekolah, kami tetap membawa barang – barang kami pindah ke posko teman yang berjarak 45 menit berjalan kaki dari sekolah kami, yang berada tepat di pusat distrik kurulu.

Sekarang saya tinggal sendiri di SD Inpres Yiwika, dikarenakan beberapa hal Nana memilih pindah ke SD Inpres Umpakalo bersama Fajri dan Dilla. Saya mendapat kan teman pengganti dari kakak tingkat SM3T angkatan 4 yang mendapatkan kesempatan untuk melakukan perpanjangan sekitar 4 bulan sampai mereka memulai PPG di LPTK masing-masing kelak. Kak Elfita, alumni program studi Ekonomi UR, adalah teman saya mengajar di SD Inpres Yiiwika sampai awal februari.

Tidak banyak cerita yang bisa saya bagi, jikalau ditanya mengenai bagaimana rasanya mengajar di sekolah 3T. Mungkin jawaban kami semua sama, “Harus ekstra sabar, hari ini diajar, besok mereka(siswa) sudah lupa lagi”. Tidak ada ekspektasi, tidak ada harapan yang terlalu banyak kepada anak-anak disini. Hanya Calistung saja yang kami kuatkan, setidaknya jangan sampai mereka yang membutuhkan pendidikan ini terlalu ketinggalan dibanding kami yang dari barat.

Cukup sekian cerita saya. Terima kasih

 

Nama              : Beslin Lumban Tobing, S.Pd.

Program Studi: Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia

Penempatan    : SMP Negeri 3 Wamena, Desa Helulawa, Distrik Assolokobal, Kab. Jayawijaya

 

            Pada hari Jum’at, 28 Agustus 2015, saya dan teman-teman Guru SM-3T memenuhi undangan Dinas Pengajaran dan Pendidikan Kabupaten Jayawija untuk datang ke salah satu Sekolah Dasar yang ada di Kota/Kecamatan Wamena. Di sana saya dan teman-teman sama-sama mempersiapkan diri untuk ditempatkan di mana saja di Jayawijaya. Setelah mendapat beberapa kata sambutan, arahan dan nasihat-nasihat dari para pejuang pendidikan di Jayawijaya, akhirnya sampailah kepada pemberitahuan yang menjadi surat perintah bagi saya untuk mengajar di SMP Negeri 3 Wamena. Di penempatan ini saya mendapat teman seorang guru Matematika, Fanji Febriani, S.Pd. Kepala sekolah SMP Negeri 3 Wamena, Bapak Ansgar Blasius Biru, M.Pd. menyambut saya dan teman satu penempatan dengan ramah, kami juga mendiskusikan jadwal untuk melakukan survey ke tempat kami akan tinggal dan mengajar.

Sabtu pagi, 29 Agustus 2015 Pak Ansgar beserta salah satu guru SMP N 3 Wamena, Pak Anis Elopere, S.Pd. menjemput saya dan teman sepenempatan di sekretariat SM-3T untuk berangkat menuju ke SMP Negeri 3 Wamena. SMP Negeri 3 Wamena ini terletak di pinggiran kota, kira-kira 10 menit perjalanan sepeda motor dari sekretariat SM-3T. Gedung sekolahnya masih sangat layak untuk dijadikan tempat belajar, ditambah lagi dengan jumlah guru yang tidak sedikit. Sekolah yang bersih dan rapi, guru dan murid yang disiplin, itulah kesan pertama yang terlihat di sana. Guru dan murid SMP Negeri 3 bahu-membahu membantu membersihkan dan merapikan sebuah ruangan tak terpakai yang diberikan untuk kami tempati. Setelah lumayan bersih, kami akhirnya diantar kembali ke sekretariat SM-3T sambil memikirkan barang-barang yang nantinya akan kami butuhkan.

Pada hari Senin 31 Agustus 2015, seluruh guru SM-3T yang ada di Jayawijaya berangkat menuju daerah penempatan masing-masing. Semua persenjataan untuk membantu mencerdaskan generasi muda Jayawijaya kami bawa. Empat mobil Dinas Perhubungan mengantarkan kami semua dengan selamat. Namun pada hari ini saya belum mendapat kesempatan untuk mengajar. Hari ini saya dan teman sepenempatan masih merapikan barang-barang.

Keesokan paginya, tanpa ada pengarahan lagi saya diberikan jadwal mengajar dan langsung dipersilahkan untuk mengajar di kelas VIII. Sehabis mengajar, Kepala Sekolah langsung mengadakan rapat dan memperkenalkan saya dan teman sepenempatan dengan para guru SMP Negeri 3 Wamena. Secara keseluruhan tenaga kependidikan SMP Negeri 3 Wamena berjumlah 17 orang, yang terdiri dari 7 orang penduduk asli Papua dan 10 orang pendatang. SMP Negeri 3 Wamena terdiri dari 9 rombongan belajar, 3 kelas VII, 3 kelas VIII, dan 3 Kelas IX dan semuanya adalah anak-anak asli Papua yang berjumlah 293 jiwa.

            Dengan sistem pengajaran sekolah yang disiplin disertai dengan papan nama sekolah yang bertuliskan ‘Terakreditasi A’, saya beranggapan bahwa sekolah tersebut sudah pasti menghasilkan tunas-tunas muda berprestasi. Tetapi fakta berkata lain. Para peserta didik sulit mencerna bahasa Indonesia, sulit memahami makna. Mereka selalu menggunakan bahasa Indonesia yang terpotong, terbalik, dan salah makna, bahkan sesekali jika bicara dengan temannya di dalam kelas mereka menggunakan bahasa daerah. Hal ini rupanya berlaku juga pada guru-guru yang merupakan penduduk asli. Tidak banyak guru yang kreatif, tidak banyak guru yang menyenangkan, tidak banyak guru yang menginspirasi. Mata pelajaran yang saya anggap penting seperti Matematika, Bahasa Indonesia, dipegang seluruhnya oleh guru penduduk asli yang demikian.

            Tidak sedikit peserta didik yang belum tahu perkalian, dan pembagian yang merupakan dasar Matematika, atau menuliskan kata yang menyatu dengan ‘ng’, membedakan ‘c’ dan ‘j’, ‘p’ dan ‘b’. Masih sangat banyak peserta didik di sekolah berakreditasi A ini yang masih mengeja saat di suruh membaca. Ini adalah kesulitan terberat saya dalam pengajaran sementara tuntutan kurikulum sangat tinggi. Tapi saya dan teman sepenempatan tidak akan terus mengeluh, kami mengadakan bimbingan belajar pada sore hari untuk mengurangi ketertinggalan ini, kami membantu kepala sekolah membina kepramukaan, kami menghapal semua gerakan senam, kami alirkan semua pengetahuan dan tenaga yang kami miliki, dan kami bantu beberapa guru yang kekurangan dokumen penting penuntun pengajaran.

            Di balik letihnya pekerjaan ini kami juga harus bertarung dengan angkernya lingkungan tempat kami tinggal. Tak pernah kami berjalan dengan tenang - jika malam telah tiba - hendak menuju toilet yang hanya berjarak ±20 meter dari markas kami. Kami tak pernah membayangkan hal gaib, melainkan hal nyata yang dalam wujud pemabuk yang bisa datang tiba-tiba, kapan saja. Satu minggu berjalan, sudah terjadi kemalingan di ruangan guru yang hanya berjarak ±10 meter dari markas. Dan saya sendiri saat malam kemalingan hanya diam mendengar, tanpa beranjak sedikit pun dari tempat tidur. Keesokan paginya banyak barang berharga di dalam ruangan tersebut hilang, termasuk kamus bahasa Indonesia yang merupakan senjata andalan.

            Sementara itu teman seperjuangan yang tinggal tak jauh juga merasakan ketidaktenangan yang sama. Maka saya dan teman sepenempatan sepakat untuk pindah, menggabungkan kekuatan untuk terus berkarya. Hal ini saya sampaikan kepada Pak Ansgar, dan beliau memberikan tanggapan yang sangat positif. Maka pada hari Sabtu, 17 Oktober 2015 kami mengangkat kembali persenjataan, berpindah perlindungan menuju SD YPPK St. Stevanus Wouma. Sampai sekarang kami masih tinggal di sini dan terus mengajar di SMP Negeri 3 Wamena, sudah menyelesaikan ujian semester, pembagian Laporan Hasil Belajar, dan terakhir merayakan Natal bersama keluarga besar SMP Negeri 3 Wamena. Semangat saya masih tetap, tak berubah, untuk menyambut tahun baru pertama kalinya tanpa orang tua.

 

 

SD YPPK ST.LUKAS MULIMA DISTRIK KURULU

Oleh Buk Guru Yunita

23 Agustus 2015 pukul 19.00 Wib saya berangkat dari Pekanbaru menuju Wamena Kab.Jayawijaya samapai di wamena pukul 14.00 setiba di bandara saya menangis saya rasanya mau pulang lagi ke Pekanbaru,tapi begitu keluar dari bandara saya melihat kebesaran Allah SWT ternyata wamena begitu indah,Wamena itu di ibaratkan kuali yang kotanya di tengah dan di pagari oleh gunung,sesampainya di wamena saya dan teman-teman di sambut oleh pihak Dinas Pendidikan Kab.Jayawijaya yang penuh dengan keramah tamahan,lalu kami menginap di penginapan salemo siloam selama 2 hari,karena secretariat SM3T masih di huni kakak senior SM3T angkatan IV,setelah mereka pulang saya dan teman-teman mendiami secretariat,selama 1 minggu kami di sibukan dengan acara upacara di lapangan kantor Bupati lalu di kenalkan oleh pejabat setempat,gerak jalan keliling kota wamena kami di kenalkan kepada masyarakat,berdasarkan keputusan pihak Dinas pada tanggal 27 Agustus 2015 saya di tempatkan di SD YYPK ST Lukas Mulimah Distrik Kurulu sekitar 10 KM dari kota Wamena dan masuk kata gori jalur dua.

Pada tanggal 1 September 2015 kami berjumlah 14 orang berada di jalur dua distrik Kuluru dan Bolakme,di antar oleh Bapak Yohanes Lobia SP.d saya tinggal di rumah bapak kepala suku Martinus Himan S.E tempat tingal saya dengan sekolah hanya berjarak 100 M,saya sesampainya di kampung mulima di perkenalkan dengan keluarga bapak Tinus,Bapak Tinus punya 2 orang istri dan empat orang anak.

Pada tanggal 2 September 2015 pada pukul 7.00 WIT saya sudah tiba di sekolah saya memperkenalkan diri kepada siswa saya yang berjumlah 142 orang,dengan harapan kedatangan saya ke SD YPPK ST Lukas Mulima membawa perubahan yang lebih baik sesuai dengan misi SM3T baca tulis hitung,SD YPPK ST Lukas Mulima memiliki 7 guru 5 Guru PNS 2Guru bantu,dan saya kebagian mengajar kelas lima pada hari itu juga saya langsung mengajar,saya punya 12 orang siswa 8 orang laki-laki dan 4 perempuan,awal mengajar mereka malu-malu dan saya langsung mencoba baca tulis hitung mereka dan ternyata dari 12 orang ada 3 orang yang tidak bisa baca tapi ke 12 nya bisa tulis dan ada 4 orqng yang tidak bisa hitung,siswa saya mukanya sama semua,bau,semuanya ingusan,suka makan royco pakai jahe,permen adalah makaan mewah bagi mereka.

Seminggu berjalan mulai kelihatan sifat tidak baik guru-guru setempat alhasil sekolah hanya milik guru SM3T saja hanya ada 1 guru bantu yaitu bapak Yulianus yang menjalankan proses belajar dan guru-guru PNS sesuka hatinya saja kadang 1 bulan tidak mengajar,atau 1 minggu hanya 2 kali saja masuk dalam 1 minggu dan begitu habis istirahat langsung pulang,kalau di Tanya alasanya kenapa jarang masuk aduh Ibu Guru saya minta maaf saya banyak urusan di kota.

kelas rangkap pun di mulai,saya memegang kelas III dan V terkadang kalau Bapak Yulianus tidak hadir saya bisa meggang 4 kelas sekaligus,alhasil proses belajar pun kurang maksimal,1 bulan pertama saya sedikit stress suda Cuma kami berdua di sekolah semua kami berdua yang handle saya di hadapkan dengan perbedaan anak di barat dengan di timur,susah menerapkan disiplin di sini,mereka kalau sudah bosan pulang dengan sesuka hati,makan permen karet di dalam kelas,jika lonceng berbunyi saya seperti memasukan kambing ke dalam kandang harus saya giring satu persatu,lengah sedikit mereka langsung keluar.

Tapi 2 bulan berjalan anak-anak mulai disiplin karena mereka sudah sadar kalau tidak ada ibu Guru berdua siapa yang ajar kami,walau ada saja tingkah nakal tapi itu terkadang itu justru itu membuat saya lucu dan itu menjadi hiburan buat saya,terkadang saya marah saya teriak tapi kalau saya sakit saya terlambat datang mereka khawatir dengan bertanya Ibu Guru sakit apanya yang sakit perutkah kepalakah,Ibu Guru kenapa Ibu Guru datang terlambat.

Mereka tak mengenal permainan modern hanya sepak bola saja yang mereka tau jenis permainan modern itu pun bolanya sudah rusak-rusak perempuan laki-laki semuanya main bola,sandal bekas pun jadi untuk di jadikan roda anggap saja itu mobil-mobilan,ya begitulah bermain adalah dunianya mereka duanianya anak-anak,terkadang saya heran mreka terkadang tidak makan seharian atau Cuma sarapan pagi saja yah karana orang papua tidak biasa makan siang,tapi anak-anak saya selalu punya tenaga buat bermain dan tertawa walau belum makan.

Mulima adalah kampug yang indah bagi saya udara nya sejuk pemandanganya juga bagus,warganya ramah tamah,pada umumnya wanita lah yang bekerja untuk menafkahi keluarga,mereka hidup berkelompok 1 honai bisa di huni sampai 5 keluarga,saya tau mama adalah bagian penting bagi hidup anak-anak saya tapi apalah daya mama sibuk sibuk di kebun sehingga anak-anak sangat kurang perhatian dan kasih sayang,kalau sore belum pulang main,bahkan tidak tidur di rumah,makan atau belum tidak ada yang mencari.

Saya dan anak-anak 1 minggu angkat air 2 kali yang jaraknya sekitar 1,5 KM mereka senang kalau bantu saya angkat air,karena setelah angkat air mereka dapat upah 5 buah permen,yah begitulah di mulima susah air.

Budaya orang papua kalau ada yang meninggal maka mayatnya di bakar,walau agama kristani sudah lama masuk di papua tapi adat istiadat nenek moyang tidak mudah di hilangkan begitu saja,selama saya 4 bulan di wamena saya sudah menghadiri 4 duka,sungguh luar biasa karena kekerabatan dan rasa persaudaraan warga terhadap mereka yang mengalami duka warga banyak menyumbang babi yang jumlah nya bisa mencapai 35 ekor,untuk di jadikan makanan bagi pelayat ke duka,bakar batu saya dulu Cuma lihat di TV tapi sekarang nyata di depan mata luar biasa.

Selama 4 bulan ini alhamdulillah semua berjalan baik perkembangan anak-anak perlahan mengalami kemajuan,dalam baca,tulis,dan hitung,walau hanya ada guru SM3T saja yang menghandle sekolah,di tambah kami mengadakan les sore atau anak-anak biasa bilang sekolah sore mereka sangat antusias sekali,biasa nya kami les sore tidak di dalam kelas melainkan di alam terbuka.

Saya merasa sangat bersyukur kepada Allah SWT karena saya sampai ke ujung timur sungguh rezki yang laur biasa,saya merasakan nikmatnya hidup di sini saya bisa berbagi dan memberi apa yang saya punya demi kemajuan bangsa dan negara saya khusunya Kab.Jayawijaya,semuga anak-anak saya menjadi anak yang sukses berguna bagi nusa dan bangsa,dan semuga Papua khusunya Wamena Kab.Jayawijaya tetap menjadi bagian dari NKRI,saya bangga menjadi bagian dari SM3T saya dalah orang salah satu orang yang beruntung dari 3140 peserta SM3T,Saya juga ingin mengucapkan terimakasi kepada LPTK UR ( UNIVERSITAS RIAU ) karena saya bisa menjadi bagian dari SM3T,twrimakasi juga kepada Dinas Pendidikan Kab.Jayawjaya Salam MBMI ( Maju bersama mencerdaskan Indonesia )

 

PENGALAMAN SELAMA MENGAJAR

DI SD YPPK SINATMAWALESI

Oleh Buk Guru Dea Meta

         

            Masa sekolah memang sangat mengasikkan bagi setiap sisiwa yang bersekolah. Bermain bersama teman sekelas,tertawa bersama. Itu lah yang saya lihat selama saya mengajar di SD YPPK Sinatma Walesi ini. Dimana saya melihat semangat para siswa yang ingin bersekolah,bahkan perjalanan setengah jam berjalan kaki di tempuh menuju sekolah settiap harinya tanpa mengenal lelah. Setelah pelajaran selesai para siswa segeraa keluar kelas untuk bermain sepak bola tidak pandang pemainnya wanita ataupun pria.

            Wanita tidak mau kalah dengan hebatnya permainan para pria, wanita begitu lincah mengoper bola kesana kemari. Suatu pemandangan yang jarang kita temui dikota.

Perbandingan siswa di desa dengan dikota sangat jauh berbeda,siswa kota sibuk dengan permainan elektroniknya masing –masing sedangkan siswa desa hanya mengandalkan permainan seadanya saja tetapi tetap asik bagi mereka. Pengalaman yang belum saya temui di kota

Sekian dari pengalaman saya selama beberapa bulan mengajar di SD YPPK Sinatma Walesi..

 

 

MENDIDIK KE PELOSOK NEGERI

Isaima

16 Desember 2015

By : Ema Yuliani

 

Jauh dari orang tua bukanlah hal baru bagi saya, itulah mengapa saya yakin ikut program SM-3T yang diselenggarakan oleh dikti lewat LPTK Universitas Riau. Dan tidak terlalu sulit untuk mengantongi izin dari kedua orang tua karena saya mempunyai tekad yang kuat. Dengan tulus ikhlas mereka mengantarkanku dengan do’a. semoga putri bungsu mereka ini selamat sukses di negeri orang. Cerita baru dalam hidupku dimulai ketika kaki ini telah menginjakkan kaki di tanah Papua. Ya, kini berada di timur Indonesia bukan lagi mimpi. Aku yakin bisa sampai disini bukan suatu keberuntungan atau kebetulan semata. Melainkan ini semua sudah diatur oleh Allah SWT. Dan aku benar-benar besyukur karena Allah telah memilihku menjadi salah satu orang yang ditakdirkan mempunyai kesempatan mendidik anak-anak di pelosok negeri.

Setibanya di Kota Wamena saya terkejut melihat keramain kota ini. Padahal akses menuju kota ini hanya bisa ditempuh melalui jalur udara. Kondisi cuaca di Wamena sangat dingin karena diapit oleh pegunungan serta hembusan angin kurima yang selalu datang ke kota.

Saya bertugas di SD Inpres Isaima yang terletak di kampung Isaima, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya. Dari kota Wamena menempuh perjalanan sekitar 45 menit dengan sepeda motor ataupun taksi (jangan bayangkan taksi yang di kota-kota besar, hehe). Taksi yang lalu-lalang Wamena-Kurulu ini adalah kendaraan umum sejenis superband yang beroperasi dari pagi hingga malam hari. Kebetulan sekolah tempat saya mengabdi selama satu tahun ini berada tepat dipinggir jalan raya jadi gampang aksesnya.

SD Inpres Isaima memiliki tenaga pengajar sebanyak 3 orang dan kepala sekolah yang juga merangkap menjadi guru kelas. Dengan jumlah guru sangat sedikit itu sudah pasti sangat kurang karena murid-murid yang diajarkan terdiri dari 6 kelas, yaitu kelas I, II, III, IV, V, dan VI. Dan ternyata dari 3 guru yang semuanya sudah PNS itu ada 1 orang guru sudah hampir dua tahun tidak pernah lagi datang ke sekolah. Miris memang seorang abdi Negara yang biaya hidupnya ditanggung oleh Negara tapi tidak menjalankan kewajibannya. Kondisi yang seperti ini sudah banyak saya dengar dari sebelum saya tiba disini. Kedatangan guru-guru SM3T ini memang sangat dinanti-nantikan disini. Kondisi gedung sekolah masih tergolong baik. Sekolah memiliki 5 ruang belajar dan 1 ruang kantor. Kelas I dan kelas dua berada dalam satu ruangan yang hanya dibatasi oleh sekat dari triplek dan diajar oleh satu orang guru kelas. Alat peraga dan media belajar sangat kurang. Lalu bagaimana dengan kondisi siswanya?

Jangan bayangkan siswa-siswa yang ada di kota ataupun di desa tempat kita sekolah dulu dengan siswa disini. Kondisinya sungguh jauh berbeda. Sebagian besar siswanya tidak memakai seragam sekolah lengkap, kalaupun ada yang pakai kondisinya sudah tidak layak pakai. Sobek disana-sini, kekecilan, dan lain sebagainya. Jangankan pakai sepatu, sandalpun hanya beberapa anak saja yang memakainya untuk ke sekolah selebihnya tanpa alas kaki. Siswa tidak terbiasa mandi saat berangkat sekolah karena daerah yang dingin. Ditambah lagi pemandangan angka 11 dari hidung anak-anak. Aroma yang khas pun tercium saat berada di dekat mereka. Tapi hal itu tidak mengecilkan semangatku untuk medidik mereka (hehe). Prestasi belajar siswa masih tergolong rendah, wawasannya sangat sempit, mereka cenderung cepat lupa, mudah bosan dan capek. Daya serap siswa akan pelajaran tergolong kurang karena siswa hanya belajar di sekolah saja, sepulang sekolah mereka siswa membantu orang tua bekerja di kebun, dan pada malam harinya mereka tidak belajar karena sudah capek. Bahkan masih banyak siswa di kelas V yang belum bisa membaca, PR besar bagi kami guru-guru SM3T untuk mengajarkan siswa-siswa supaya bisa membaca. Tidak perlu mengajarkan siswa pelajaran-pelajaran yang sulit yang penting adalah mereka senang belajar dan datang ke sekolah setiap hari. Bagaimana mau mengerti pelajaran yang sulit, wong membaca saja belum bisa. Kondisi sekolah-sekolah di distrik lain pun lebih kurang sama dengan yang saya hadapi. Jadi dengan alasan itulah kondisi pendidikan di distrik-distrik se Kabupaten Jayawijaya secara umum masih jauh dari harapan. Saya berharap bahwa suatu saat perjuangan saya dan teman-teman sekarang membawa perubahan bagi kemajuan pendidikan di tanah papua, terlebih lagi kedatangan saya membawa manfaat di daerah pemempatan saya. Inilah goresan yang dapat saya bagikan, semoga bermanfaat. Amiin ya Rabbal alamin

 

MUTIARA HITAM DI TIMUR INDONESIA

Oleh : Erni Eskarina, S.Pd ( SD KBT Muliama )

 

“Mutiara Hitam di Timur Indonesia” langkah awal bagiku memulai pengalaman mengajar sebagai seorang tenaga pendidik. Mendidik dan mengajar mereka mutiara hitam yang berada di timur Indonesia yaitu Papua. Daerah 3T di Papua ini membuatku takjub dengan keindahan alam yang seolah ikut menyambut kedatangan kami guru-guru SM-3T. Perasaan takjub dan bahagia akan terus kurasakan selama masa pengabdianku di tempat ini.

Saat telah mengetahui SK Penempatan, ternyata Tuhan percayakan saya untuk mengabdi di Sekolah Dasar Kristen Baliem Terpadu Muliama (SD KBT Muliama). Ketika saya tiba dilokasi, yang saya lihat adalah bangunan sekolah yang sudah tua dan halaman sekolah yang hijau dan cukup luas.

Tepat hari Selasa, 1 September 2015 adalah hari pertama saya bertemu mutiara hitam dan juga guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut. Hal yang saya rasakan adalah deg-degan dan takut tidak dapat menciptakan kesan pertama saat bertemu dengan mereka. Perasaan itupun perlahan hilang saat mereka menyambut saya dengan ramah dan wajah bahagia. Seketika berubah menjadi perasaan haru dan perihatin saat melihat kondisi anak-anak di SD KBT Muliama ini. Mereka datang berjalan kaki dengan baju seragam yang kumal dan tanpa alas kaki, wajah yang polos dan lugu itulah yang saya lihat pada mereka. Dan bertemu guru-guru yang kebanyakan adalah orang asli di Papua.

Dipercayakan oleh pimpinan sekolah untuk mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia pada kelas tinggi. (kelas IV – kelas VI). Pertama sekali masuk kelas dan bertemu langsung secara dekat dengan anak-anak didik.Bukan hanya kondisi anak-anak didik yang membuat saya perihatin tapi kondisi sekolah juga membuat saya sangat perihatin. Ruang kelas sudah tua dan tidak nyaman, kursi meja yang terbatas dan perlengkapan kelas yang seadanya. Tidak cukup dengan itu kondisi sekolah pun memperihatinkan. Buku-buku perpustakaan yang sedikit dan masih menggunakan buku-buku yang lama. Begitu juga dengan ruang guru dan pimpinan sekolah hanya terbatas pada ketersediaan meja dan kursi saja, tidak ada sarana dan prasarana yang mendukung pada kemajuan sekolah. Hal ini penting menurut saya karena akan berpengaruh pada perkembangan dan kemajuan sekolah dan juga anak didik.

hal itu terbukti dalam proses belajar mengajar di kelas. Saya kewalahan saat pertama sekali mengajar di kelas. Tanpa buku pegangan, baik guru maupun siswa tidak dapat mengikuti proses belajar mengajar di kelas. Namun saya mengambil inisiatif untuk menguji sejauhmana kemampuan dan pengetahuan siswa dalam membaca dan menulis. Dan hasil yang saya dapatkan bahwa ternyata kemampuan membaca dan menulis anak didik di sekolah saya mengabdi masih sangat rendah. Bukan hanya membaca dan menulis tapi juga kemampuan ucap dan dengar juga sangan kurang. Di kelas IV hanya sekitar 5 anak didik dari 24 jumlah anak didik saja yang dapat membaca dan menulis dengan baik. Sedangkan sisanya saya bagi dalam beberapa kelompok dengan indikator kemampuan membaca dan menulis yang berbeda-beda yaitu kelompok anak yang belum dapat mengeja dengan baik namun sudah mengenal huruf, ada juga kelompok anak sudah dapat mengeja dengan baik namun belum dapat lancar membaca dan ada juga kelompok anak yang sudah dapat membaca namun belum dapat menulis dengan baik.

Padahal seharusnya anak diharapkan sudah dapat membaca dan menulis dengan baik pada saat di kelas II, namun yang saya dapatkan adalah di kelas tinggi seperti kelas IV saja masih banyak anak didik yang belum dapat membaca dan menulis dengan baik. Tidak cukup sampai disitu saja masalah yang lain juga anak sulit untuk mengucapkan dan mendengarkan beberapa kata tertentu, seperti membedakan huruf “ j ” atau “ y ” misalnya mengucapkan “ gajah ” mereka mengucapkan “ gaya ” dan pengucapan kata " jalan ” mereka mengucapkan “ jalang ” dan kata “ memotong ” mereka mengucapkan “ memoton ”. Hal itu tidak hanya terjadi di kelas IV saja pada kelas V dan IV juga masih dijumpai masalah-masalah seperti itu. Sehingga saya mengambil kesimpulan bahwa kemampuan ucap, dengar, baca dan tulis anak didik di kelas tinggi SD KBT Muliama masih sangat rendah. Hal tersebut dipengaruhi oleh sarana dan prasarana yang tidak memadai di sekolah dan kemampuan guru itu sendiri.

Melihat masalah itu, saya mengambil inisiatif untuk membantu anak didik dapat mengikuti pelajaran di kelas yaitu dengan memberi belajar tambahan di sekolah dan di rumah. Tekniknya adalah untuk belajar tambahan di sekolah pada saat jam istirahat atau pulang sekolah dengan belajar kelompok, beberapa kelompok yang saya tunjuk sesekali saya panggil untuk belajar di kantor, tahap pertama menguji pengetahuan huruf anak didik, diikuti kemampuan mengeja dan kemudian kemampuan membaca dan menulis anak. Hal demikian juga saya lakukan pada saat memberi belajar tambahan di rumah. Setelah saya mengikuti beberapa perkembangan anak didik yang saya anggap paling lemah dalam membaca dan menulis Puji Tuhan sedikitnya memberi dampak kepada kemampuan membaca dan menulis anak didik. Cara tersebut saya anggap efektif dalam membantu anak didik jika dilakukan secara terus menerus.

Beberapa bulan sudah saya tempat pengabdian, hanya hal itu yang masih dapat saya lakukan. Akan terus berusaha melakukan yang terbaik semaksimal saya membantu mereka selama masa pengabdian. Dan semoga apa yang saya lakukan sekarang ini dan yang akan berlanjut dapat bermanfaat bagi mereka mendidik dan menginspirasi mereka di masa depan. Sehingga nantinya dapat terwujud harapan untuk menciptakan generasi emas di tanah jayawijaya.

 

Lapar dan Ngantuk

 

Nama              : Fanji Febriani, S.Pd.

Program Studi: Pend. Matematika

Penempatan    : SMP Negeri 3 Wamena Kab. Jayawijaya

 

            Pada hari Senin, 24 Agustus 2015, saya dan teman-teman Guru SM-3T datang ke papua, tepatnya kabupaten jayawijaya kota wamena, ketika turun dari pesawat kami disambut oleh staf ahli pembangunan kabupaten jayawijaya dan sekretaris dinas P dan P Kabupaten Jayawijaya. Lapar dan Ngantuk yang sangat saya rasakan ketika menginjakan kaki di kabupaten jayawijaya. Pada hari kamis, 23 Agustus 2015 kami memenuhi undangan untuk upacara di halaman kantor bupati jayawijaya dan saya merasakan hal yang sama yaitu Lapar dan Ngantuk karena kami gagal menerima SK penempatan yang dijanjikan. Pada hari Jum’at, 24 Agustus 2015 kami memenuhi undangan Dinas Pengajaran dan Pendidikan Kabupaten Jayawija untuk datang ke salah satu Sekolah Dasar yang ada di Kota/Kecamatan Wamena setelah mendapat beberapa kata sambutan yang bertemakan Lapar dan Ngantuk akhirnya sampailah kepada pemberitahuan yang menjadi surat perintah bagi saya untuk mengajar di SD Inpres Abusa namun karena ada sekolah yang Lapar guru matematika maka saya diminta untuk pindah tugas ke sekolah tersebut dan saya akhirnya dipindahkan di SMP Negeri 3 Wamena.

Sabtu pagi, 25 Agustus 2015 Pak Ansgar beserta salah satu guru SMP N 3 Wamena, Pak Anis Elopere, S.Pd. menjemput saya dan teman sepenempatan di sekretariat SM-3T untuk berangkat menuju ke SMP Negeri 3 Wamena. Ketika datang ke SMP pak ansgar menanyakan “apa pak kesan ketika pertama datang ke sini??” , dan kami hanya tersenyum ingin mengucapkan kata Lapar dan Ngantuk . Guru dan murid SMP Negeri 3 bahu-membahu membantu membersihkan dan merapikan sebuah ruangan tak terpakai yang diberikan untuk kami tempati dan saya tidak merasakan Lapar dan Ngantuk.

Pada hari Senin 31 Agustus 2015, seluruh guru SM-3T yang ada di Jayawijaya berangkat menuju daerah penempatan masing-masing untuk memberi makanan kepada calon peserta didik kami. Keesokan harinya, tanpa ada pengarahan lagi saya diberikan jadwal mengajar dan langsung dipersilahkan untuk mengajar di kelas VIII dan IX, dan ketika saya masuk kelas IX-a saya mendengar rintihan kepala waktu Lapar menggila mereka akan ILMU. Tidak sedikit peserta didik yang belum tahu perkalian, dan pembagian yang merupakan dasar Matematika.

Waktu kita asik makan, waktu kita asik minum, mereka haus mereka Lapar!!!!, mereka Lapar!!!. Hitam kulitmu tak sehitam nasibmu kawan

           

 

SD INPRES UMPAKALO

Fardila Sari

Pendidikan bagi sebagian orang adalah sebuah barang mewah yang sangat sulit untuk didapatkan. untuk bersekolah tidak hanya bermodalkan niat tapi juga tekad yang kuat serta ketekunan dan pastinya campur tangan dari Tuhan. itulah yang dirasakan oleh anak-anak pedalaman papua. mulai dari permasalahan tidak tersedianya sekolah, kurangnya guru, serta masalah ekonomi untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. sangat berbeda jauh dari keadaan sebagian masyarakat Indonesia yang tinggal di perkotaan, Gedung sekolah yang mewah dengan segala fasilitas, guru yang lebih dari cukup bahkan anak-anak masih bisa belajar tambahan dengan guru dari lembaga bimbingan belajar, serta tidak menjadi permasalahan dengan biaya yang cukup mahal.

sangat jauh perbedaan antara kota-kota dan pedalaman. terkhususnya pedalaman papua. terletak di ufuk timur Indonesia diantara pegunungan Jayawijaya yang terhampar memanjang di tanah cendrawasih. akses yang sangat sulit untuk mencapai daerah-daerah penyebaran pemukiman penduduk.

Anak-anak di tempat pengabdian saya di desa umpakalo distrik kurulu pedalaman lembah baliem memiliki tekad yang kuat untuk belajar. mereka ingin jadi Bupati, Pilot, Guru, Polisi, Pemain bola dan cita- cita atau mimpi besar lainnya. Ronal Alua salah satu anak didik saya yang bercita-cita menjadi Pilot. Ronal biasa ia dipanggil, duduk di kelas 6 merupakan salah satu anak yang cerdas, sering mendapatkan niai 100 dibeberapa pelajaran, ronal juga komunikatif dibanding teman-temannya yang lain. Ia ingin melihat dunia luar selain desanya saat ini. Ronal, terbanglah nak terbang yang tinggi. Lihat eloknya bumi pertiwi. Suatu saat kamu pasti akan meraihnya.

Sedikit berbeda dengan daur, sonel seharusnya saat ini sudah duduk di kelas 1 SMP akan tetapi ia masih di kelas 6 SD dikarenakan beberapa kali tinggal kelas. daur sangat senang bermain bola. Cara permainannya juga paling bagus diantara teman-temannya yang lain. Suatu saat kamu pasti bias masuk dalam jajaran TIMNAS sepak bola Indonesia. Satu lagi permata hitam dari Timur. Selama pendampingan hampir satu tahun ini kemajuan kemampuan membaca daur menjadi makin baik. Kedepannya ia akan lebih lancar untuk naik kelas. Mimpinya tak pernah pudar, semngatnya tak pernah pupus. Mental dan tekad sudah di asah sejak kecil. Hidup dalam keterbatasan adalah guru terhebat.

saya sudah yakinkan mereka kelak mereka akan menjadi orang-orang yang sukses. Anak-anak yang akan memperjuangkan tanah mereka yang kaya. jangan pernah kalian berhenti bermimpi kejar terus sampai nanti mimpi itu jadi nyata.

 

Yakinlah bahwa Tuhan tak pernah meninggalkan kita sendiri. ia akan selalu ada dan mendampingi setiap jejak langkah hidup yang kita ambil. cerita ini hanya satu dari sekian banyak pembuktian bahwa anak-anak pedalaman bisa bertahan walau tanpa perhatian yang cukup dari setiap pihak. oleh karna itu saya yakin bahwa banyak anak-anak lainnya jika mereka mendapatkan pendidikan yang layak dan guru yang berkualitas. semoga semakin banyak anak-anak muda Indonesia yang mau berhenti sejenak dari zona nyamannya dan menyapa malaikat-malaikat kecil di pelosok bumi pertiwi.

 

 

SM-3T- PYRAMID-PAPUA

 

Program pemerintah dibawah Kementerian Riset dan Teknologi yaitu Sarjana Mendidik didaerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T) yang merupakan program percepatan pembangunan dibidang pendidikan di wilayah-wilayah tertinggal Indonesia menjadi alasan keberadaan kami di Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua. Mengajar di daerah 3T memang memberi kesan tersendiri bagi kami para guru yang haus akan pengalaman. Bagaimana tidak, kebobrokan dan ketidakadilan pendidikan benar-benar ternganga lebar di depan mata kami para guru SM-3T. Tidak terealisasinya sistem pendidikan, kurangnya tenaga pendidik, minimnya fasilitas sekolah, dan lain sebagainya seakan menjadi permasalahan wajar di daerah ini, namun salah satu tugas terberat kami disini adalah menuntaskan permasalahan Calistung (Baca, Tulis, Hitung) yang sudah mengakar kuat pada anak-anak Indonesia di Papua.

Distrik Pyramid merupakan salah satu wilayah setingkat kecamatan yang terletak di Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua. Distrik Pyramid berbatasan langsung dengan kabupaten Lani Jaya yang merupakan kabupaten tetangga dari Jayawijaya. Kondisi alam wilayah adalah lembah dikelilingi oleh pegunungan kars dengan pemandangan Sabana Tropis yang luas. Seperti kebanyakan suku di wilayah Papua, masyarakat di Distrik Pyramid hampir keseluruhan merupakan masyarakat yang masih asli, bersuku Dani dan masih tergolong salah satu ras Austronesia dengan Sub-ras Malanesia. Masyarakat di daerah ini kebanyakan masih hidup dengan gaya tradisional, mereka tinggal di Honai-honai yang merupakan rumah adat masyarakat setempat. Kegiatan perekonomian sebagian besar penduduk berada di sektor pertanian dengan komoditi unggulan berupa umbi-umbian, jagung, sayur-sayuran, dan sedikit lahan persawahan. Pemaparan tersebut merupakan gambaran kondisi tempat saya dan teman-teman ditempatkan sebagai guru SM-3T.

Nama saya Fernando Simatupang, menamatkan pendidikan pada Jurusan IPS Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Riau. Saya berhasil menamatkan kuliah saya dengan kurun waktu yang cukup memuaskan yaitu enam tahun, dengan predikat “hampir abadi”. Selama kuliah saya merupakan seorang aktivis dari beberapa organisasi kampus dengan segala koarnya, bergerak tanpa data dan fakta, pemikiran tanpa Implementasi, dan bla,bla,bla, maklum kebiasaan mahasiswa yang sudah bukan merupakan rahasia lagi. Lulus SM-3T menjadi rumah baru bagi saya pribadi untuk berkarya secara nyata dan lebih pasti dari pada hanya berkoar sana-sini. Mengubah pola pikir dan orientasi pemahaman hidup menjadi hal yang harus diperjuang saat sekarang ini.

SD YPPGI Pyramid tempat jiwa raga ini akan mengabdi selama kurang lebih setahun lamanya. Sekolah Dasar yang merupakan yayasan gereja ini berdiri kokoh di kaki gunung wilayah pegunungan tengah Papua. Sekolah ini memiliki dua unit gedung utama dan satu buah perpustakaan, satu gedung merupakan gedung permanen dan yang satu lagi masih bangunan dari papan sedangkan perpustakaan sendiri merupakan bangunan baru dengan semi permanen. Terdapat beberapa rumah guru di sekitar lingkungan sekolah, satu diantaranya adalah rumah dimana kami tinggal untuk mengabdikan diri di sekolah itu.

Saya tertengun untuk pertama kali mendengar ucapan “selamat pagi bapa guru”dari anak-anak sekolah yang tidak lain anak murid saya ketika baru saja membuka mata di pagi hari, mereka menyapa saya saat akan ke sekolah melalui halaman rumah kami. . Anak-anak sekolah dengan seragam sekolah seadanya, tanpa sepatu, bersandangkan noken (tas tradisional papua) berisi buku tulis dan perlengkapan belajar menjadi pemandangan biasa disini. Seragam sekolah satu saja dipakai dari senin sampai sabtu, sudah lusuh dimakan zaman, ditambah lagi penampilan mereka yang apa adanya, tanpa mandi dan tidak lupa dengan membawa ingus kemana-mana, namun semangat yang menggebu-gebu tersirat dari wajah mereka karena sekarang mereka sudah ada guru untuk mewujudkan cita-cita mereka yang sempat terhenti.

Mengajar disini bagi saya serba pertama kali, menjadi guru SD untuk pertama kali, mengajar anak Papua untuk pertama kali, mengajar tanpa bantuan buku untuk pertama kali, menjadi wali kelas untuk pertama kali, semua untuk pertama kali. Karena semuanya serba pertama kali saya bingung mau buat apa, sehingga pada akhirnya saya memutuskan untuk menggambar peta saja, itupun untuk pertama kali. Saya menggambar peta di papan tulis dengan menggunakan kapur berwarna yang memang sudah disediakan oleh sekolah. Peta Negara Republik Indonesia lengkap dengan 34 provinsinya saya coba goreskan di papan hitam sekolah itu. Gambar peta itu saya lengkapi dengan nama-nama provinsi dan ibukotanya, mulai dari ujung barat Sumatera sampai di ujung timur Papua, Sabang sampai Merauke begitulah kira-kira yang sering didengar anak-anak Papua, namun yang mana Sabang yang mana Merauke alamat kapal akan tenggelampun mereka tidak tahu. Anak-anak Papua hanya tahu bahwa Papua adalah sebuah Negara yang merdeka, tidak ada Indonesia dalam kamus besar mereka disini.

Setiap hari saya melewati masa-masa mengajar dengan wajar, memberikan mereka ilmu yang saya bisa diberikan. Meskipun awalnya cukup sulit untuk memberikan ilmu pada mereka, tetapi dikarenakan proses adaptasi yang berjalan cukup singkat menjadi modal bagi saya untuk terus berbuat untuk mereka. Saya mengajari mereka pelajaran yang mereka butuhkan mulai dari membaca, menulis, dan berhitung. Demi mendukung kemampuan mereka diluar belajar saya mengajari mereka baris-berbaris, pramuka, dan yang paling penting kebersihan diri. Sedikit demi sedikit anak-anak Indonesia itu mulai berbenah diri, mereka mulai mengerti apa yang sedang saya lakukan untuk mereka adalah demi mereka juga.

Sebenarnya disekolah ini memiliki empat orang guru, satu kepala sekolah, dua guru tetap dan satunya lagi merupakan guru tenaga sukarelawan dari penduduk setempat. Akan tetapi hanya kepala sekolah dan tenaga sukarelawan sajalah yang mengajar setiap hari, sedangkan dua guru tetap lainnya tidak tahu dimana rimbanya. Kebiasaan persekolahan disini gurunya selalu menghilang tanpa sebab, jadi wajar saja selalu kekurangan guru dari waktu ke waktu.

Mendidik dan mengajar anak-anak Indonesia di Papua memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh perjuangan keras yang ekstra sabar. Kelas VI yang sudah tergolong kategori remajapun masih sulit untuk membaca dan menulis, padahal sebentar lagi mereka akan masuk ke SMP. Kalau sewaktu SD saja mereka belum bisa tuntas Calistung bagaimana mereka bisa lanjut ke jenjang yang lebih tinggi nantinya, tentu ini akan menjadi beban berat bagi gurunya kelak di SMP. Belum bisa baca bagaimana bisa masuk SMP?, ini juga masih merupakan tanda tanya besar bagi saya pribadi. Faktanya teman-teman saya yang mengajar di SMP juga masih memiliki permasalahan sama dengan saya yaitu Calistung. Tentunya pertanyaan kita bagaimana dengan Ujian Nasional yang diselenggarakan pemerintah, berjalan dengan baikkah atau tidak, atau hanya sebagai syarat saja. Buat apa menghamburkan dana Negara?.

Sudah tiga bulan kami mengajar disini, beberapa masalah sudah berangsur kami benahi walaupun jalan masih teramat panjang menuju perbaikan yang sebenarnya. Mereka butuh guru yang bisa mengayomi dan membawa mereka meraih mimpi-mimpi yang tertinggal jauh, sejauh Jakarta ke Papua. Sebenarnya saya ingin banyak bercerita tentang pengalaman saya dan teman-teman disini, akan tetapi karena keterbatasan yang saya miliki, saya hanya bisa menulis sebagai syarat untuk memenuhi tugas yang diberikan karena kebetulan pihak LPTK kami akan datang memonitoring kami besok pagi. Semoga apa yang saya tulis dan teman-teman tulis dapat bermanfaat bagi yang bisa memanfaatkannya dengan baik, bukan hanya sebagai syarat atau pajangan belaka untuk kepentingan yang tidak tahu kemana arahnya. Lebih dan kurang saya mohon maaf atas segala kekurangan saya, Akhir kata saya mengucapkan banyak terima kasih.

 

Wamena, 14 Desember 2015

Fernando Simatupang, S.Pd

  Penulis

 

IMPIANKU BERADA DI TANAH MUTIARA HITAM

Oleh Fetra Yunita

            Berawal dari SM3T saya bisa melihat dan menginjakkan kaki di bumi Mutiara Hitam ini. Berawal dari SM3T pula impian saya bisa terwujud dan akan terwujud. Impian itu berupa keinginan untuk mengajar dan mendidik anak-anak di tingkat sekolah dasar di bagian Indonesia yang masih jauh dari kemajuan yang semestinya dan ingin berada disisi mereka anak-anak yang membutuhkan pendidikan yang harusnya sama di bagian Indonesia yang sudah m,aju dibidang pendidikan. Kemudian impian yang akan terwujud dan masih diusahakan adalah ingin melanjutkan misi traveling yaitu traveling to Merauke. Karena sesuai dengan lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” ini impian lanjutan saya setelah traveling ke Sabang beberapa tahun lalu dalam rangka Kuliah Kerja Nyata (KKN). Diprogram SM3T semoga impian itu akan terwujud. Sebab motif saya adalah ingin traveling melalui cara yang bermanfaat seperti ini menyelam sambil minum air.

            Ketika impian saya untuk mengajar dan mendidik anak-anak di tingkat sekolah dasar mulai terwujud, saya mendapat tugas di Provinsi Papua Kabupaten Jayawijaya Kota Wamena di Distrik Asotipo Desa Hitigima Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Persekolahan Gereja Injil Hitigima (SD YPPGI HITIGIMA). Awalnya saya merasa ini hanya mimpi kaaah??? Ternyata ini kehidupan nyata yang mengantarkan saya mewujudka impian itu.

            Di daerah inilah saya memulai merajut mimpi bersama anak-anak. Berawal dari sebuah perkenalan bersama anak-anak calon peserta didik yang akan saya ajarkan dan saya didik. Dari perkenalan ini pula saya merasa sedih karena calon peserta didik yang akan saya ajarkan nantinya tidak seperti seorang pelajar yang semestinya saya harapkan. Karena mereka hanya mengenakan baju seragam putih merah tanpa alas kaki yang seharusnya mereka gunakan untuk ke sekolah. Kemudian melihat kebersihan diri pada peserta didik saya ini masih sangat kurang. Karena angka 11nya selalu keluar dan dengan gesitnya masuk kembali kedalam hidung mereka. Terfikir dibenak apa mereka tidak disorot langsung oleh pemerintah pusat dan daerah? Ah.. tidak mugkin begitu, tetapi itu nyatanya. Harusnya ada kepedulian dan penyuluhan yang berkelanjutan yang benar-benar serius untuk ditangani demi perubahan masa depan yang gemilang.

“Lihatlah… mereka juga ingin seperti pelajar yang semestinya. Tataplah mereka karena mereka juga ingin di perhatikan. Ajarkan mereka karena mereka butuh uluran tangan kita para pendidik masa depan. Tanpa kita mereka akan terkubur bersama impian dan cita-cita karena pioner untuk mewujudkan impian dan cita-cita mereka adalah kita para guru dan para ilmuan yang memiliki kekuatan untuk mewujudkan impian mereka.” Be Continue… J           BY FETRA YURITA

 

MEREKA JUGA BAGIAN DARI KITA

Oleh Fitri Yandi

Seperti mimpi, itulah yang terbayang pertama kali saat sampai di kota Wamena. Belum pernah terbesit dalam hati bahwa saya akan berada di tanah Papua. Saat pertama kali menginjakkan kaki di desa penempatan saya yaitu Desa Hitigima Distrik Assotipo, saya berdecak kagum oleh kenampakan alam sekitar yang sangat memanjakan mata, SUBHANALLAH. Turun dari mobil yang mengantar saya ke desa penempatan langsung disambut oleh anak-anak yang rebutan ingin membantu membawa tas dan barang saya ke kantor sekolah. Didepan kantor sekolah sudah menunggu Bapak Kepala Sekolah dan istri beserta beberapa orang guru disekolah itu. Mereka menyambut saya dengan seyuman yang penuh harapan akan masa depan anak-anak murid disana.

Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Persekolahan Gereja-Gereja Injili Hitigima atau disingkat SD YPPGI Hitigima adalah sekolah penempatan yang akan saya jalani selama 1 (satu) tahun,bahwasanya penempatan sekolah tersebut sudah ditentukan dari Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Jayawijaya. Selama mengajar di sekolah ini saya bertempat tinggal dirumah dinas sekolah bersama Sekretaris sekolah yang merupakan penduduk asli Papua. Keadaan didalam rumah baik dan memiliki toilet, tetapi kekurangannya adalah dengan ketiadaan air didalam rumah. Jadi, setiap hari saya berolahraga mengangkat air untuk keperluan toilet, masak dan cuci piring. Sedangkan kalau mandi menumpang dikamar mandi umum di belakang gereja didepan rumah dinas sekolah.

Keadaan masyarakat sekitar sangat sangat baik dan ramah begitupun dengan keadaan lingkungan yang aman. Desa Hitigima dikenal juga sebagai Desa Injil karena Injil pertama kali masuk ke tanah Papua melalui desa ini. Masyarakat disini semuanya beragama Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Mata pencaharian masyarakat disini adalah dengan berkebun, mulai dari menanam ubi jalar atau istilahnya disini adalah ipere, lalu daun bawang, tomat, rica, sayur-sayuran dan lain-lain.

Beralih mengenai keadaan sekolah, sekolah ini memiliki bangunan permanen dan sudah ada meja dan bangku serta papan tulis kapur maupun papan tulis spidol. Ada pula buku-buku cetak untuk menunjang proses belajar mengajar yang sudah tersedia di perpustakaan. Saya melihat keadaan siswa-siswi di sekolah ini, rata-rata tidak memakai sepatu bahkan tanpa alas kaki, pakaian seragam yang sudah kotor dan lusuh ditambah lagi siswa kebanyakan tidak pernah mandi sebelum berangkat ke sekolah karena alasan dingin jika mandi di pagi hari.

Di sekolah ini saya diberi tugas mejadi wali kelas IV dengan jumlah siswa sebanyak 11 (sebelas) orang anak dengan rincian 3 (tiga) anak perempuan dan 8 (delapan) anak laki-laki. Selama mengajar kurang lebih tiga bulan disini, saya melihat kekurangan anak-anak yaitu ada anak yang kurang bisa membaca, menulis maupun berhitung. Untuk menyiasatinya setiap jam 6 (enam) sore sampai selesai diadakan les tambahan dirumah. ALHAMDULILLAH semenjak anak-anak ikut les mulai menunjukkan perubahan secara perlahan-lahan.

 

ABUSA

Pembentukan karakter manusia bermula dari sebuah pendidikan. Pendidikan sangat besar pengaruh yang diciptakan dalam kehidupan manusia di seluruh dunia ini, begitu juga Indonesia. Di Indonesia sistematis pendidikan yang belum merata merupakan salah satu alasan kenapa Indonesia sampai saat sekarang ini seperti jalan di tempat dalam proses kemajuan di bidang pendidikan.

Indonesia merupakan Negara yang luasnya 1.990.250 km², begitu luasnya daerah Indonesia menyebabkan proses pendidikan yang tidak merata diseluruh wilayah Indonesia. SM-3T merupakan program Kemenristek yang sangat membantu bagi daerah 3T ( Terdepan, Terluar dan Tertinggal ) yang ada di Indonesia. Menjangkau para peserta didik yang berada didaerah terdepan Indonesia demi menciptakan generasi emas Indonesia.

Saya Framana Putra, S.Pd sarjana Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan juruan Penjaskesrek yang mengenyam bangku kuliah selama 7 tahun untuk menyelesaikan tugas akhir. Selama 7 tahun di bangku perkuliahan, saya sudah merasakan proses menjadi guru honor di SMA yang berada di daerah asal sendiri yaitu Pekanbaru, Riau. Mendidik menjadi hobi baru saya setelah merasakan asiknya bercengkrama bersama para peserta didik dan mengimplementasikan ilmu yang saya dapat selama kuliah kepada para peserta didik.

Program SM-3T yang saya ketahui dari junior di masa kuliah dulu, membuat saya ikut tertantang dengan program ini, bagaimana cara melakukan proses belajar mengajar di sebuah daerah yang saya belum pernah menginjakkan kaki disana dan belum mengenal kebudayaan dan system pendidikan didaerah . Akhirnya saya terpilih dari 91 orang yang terdaftar di LPTK Universitas Riau, dan membawa saya ke ujung timur Indonesia tepatnya di daerah Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Wamena, merupakan ibukota dari Kabupaten Jayawijaya, terdiri dari beberapa distrik atau kecamatan, salah satu nya adalah Distrik Kurulu. Kebudayaan yang sangat berbeda dari daerah asal membuat saya bingung bagaimana menjalani proses kehidupan pendidikan di daerah ini. Setelah pembagian penempatan sekolah oleh Pemda Kab, Jayawijaya, maka saya di tugaskan untuk mengajar di SD INPRES ABUSA, Distrik Kurulu.

 

Menempuh waktu 1 jam menggunakan transportasi umum dan berjalan kaki sejauh 7 kilometer dengan waktu 50 menit menyusuri hutan rawa barulah kita sampai di SD Inpres Abusa. Terletak di daerah rawa di tepi kali baliem tidak mengurangi semangat saya untuk mengajar para anak bangsa yang berada di desa ini. Memiliki 7 ruangan belajar dan 1 kantor guru beralaskan tanah begitulah kondisi sekolah ini. Jumlah siswa sebanyak 170 orang membuat saya semakin tertantang untuk mengabdi di sekolah ini. Tinggal di lingkungan sekolah, tidak adanya air bersih dan listrik untuk penerangan merupakan kendala yang harus saya hadapi selama 1 tahun pengabdian di daerah ini.

Sekolah ini merupakan tahun pertama mendapat guru SM-3T untuk membantu proses mengajar. SD Inpres Abusa memiliki 5 guru PNS yang bertugas di sekolah ini, tetapi tingkat kedisiplinan para guru PNS disini sangat kurang yang mengakibatkan terkadang para peserta didik tidak mendapatkan proses pembelajaran yang maksimal dari guru mereka. Tingkat intelektual para peserta didik jauh dari kata cukup sebagai seorang siswa di sekolah dasar. Baca, Tulis dan Hitung ( CALISTUNG ) merupakan tujuan awal yang kami guru SM-3T berikan kepada para peserta didik yang ada didaerah Kab. Jayawijaya.

Mendapat kepercayaan dari Kepala Sekolah untuk menjadi wali kelas 6 membuat saya sedikit memiliki beban moral yang besar kepada sekolah ini. Jumlah siswa kelas 6 hanya 8 orang, dan hampir keseluruhan mereka belum bisa calistung dengan sempurna seperti didaerah kota besar yang ada di Indonesia.

Proses pembelajaran calistung yang saya berikan sampai sekarang ini kurang lebih 3 bulan saya disini mendapatkan hasil yang positif bagi anak-anak didik saya. Mereka sudah bisa calistung walaupun belum sempurna. Semangat positif yang mereka tunjukkan untuk belajar membuat saya bahagia di sekolah ini. Kehidupan bermasyarakat yang sangat harmonis membuat saya merasa sangat di hargai sekali sebagai seorang guru di desa ini, para masyarakat selalu membantu dengan cara memberikan saya sayur-sayuran dari hasil ladang mereka.

 

“ Jika pekerjaan di jadikan hobi, maka apapun kendala yang dihadapi akan terasa mudah ”. Saya percaya walaupun kendala yang di hadapi sangat banyak tetapi dengan niat yang tulis suatu saat nanti pasti akan membuahkan hasil yang manis.

Untuk para anak bangsa tetaplah kobarkan semangat belajar mu, walaupun berada didaerah terdepan, terluar, tertinggal sekalipun. Karna tuhan akan memberikan jalan terbaik untuk kita yang ingin maju dan merubah nasib diri sendiri

 

Abusa, 12 Desember 2015

Framana Putra, S.Pd

 

SEPENGGAL CERITA DARI KAMPUNG MUSLIM

DI TANAH CENDRAWASIH

Oleh Iswatul Hasanah

 

SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal) merupakan program dari DIKTI (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi) mengantarkan ku ke tanah Cendrawasih ini. Ya, tanah Papua. Tanah yang terkenal dengan kekayaan alam nya, keindahan alam dan adat yang masih sangat melekat. Daerah yang sebelumnya tak pernah terfikir oleh ku untuk mengunjunginya, apalagi untuk mengajar di sana. Mengabdikan diri ini untuk anak-anak yang membutuhkan asupan pendidikan. Berbagi ilmu yang mungkin belum seberapa dan ikut bersama sama mencerdaskan Indonesia sesuai dengan moto SM-3T itu sendiri MBMI (Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia).

Papua, daerah sasaran pengabdian ku. Di Provinsi Papua, Kabupaten Jayawijaya, aku dan 53 orang teman ku di tugaskan. Kami disebar ke beberapa distrik. Distrik Walesi, salah satu distrik yang ada di kabupaten Jayawijaya. Di distrik ini aku memulai pengabdian ku untuk bangsa ini. Distrik Walesi merupakan kampung muslim terbesar di kabupaten Jayawijaya. Di sini terdapat satu Pondok Pesantren, Pesantren Al Istiqomah, pesantren ini sudah berdiri kurang lebih 30 tahun. Masih di dalam lingkungan pesantren, terdapat satu Madrasah Ibtidaiyah Merasugun Asso Walesi, di Madrasah ini lah saya di tugaskan.

Hari pertama saya di Madrasah Ibtidaiyah Merasugun Asso Walesi, saya di tugaskan menjadi wali kelas 6. Tidak hanya itu, saya juga diminta untuk dapat membantu mengajar di Madrasah Tsanawiyah yang kebutulan baru berdiri 2 tahun ini untuk mengajar matematika.

Pengalaman baru pun di mulai, saat menjadi guru MI (setingkat dengan SD) hal yang membuat saya terkejut adalah jumlah murid yang jauh sangat berbeda dengan kota asal saya Pekanbaru. Pada umumnya siswa dalam 1 kelas itu terdiri dari 20 an atau bisa sampai 30 an siswa. Namun, di sekolah saya mengabdi ini siswa kelas 6 hanya ada 7 orang siswa saja. Mereka semua juga merupakan santri dari Pondok Pesantren Al Istiqomah. Pagi hari mereka belajar di Madrasah, dan selesai Ashar dan Magrib mereka mengikuti kegiatan pesantren di Masjid.

Mengajar 7 orang murid, ya, 7 orang murid saja, Ima, Dison, Opalek, Ardi, Dokdua, Pike dan Siti, tidak merupakan hal yang mudah, karena masih ada diantara mereka yang belum lancar membaca. Padahal, seharusnya siswa kelas 6 harus sudah bisa membaca dengan lancar. Tidak mungkin mereka terus diberikan materi pelajaran, sedangkan membacanya saja belum sempurna. Kegiatan yang paling saya utamakan adalah membaca. Setiap hari saya fokuskan anak-anak untuk belajar membaca. Sedikit demi sedikit mereka sudah mulai bisa membaca walau sedikit mengeja.

Anak-anak sekolah ini juga tidak terlepas dari yang nama nya angka sebelas (dalam bahasa yang sering kita gunakan disebut ingus). Setiap pagi saya membiasakan anak-anak sebelum masuk ke kelas untuk membersihkan ingus dan menggosok gigi terlebih dahulu. Membiasakan mereka untuk hidup bersih dan sehat juga merupakan salah satu bentuk pengabdian saya selain mengajar.

Selain kegiatan di sekolah, proses belajar mengajar juga di iringi dengan belajar mengaji di masjid setelah Ashar dan Magrib. Saya juga ikut membantu kegiatan ini. Kegiatan yang saya dan teman saya juga laksanakan yaitu belajar malam. Sebenarnya kegiatan ini pernah di lakukan untuk santri pesantren Al Istiqomah, namun karena kurangnya tenaga pengajar, kegiatan ini di hentikan. Saya dan teman saya berinisiatif untuk melanjutkan kegiatan ini. Kami memberikan tambahan belajar untuk anak-anak yang belum bisa membaca dan juga memberikan materi yang sebelumnya diajarkan di sekolah namun mereka belum memahaminya.

 

MY DREAM BE COME TRUE

Ivo Valentina Sihombing, S.Pd

SD YPPK St. YAKOBUS HONELAMA

 

This is a amaze journey and it’s the first in my life. Pergi ke Papua itu merupakan mimpi kebanyakan orang. Mimpi ini kini telah aku wujudkan dimana aku menjadi orang pertama dari keluargaku yang sampai ke tanah paling timur Indonesia. Dengan program SM3T aku telah menginjakkan kaki di negeri mutiara hitam ini. Sangat bersyukur dengan mengabdi di bidang pendidikan, my dream be come true. Sambil menyelam minum air, begitulah bunyi salah satu peribahasa yang sesuai dengan mimpiku ini.

Aku dan teman-teman tiba di bandara udara Wamena tanggal 24 Agustus 2015 disambut dengan staf ahli pembangungan dan sekretaris dinas P dan P beserta keramahan papa yang memakai koteka khasnya. Kota Wamena yang begitu indah dengan pemandangannya dan ramai penduduknya tidak sesuai dengan apa yang kupikirkan sebelumnya.

Pembagian tempat lokasi tugas dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 28 Agustus 2015 di SD Negeri Wamena. SD YPPK SANTO YAKOBUS HONELAMA merupakan salah satu sekolah dasar yayasan Katolik menjadi tempat aku mengabdi selama satu tahun kedepan di Wamena ini.

Keesokan harinya, aku bersama satu rekan tugas berangkat untuk observasi sekolah dengan berjalan kaki. Kami sangat disambut dengan antusias dan keramahan warga sekolah. Dan hari Senin-nya, kami secara resmi diantar oleh pihak Pemda ke Sekolah sasaran. Sekolah ini berada di pinggiran kota Wamena sekitar 7 km dari kota kurang lebih 10 menit jika ditempuh dengan berkendara sepeda motor.

Pada pagi senin itu juga kami langsung mengikuti Upacara Bendera dan diperkenalkan kepada seluruh warga sekolah oleh Bapak Kepsek. Kami sangat senang dengan sambutan itu. Murid-muridnya yang lugu dan ramah, guru-gurunya yang aktif dan ramah.

Mengenai keadaan sekolah, sekolah ini telah ter-akreditasi A dengan bangunan semi permanen dengan Sembilan kelas dan satu ruangan kantor. Namun yang sangat disayangkan itu tidak adanya ruangan perpustakaan sebagai tempat siswa meluangkan waktu membaca. Karena hampir setiap siswa itu jarang sekali membaca dan hampir tidak pernah membaca sebab tidak adanya buku yang mau dibaca.

Setiap kesekolah hampir seluruh siswa hanya memakai baju seragam sekolah yang lusuh dan kotor tanpa alas kaki dengan membawa noken sebagai tempat untuk satu buku tulis dan pena seadanya. Tanpa pernah membaca bahkan memegang saja buku bacaan pun jarang bahkan tidak pernah. Sungguh miris. Keadaan siswa juga sangat memprihatinkan terhadap kesehatan dan kebersihan diri. Siswa kebanyakan tidak mandi sebelum berangkat ke sekolah karena kedinginan sehingga di sekolah mereka asik menarik ulur ingus dan aroma kelas yang semerbak akibat dari jarang mandi dan mencuci pakaian.

Itulah yang menjadi beban dan panggilan hati yang aku rasakan. Aku harus bisa buat perubahan di sekolah ini dimulai dari hal kecil seperti itu. Dan hampir kurang lebih selama tiga bulan bertugas disini, hal itu semakin menurun dari sebelumnya karena setiap hari saya menegur siswa dan mengingatkan untuk selalu bersih. Harapanku yang sederhana ini bisa terwujud sebelum aku nanti kembali pergi dari tanah Papua ini untuk pulang ke Riau, harapku.

 

 

ANAK DI TAPAL BATAS NEGERIKU

Oleh Lisniarti, S.Pd.

Penempatan SD YPPGI Pyramid, Distrik Pyramid, Kabupaten Jayawijaya,

Provinsi Papua

 

***

Indonesia? Apa itu Ibu guru? Negara?

Oh bukan Ibu guru…

Itu bukan negara kami. Indonesia itu Ibu guru pu (punya) negara. Kita orang beda. Kita Papua. Ibu guru boleh datang sini. Kita orang senang Ibu guru di sini. Tapi kita beda toh.

***

            Diawal pengabdianku acapkali kutemukan pembicaraan seperti ini. Baik di kelas, waktu istirahat, di rumah, maupun ketika les sore. Setiap kali ditanya, “Kita tinggal di negara apa?” atau “Anak, Kita pu negara namanya apa e?”. Mereka selalu kebingungan dan acapkali menjawab “PAPUA”. Awalnya sedikit miris ketika anak-anak usia sekolah dasar (SD) tingkat 3 dan 4 mengucapkan hal tersebut. Harusnya, tanpa diberi tahu anak sekolah dasar mengetahui hal sederhana seperti ini. Tapi tidak untuk anak-anakku di sini. Hal sederhana seperti nama negara saja mereka belum tahu.

            Setiap hari sebelum masuk pembelajaran baCA tuLIS hiTUNG (CALISTUNG)*, hal yang selalu kusampaikan berulang-ulang adalah “Anak, Kita tinggal dinegara Indonesia. Ibu guru dari Riau, tapi Ibu guru Indonesia. Anak semua Papua, tapi anak juga Indonesia. Indonesia itu luas anak. Orang tinggal di Jawa, Jawa juga Indonesia toh”. Kusampaikan hal ini setiap hari sampai kurang lebih dua bulan. Atau sampai mereka akrab dengan kata Indonesia. Kusampaikan dengan logat ke-Papua-Papuan seraya berharap mereka mengerti apa yang kuucapakan. Bukan hal yang aneh di sini, jika masih ada anak yang belum mengerti bahasa Indonesia. Setiap hari kulakukan rutinitas ini sampai mereka terbiasa mengucapkan “Kita orang tinggal di negara Indonesia”, walaupun masih ada satu dua orang yang latah mengucapkan “negara Papua”.

            Permasalahan tentang nasionalisme tidak berkutat tentang nama negara saja. Anak-anakku di sini banyak yang tidak berkenan mengakui dirinya Indonesia. Mereka sangat suka menggambar. Dalam setiap gambar akan selalu ada bendera. Akan tetapi bendera yang mereka gambar bukanlah bendera merah putih. Warna merah putih akan selalu mendapat tambahan warna biru ditambah bonus bintang besar disisi bendera. Setiap kali ditanya, “Anak, ini Ko gambar apa?” dia hanya akan tersenyum tanpa tahu apa yang digambar. Beberapa anak lainnya menjawab, “ini bendera Papua Ibu guru. Ada dibelakang rumah Sa(ya). “Lalu itu yang dihalaman sekolah kita itu bendera apa e?”. “Oh. Itu Ibu guru pu bendera”. O Tuhan. Aku bergumam dalam hati. Darimana paham ini mereka dapatkan. Siapa yang menanamkan paham seperti ini dalam otak polos mereka. Mereka yang masih dalam lingkup negara Indonesia. Mereka yang bahkan tidak dikategorikan digaris terluar Indonesia. Bagaimana mungkin tidak mengenal Indonesia. Dan luar biasanya, sebagian dari mereka justru mengira mereka bagian dari Papua Nugini. Ketika ditanya mengapa? Mereka menjawab karena sama-sama Papua.

            Suatu kali, teman satu penempatan pernah memarahi anak di kelasnya. Alasannya kenapa digambarnya selalu ada gambar bendera bewarna biru, merah, dan putih plus bintang. Kenapa bukan merah putih saja?. Anak itu dengan polosnya menjawab. “Bapak guru, ini kan hanya gambar”. Ketika mendengarnya kami terhenyak. Benar. Itu memang hanya sekedar gambar. Kenapa begitu kami permasalahkan. Bukankah anak-anak bebas berimajinasi? Kenapa justru imajinasi mereka dibatasi?. Akan tetapi muncul pertanyaan. Kenapa harus begitu? Dari mana munculnya imajinasi itu? Barangkali tidak akan muncul imajinasi yang begitu liar tanpa ada sebab musababnya. Entahlah.

Posisi Kabupaten Jayawijaya tidak dapat disebut sebagai garis batas terluar Indonesia, karena masih berada di wilayah pegunungan tengah Papua, sehingga masih jauh dari garis perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini. Pertanyaannya, bagaimana dengan mereka yang benar-benar digaris batas Indonesia?

** Lisniarti S.Pd., peserta SM3T Angkatan V LPTK Universitas Riau ditempatkan di SD YPPGI Pyramid, Distrik Pyramid, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Menjalani pengabdian selama lebih kurang 4 bulan. Banyak suka duka dalam menjalani pengabdian, dan Alhamdulillah lebih banyak sukanya.

 

SM3T – HEPUBA – PAPUA

Oleh Martha Uli Hutahaean

 

Sarjana Mendidik didaerah Terdepan,Terluar,Tertinggal (SM3T) sebuah program pemerintah dibawah naungan Kementrian Riset dan Teknologi,yang merupakan program percepatan pembangunan dibidang pendidikan di wilayah-wilayah tertinggal Indonesia. Sebuah program yang menghantarkan kami peserta SM3T ke Kab. Jayawijaya Prov. Papua menuju daerah 3T yang mungkin menjadi suatu tantangan terberat yang akan kami hadapi demi turut membantu pemerintah dalam menuntaskan permasalahan pendidikan di daerah ini,khususnya permasalahaan Baca,Tulis,Hitung (CALISTUNG). Tidak terealisasinya sistem pendidikan, kurangnya tenaga pendidik, minimnya fasilitas sekolah, dan lain sebagainya seakan menjadi permasalahan umum didaeraah ini. Dengan pengalaman yang terbilang masih sangat sedikit,namun keinginan dan harapan untuk membantu anak-anak didik di daerah ini cukup membuat kami para peserta SM3T untuk terus berusaha memberikan yang terbaik.

Kampung Hepuba,salah satu kampung yang ada di distrik Asolokobal suatu wilayah setingkat kecamatan yang berada di Kab.Jayawijaya. Hepuba juga merupakan pusat dari distrik Asolokobal. Seluruh warga kampong ini masih merupakan penduduk asli dengan Fam ASSO dan LOKOBAL. Kampung Hepuba bersebelahan dengan Kali Baliem dan dikelilingi pegunungan,juga merupakan tempat kelahiran dari bapak Bupati Jayawijaya saat ini.

SD YPPK ST.MICHAEL HEPUBA merupakan tempat saya melaksanakan tugas mengajar,saya cukup senang karena saya ditugaskan di tingkat sekolah yang sesuai dengan jurusan saya. Martha Uli Hutahaean,S.Pd, saya lulusan dari Universitas Jambi Jurusan Ilmu Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Sambutan awal dari sekolah ini sangat sederhana namun sangat menyentuh, saya disambut oleh guru-guru yang ramah serta segerombolan siswa yang berdiri dihalaman sekolah,dengan seragam merah putih lusu,kaki yang tak beralas,dan ingus yang hampir membasahi bibir,namun teriakan mereka yang tak henti memanggil “ibu guru” membuat saya sangat bahagia. Sekolah ini memiliki Delapan orang staf, seorang Kepala Sekolah, Lima orang Guru Kelas, Satu orang Guru Agama Katholik, dan Satu orang penjaga sekolah. Bangunan Sekolah Dasar yang merupakan yayasan Gereja ini masih Semi Permanen, dengan enam ruang kelas, satu ruang kantor, satu ruang perpustakaan,dua WC guru dan dua WC siswa,sekolah ini tidak memliki perumahan guru,sehingga kami diberi rumah untuk tempat kami tinggal di perumahan pegawai distrik yang kebetulan kosong. Rumah kami berjarak kira-kira 500m dari sekolah dan saya diberi tugas untuk menjadi wali kelas 4 dengan jumlah siswa 18 siswa,11 anak diantaranya laki-laki dan 7 anak perempuan.

Tiga hari pertama,saya menghabiskan waktu untuk berkenalan sembari bercerita bersama anak kelas lima,Perlu waktu lebih dari 1 bulan bagi saya untuk mengenal dengan pasti wajah dan nama dari siswa yang saya ajar,terkadang saya masih salah mengenali karena wajah,kulit,dan rambut mereka yang sangat mirip. Awalnya saya cukup bingung mau memulai pelajaran,apa materi yang akan ajarkan dan bagaimana cara saya untuk menyampaikan pembelajaran di kelas ini,namun saya cukup penasaran akan cerita teman-teman yang lain ketika mereka pertama kali mengajar,mereka meminta siswa mereka menggambar,dan menemukan sesuatu yang cukup mengejutkan. Tak mau terus penasaran saya pun mengikuti jejak para teman saya,meminta siswa saya menggambarkan bagaimana kehidupan di papua sebagai bagian dari Indonesia,dan benar seperti yang ditemukan oleh teman-teman yang lain,hampir 60% siswa menggambarkan rumah,sekolah,dan tempat tinggal mereka dengan hiasan bendera bintang kejora. Ternyata memang hampir dari keseluruhan anak-anak di papua ini masih merasa bahwa mereka bukan bagian dari Indonesia.

Mengajar di Sekolah dasar bukanlah hal yang pertama saya lakukan,namun ketika saya mulai mengajar di sekolah ini saya seakan mengalami mengajar siswa SD untuk pertama kali,perbedaan yang sangat signifikan dengan keadaan ketika saya mengajar siswa SD di sumatera. Saya mengajar di kelas tinggi yakni kelas 4,namun saya merasa saya mengajar di kelas 2 ataupun kelas 3. Setelah melakukan beberapa tes awal untuk mengetahui tingkat pengetahuan membaca,menulis dan berhitung dari siswa kelas 4 ini saya cukup tersenyum namun tak henti menggeleng-gelengkan kepala. Untuk membaca siswa kelas 4 ini masih sangat lambat,bahkan ada yang masih mengeja dan tidak tahu membaca. Untuk menulis,mereka tidak menghiraukan pemakaian huruf besar dan kecil,dan untuk berhitung masih sangat butuh kerja keras karna untuk penjumlahan bilangan sampai 20 saja masih sangat lambat. Untuk itu dalam waktu Tiga bulan yang saya lewati,saya tidak mengajarkan materi seperti pada kurikulum pendidikan. Selama ini saya hanya lebih banyak untuk melatih membaca,menulis dan mengajarkan operasi hitung penjumlahan dan penguranagan.

Satu bulan pertama belum ada hal yang menjadi permasalahan yang saya temui,semua masih berjalan seperti biasa,namun dalam bulan kedua bahkan bulan yang ke tiga permasalahan yang sama dengan yang di temui oleh teman-teman pun juga saya temui,para guru-guru mulai tidak menampakkan batang hidungnya kesekolah,begitu juga dengan kepala sekolah,hamipr pada bulan ke dua dan ketiga bapak kepala sekolah sama sekali tidak pernah hadir di sekolah.Saya juga menemui beberapa tindakan kekerasan terhadap anak yang sungguh membuat saya sangat terkejut. Saya tidak bisa berbuat banayak untuk permasalahan ini, saya merasa tidak punya cukup hak untuk mencampuri masalah tersebut, saya hanya bisa menasehati anak-anak untuk tidak melakukan hal yang membuat guru-guru setempat menjadi marah.

Ada beberapa pertanyaan dan pernyataan siswa yang mungkin akan terus melekat di pikiran saya, “Ibu guru,enak ya jadi orang Indonesia,cantik,kulitnya putih rambutnya bagus.” “Ibu guru nanti kalo saya sudah besar saya bolekah saya main ke Indonesia?”, “Ibu guru orang-orang di Indonesia itu jahat kah tidak?” dan beberapa pertanyaan lain. Saya hanya bisa menjawap semampu dan sebaik yang saya bisa, dan tetap selalu menjelaskan dengan perlahan bahwa mereka semua adalah juga bagian dari Indonesia.

Sudah tiga bulan saya dan teman-teman mengabdikan diri di masing-masing sekolah di Kab. Jayawijaya ini,masih cukup banyak tugas yang harus saya benahi dalam menjalankan tugas ini,tetap berusaha dan berdoa serta memberikan yang terbaik adalah harapan saya untuk anak-anak di SD YPPK HEPUBA demi cita-cita mereka yang yang selalu mereka impikan.

 

 

MENDIDIK MUTIARA BANGSA DI SARANG PENYAMUN

Oleh : Meta Yulistia

(SMP KBT Muliama, distrik Muliama)

 

“Surga kecil yang jatuh ke bumi”, memang julukan yang tepat untuk tempatku mengabdi saat ini, sekolah satu atap (TK, SD, SMP, SMA dan SMTK) Kristen Baliem Terpadu Muliama, yang terletak di desa Kewin, distrik Muliama, kabupaten Jayawijaya, Papua. Berkah Tuhan akan alam yang indah dan tanah yang subur, semua ada disini, jika bisa diibaratkan, tempat ini hampir seperti negeri dongeng. Jika rajin bangun pagi, naik sedikit ke atas bukit di seberang sekolah, akan terlihat awan yang lebih rendah dari kita. Hasil pertanian disini juga luar biasa, tanamannya sangat subur dan ukurannya jumbo-jumbo, padahal masyarakat disini tidak pernah menggunakan pupuk sedikitpun. Tapi, pendidikan dan ekonomi masyarakat disini, tidak seindah pemandangan alamnya dan sesubur tanahnya. Pendidikan disini sangat kacau, penduduknya banyak yang miskin dan jarang makan. Entah apa yang salah? Itu pertanyaan yang ada di pikiranku saat baru-baru berada di sini.

            Banyak hal yang mengejutkan saat berada disini. Anak muridku masih ada yang tidak tau huruh alfabet atau huruf abjad, padahal mereka sudah SMP, bahkan ada yang kelas IX SMP, sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian Nasional. Jika huruf alfabet saja tidak tahu, bagaimana bisa membaca dan bagaimana bisa menerima materi pelajaran yang lebih tinggi lagi? sangat miris. Dalam perhitungan pun, hanya beberapa orang yang lulus saat aku berikan tes tentang penjumlahan. Parah? Memang! Solusi yang masih aku jalankan sampai saat ini adalah memberi pelajaran tambahan untuk anak-anak yang kemampuannya masih rendah.

            Masih ada lagi, sudah sangat lama sekali tidak diadakan upacara bendera di sekolah ini, pertama kali kesini, bendera dan tali bendera pun tidak ada, kata guru disini, “bendera dan tali benderanya dicuri orang!”, aku Tanya, “untuk apa orang mencuri tali dan benderanya?”, kata guru disini, “untuk mengikat babi dan benderanya tidak tau untuk apa”. Untuk tahap awal kami mengusahakan bendera dan tali benderanya, tapi untuk hari-hati biasa, tali bendera yang kami gunakan bukan tali bendera yang bagus, tetapi tali raffia atau tali plastic yang kami belah dua, tali yang bagus sementara kami simpan. Tujuannya agar talinya tidak di curi, dan setiap pulang sekolah, benderanya langsung kami turunkan dan di simpan juga, pagi-pagi baru bendera di kibarkan lagi. “Para pencuri boleh saja pintar, tapi kita juga harus lebih pintar dan lebih waspada”.

Hal yang lumrah dan tidak terselesaikan disini, guru-gurunya banyak yang malas datang kesekolah, umumnya guru tersebut sudah berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang digaji dengan uang negara, yang berasal dari uang rakyat. Mereka enak, menikmati uang gajinya, tidak mengajar, tapi anak didik, putra putri bangsa yang menjadi korbannya. Semoga suatu saat mereka mendapatkan balasan yang setimpal akan kejahatan dan kecurangan mereka.

            Beberapa hari tinggal di Desa kewin, distrik Muliama, aku dan teman-teman sering bertanya tentang keadaan masyarakat dan pendidikan di sini. Hampir semua orang yang kami tanyai selalu memperingatkan untuk hati-hati, karna di tempat kami mengabdi banyak pencuri. Jika melihat rumah tempat kami tinggal di distrik, semua jendela dan pintu depannya dipalangi dengan papan yang dipaku kuat, hamper seperti rumah yang disita. Tujuanya supaya pencuri tidak bisa membongkar rumah.

Awal-awal aku kira yang mencuri di sini adalah orang-orang yang tidak punya pekerjaan, orang-orang yang sudah tidak sekolah lagi, tetapi ternyata.....! Fakta yang mengejutkan yang aku ketahui setelah beberapa bulan mengabdi di sini. Anak-anak sekolahpun pernah sering mencuri, dan yang menyuruh mereka mencuri adalah orang tua mereka sendiri.

Kebanyakan masyarakat disini mendidik anak mereka dengan cara yang salah, jika anak mereka, terutama yang laki-laki belum pernah mencuri, artinya belum hebat. Antara percaya dan tidak percaya, tetapi saat mengajar mata pelajaran IPA (Ilmu pengetahuan Alam) di kelas VIII SMP, saya hubungkan pelajaran dengan moral dalam kehidupan sehari-hari. Saya katakana pada anak murid, “anak-anak kalian tahu sekarang kan betapa besarnya perjuangan mama kalian melahirkan kalian, pasti mama-mama kalian mau kalian jadi anak yang baik dan berbakti toh? tidak ada kan mama yang mau melihat anaknya mencuri atau berbuat jahat?”. Betapa terkejutnya aku saat mereka banyak yang menyeletuk menjawab, “ mama kita yang suruh curi ibu guru?”, saya tanya, “benarkah? Kenapa mama kalian suruh curi?”, mereka jawab, “kalau tidak curi, tidak bisa makan ibu guru”. Parah ! mendengar jawaban mereka, beberapa saat aku kehilangan kata-kata. Percuma mereka sekolah selama ini jika moral mereka tidak bisa jadi baik, sia-sia ilmu yang mereka pelajari selama ini jika tidak terjadi perubahan tingkah laku mereka kearah yang lebih baik. Tapi bukan seorang guru namanya, kalau tidak bisa meluruskan sesuatu yang bengkok dari anak muridnya, aku berikan ceramah panjang pada mereka dan aku ceritakan tentang bagaimana kehidupan pribadiku. “Ibu guru tahu, disini keadaannya susah toh? Apa-apa mahal disini, ibu guru saja sampai disini terkejut saat berbelanja, harga barang-barang disini sangat luar biasa mahalnya di bandingkan di tempat ibu guru tinggal di Riau sana. Kalian tau kan mencuri itu termasuk dosa yang sangat besar dan di benci Tuhan, kalian sekarang sudah jadi anak sekolahan, berpendidikan, jika ingin makan atau mencari uang, kalian gunakan otak kalian, bukan mengambil sesuatu yang bukan hak kalian. Ibu guru dulunya juga bukan orang berada, ibu guru juga dulu hidup susah, orang tua ibu guru hanya petani karet, saudara ibu guru juga banyak, semenjak SD ibu guru sudah belajar cari uang sendiri untuk jajan, ibu guru jualan keripik, sampai kuliah ibu guru juga bekerja sambil kuliah…. bla…bla….bla…(panjang ceramah aku)”, mudah-mudahan mereka paham, mendengarkan dan mengamalkan apa yang aku ajarkan.

Dongeng, seperti kata asing disini, mereka sama sekali tidak tau cerita-cerita dongeng yang umumnya diketahui anak-anak kecil di tempatku ataupun anak-anak di wilayah Indonesia lainnya. Cerita kancil, timun mas, dan lain-lain, mereka sama sekali tidak tau. Salah satu mediaku untuk mengajarkan moral pada mereka adalah dengan mendongeng. Saat istirahat, aku biasa memanggil anak-anak baik yang SD,SMP bahkan SMA untuk mendengarkan dongeng. Di akhir cerita selalu aku jelaskan pesan-pesan moral yang terselip dalam cerita tersebut.

Jam pelajaran terakhir, sangat jarang ada guru yang masuk mengajar, jadi tiap-tiap jam pelajaran terakhir, anak-anak disini sangat susah untuk disuruh masuk kelas. “Anak-anak yang lain sudah pulang ini ibu guru, bagaimana kalau kita pulang saja e, kita sudah lapar ini ibu guru”, Haah…. Itu kata-kata yang tidak menyenangkan di telingaku, sudah pasti aku marahi mereka, “Masuk, yang pulang biarkan saja, ibu kasih alfa di daftar hadir mereka”.

Pada awal aku mulai mengajar, bingung sekali mencari cara agar mereka mau belajar pada jam terakhir. Karna kebiasaan buruk guru yang lain, jam pelajaran akupun terkena imbasnya. Setiap ada kelas yang terdapat pelajaran IPA pada jam terakhir, biasa aku terapkan pembelajaran dengan menyelipkan game dan aku siapkan hadiah. Ini cukup efektif membuat anak tidak malas lagi masuk kelas pada jam pelajaran terakhir.

Ada lagi kelakuan anak-anak yang membuatku pusing. Kelakuan mereka yang brutal, suka bikin onar, malas dalam belajar, semua itu sering membuatku marah. Aku minta saran pada guru-guru yang lain untuk menghadapi kelakuan mereka. Kata guru-guru disini, “Pukul saja sudah ibu guru!”. Anak-anak disini memang baru takut dan diam di dalam kelas, jika gurunya suka memukul mereka. Tidak mungkin aku memukul anak murid, mana tega aku. Itupun bertentangan dengan apa yang sudah di ajarkan selama aku kuliah. jadi aku putar otak lagi, bagaimana menghadapi mereka. Aku baca buku pengalaman guru-guru yang pernah mengajar di daerah terpencil, umumnya anak-anak yang berbuat kenakalan disekolah, mereka butuh perhatian lebih dari kita senbagai seorang guru. Aku coba, di sekolah dan di luar sekolah aku beri mereka perhatian yang lebih. Tapi, akibatnya, mereka selalu ingin aku mengajar di kelas mereka, saat aku mengajar di kelas lain, mereka selalu mengintip lewat jendela atau meribut di luar kelas mencari-cari perhatian. Ini suangat mengesalkan dan sangat mengganggu. Berarti strategi dan caraku salah. Suatu saat aku panggil mereka ke kelas, dan aku beri mereka motivasi dengan kopi, aku tuang kopi kedalam 2 cangkir bening, aku tanya, “Kalian suka kopi tidak?” (catatan: masyarakat disini sangat suka sekali mengkonsumsi kopi). Satu cangkir kopi aku tambahkan gula, kopi dan susu, aku tanya, “Kalian suka?”, mereka jawab, “Suka sekali ibu guru”. Yang satu lagi, aku tambahkan batu kerikil, sampah dan tanah, sontak mereka terkejut saat aku masukkan sampah ke dalam kopi yang satu ini. “Ibu guru, kenapa?”, tidak aku jawab, aku kembali bertanya, “Kalian masih suka?”, jawab mereka “Tidak ibu guru”.

“Nah, kopi ini ibarat kalian. Hitam Kulit keriting rambut. Sama seperti kopi ini. Sebelum ibu tambahkan sesuatu kedalamnya, masih ada orang yang menyukai kopi ini!”

“Saat kopi ini ibu ditambahkan gula, kalian semakin suka toh? Itu ibarat sifat baik kalian, jika orang baik, maka orang lain akan semakin suka padanya. Ibu tambahkan lagi susu, kalian makin suka tidak?”

“Makin suka ibu guru!”

“Susu yang ibu tambahkan, ibarat ilmu pengetahuan. Saat kalian punya ilmu pengetahuan yang luas, kalian akan bisa jadi orang yang dihormati dan dihargai, derajat kalianpun akan diangkat lebih dari orang yang tidak punya ilmu.”

“Nah, kopi yang satu ini. Siapa yang mau meminumnya? Kamu? atau kamu?”

“Tidak mau, itu sudah kotor”

Aku beri mereka senyuman, “Tidak ada yang mau toh? Kerikil ini ibarat orang yang keras kepala atau kepala batu, tidak mau mendengarkan ucapan orang lain yang menyuruh pada kebaikan. Sampah ini ibarat kelakuan buruk seperti mencuri, menipu, membunuh, dan lain-lain. Sedangkan tanah ini ibarat kebodohan dan kurangnya ilmu pengetahuan. Apa ada yang mau berteman dengan orang yang kepala batu, suka menipu atau mencuri barang milik temannya sendiri, atu kalian mau berteman dengan orang yang tidak ada isi kepalanya alias bodoh? maukah?”

“Tidak ibu guru!”

“Nah, kalian pikirkan baik-baik pelajaran hari ini? Pelajaran hari ini memang singkat dan hal yang sederhana, tapi maknanya sangat penting untuk kalian. Semoga bermanfaat dan selalu kalian ingat!”

Sejauh ini mulai ada perubahan sikap mereka kearah yang lebih baik, tanpa menggunakan kekerasan, mereka sudah mau menuruti perkataanku. Aku belum tau, apakah aku bisa membuat perubahan lebih jauh lagi disini, meski dengan cara-cara sederhana, semoga mereka bisa berubah seutuhnya jadi anak yang lebih baik, jadi anak yang cerdas dan bisa membuatku bangga.

Masih banyak pengalaman yang ingin aku ceritakan, tapi untuk sementara cukup itu saja. Aku bersyukur bisa berada disini, bahagia bisa bertemu dengan masyarakat disini. Semoga pengabdian ini bisa bermakna dan tidak sia-sia. (14/12/2015)

 

MENGABDI DI TANAH MUTIARA HITAM PAPUA

Mutiara hitam!

Mendengar nama ini, tak asing bagi kita. Kenapa tidak asing? Karena yang kita tahu bahwa mutiara hitam adalah barang berharga dengan nilai jual yang tinggi. Tapi mutiara hitam yang akan penulis sampaikan adalah anak-anak papua yang begitu sangat berharga. Dimana anak-anak Papua ini kurang diasah dalam dunia pendidikan jadi mereka masih tertinggal dalam dunia pendidikan dan perkembangan zaman saat ini. Misalnya anak-anak yang ada di Riau yang masih SD sudah tahu menggunakan Hp dan laptop yang canggih sedangkan mutiara hitam penulis sama sekali tidak mengenal hal-hal seperti itu. Kenapa begitu karena kurangnya tenaga pengajar yang mengajar mereka.

Kurangnya tenaga pengajar yang dimaksud penulis disini bukan hanya kurangnya guru, tapi juga kurangnya keinginan guru-guru di tanah mutiara hitam ini menjadikan generasi muda mereka maju dan menjadi mutiara hitam yang benar-benar indah, dan mahal. Penulis akan menceritakan bagaimana pengalaman penulis selama mengajar di tanah mutiara hitam terutama di wamena jantungnya Papua. Disebut jantungnya Papua karena tidak sah bila ke Papua tanpa menginjakkan kaki ke wamena, karena wamena adalah kabupaten pertama di Papua.

Penulis sampai di wamena ini melalui program pemerintah DIKTI. Yang membuat suatu program bernama SM3T ( Sarjana Mendidik di daerah terdepan, terluar dan tertinggal) yang sudah berjalan lima tahun. Penulis mengikuti program ini pertama kali karena mendengar dari teman-teman yang sudah pernah mengikuti program ini dan telah mengikuti PPG. Mereka mengatakan “cobalah masuk SM3T, setelah mengabdi ke daerah 3T kita akan dikuliahkan PPG.” Itulah motivasi pertama saya mengikuti program SM3T ini, masuk ke program ini tidaklah mudah seperti yang saya perkirakan. Mencoba ikut SM3T harus melalui tiga tahap ujian yaitu: ujian seleksi administrasi yang telah ditentukan oleh DIKTI, setelah lulus tahap satu maka masuk tahap kedua ujian test online, dan setelah itu baru test wawancara. Setelah semuanya lulus, kami dilatih selama ± 2 minggu menghadapi kemungkinan yang akan kami hadapi di daerah penempatan nanti.

Sewaktu pelatihan selama ± 2 minggu, kami pun mendapatkan lokasi penempatan. Penulis mendapat penempatan di Kabupaten Jayawijaya, kota Wamena. Mendapat penempatan ini penulis sangat senang , karena akhirnya saya bisa memijakkan kaki di tanah mutiara hitam dan paling ujung dari Indonesia. Setelah pelatihan tepatnya tanggal 24 agustus 2015 kami ada 54 orang yang diberangkatkan ke Papua dari LPTK UR. Kami berangkat dari bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru, perjalanan dari RIAU ke Wamena transit 3 kali dengan lamanya perjalanan 6 jam. Seminggu sampai di wamena akhirnya kami mendapatkan penempatan mengajar disini, dan saya ditempatka di Distrik Wesaput, SD Inpres Wesaput.

Hijaunya alam papua tengah dan indahnya pemandangan di tanah papua tengah terutama di kabupaten Jayawijaya, berbanding terbalik dengan pendidikan yang sangat miris dan prihatin. Pendidikan bermutu semakin jauh dari kelompok orang miskin, inilah situasi yang dialami warga pendalaman di kabupaten Jayawijaya. Dan guru-guru yang mendapatkan penugasan di pinggiran dan di pos-pos banyak yang tinggal di kota. Mereka lebih memilih tinggal di kota daripada mengajar di pinggiran atau dipos-pos, karena kurangnya fasilitas dan motivasi untuk mengajar. Fasilitasnya adalah tidak adanya angkutan langsung dari kota ke tempat mereka mengajar, kurangnya buku bacaan untuk digunakan guru dan siswa, serta kurangnya motivasi untuk berkembang dari penduduk itu sendiri dan guru. Misalnya penduduk disini masih mengutamakan hukum adat daripada hukum Negara, penduduk yang masih suka mabuk baik yang tua dan muda, penduduk yang masih suka memalak (minta uang) dengan suka hatinya, dan penduduk yang suka membunuh.

Lain halnya dengan tempat saya mengajar,memang kurang guru, tapi guru-guru di sekolah saya mengajar semua gurunya sering datang ke sekolah mengajar, yang jarang datang justru adalah siswa – siswi itu sendiri. Misalnya di kelas saya mengajar di kelas III A, Siswaa yang terdaftar 45 orang tapi yang hadir hanya setengahnya, kadang juga hanya sepertiganya saja. Kenapa hal itu terjadi?, pertama kali saya masuk pun bertanya seperti, padahal rumah mereka sangat dekat dengan sekolah tapi mereka pemalas ke sekolah. Setealah saya tanya ke guru- guru di sekolah saya dan siswa-siswi yang rajin sekolah.

Mereka begitu karena orangtua mereka lebih mementingkan anaknya bekerja ikut ke ladang atau ke kampung membantu orangtuanya. Dan yang paling mengejutkan orangtuanya akan menyuruh anak-anak mereka ke sekolah bila sudah dekat dengan ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Mendengar hal itu saya pertama tidak percaya sama sekali, dan beberapa bulan mengajar dan ujian akhir semester tiba benar apa yang dikatakan guru-guru kelas saya hampir penuh dengan kehadiran siswa-siswi yang tak pernah saya lihat sama sekali. Dalam masalah ini saya mengambil sikap tegas dengan memulangkan mereka ke rumah mereka membawa orangtua mereka ke sekolah untuk menjelaskan, kenapa anak mereka baru sekarang hadir?.

Itulah persoalan yang dihadapi dalam faktor guru sehingga kami di berangkatkan mengabdi ke tanah mutiara hitam ini. Persoalan yang berikutnya adalah kemampuan anak dalam hal pembelajaran di kelas. Masalah yang di hadapi adalah hal mendasar yaitu kemampuan siswa dalam hal calistung (baca, tulis dan hitung), ke tiga hal ini adalah persoalan yang sangat dasar tapi sulit untuk diatasi. Penulis mengatakan hal ini karena penulis sendiri kesulitan dalam menyelesaikan persoalan ini, karena siswa-siswi itu kurang motivasi untuk pintar. Hal ini dapat dilihat dari cara mereka belajar pada pertama kali.

Pertama kali penulis mendapat tugas menjadi wali kelas di kelas III A penulis mengadakan test kepada satu persatu siswa dalam hal membaca, menulis, dan menghitung. Dalam hal membaca siswa saya sangat kurang membaca, menulis juga begitu lain halnya dalam menghitung mereka sangat suka. Setelah ± 4 bulan disini siswa saya yang sudah bisa membaca hanya setengah dari jumlah siswa begitu juga dengan menulis, tapi dalam hal menghitung mereka semua sudah bisa dalam hal penjumlahan dan pengurangan, mereka agak susah dalam hal kali-kali.

Untuk mengatasi persoalan ini saya membagi siswa saya dalam 3 kelompok yang tahu membaca, yang masih mengeja dan yang tidak tahu sama sekali dalam membaca, pada hari senin, rabu dan jumat fokus pada membaca dan menulis, selasa dan kamis fokus menghitung dan sabtu belajar bebas, dan tidak terlepas dari jadwal pelajaran yang di bagi oleh kepala sekolah. Yang sudah pandai membaca saya fokus kan dalam menulis, yang masih mengeja saya fokus utama dalam membaca dan menulis, dan yang belum bisa membaca, saya lebih fokus mengajar mereka. Saya mengajar mereka mulai dari huruf A-Z, dan mereka semua tahu tapi dalam menyatukan huruf mereka kurang karena mereka dulu rupanya di ajarkan menghafal huruf bukan mengimplementasikan penggunaan huruf dalam membaca. Dalam menulis mereka semua bisa tapi ada saja huruf yang kurang dalam penulisan, dan mengatasinya ini saya selalu melatih mereka menulis dengan memberikan contoh kalimat di buku untuk ditiru mereka dan mendiktekan kalimat untuk mereka tulis di buku. Dalam hal menghitung mereka sangat menyukai menghitung daripada membaca, jadi penulis tidak sulit dalam melatih mereka dalam menghitung.

 

Selain mengajar saya juga melatih siswa-siswi dalam hal latihan PBB, upacara dan melati mereka dalam pramuka. Dengan di bantu senior angkatan 4 dari LPTK UNMUL yang di tempatkan lagi setelah perpanjangan kontrak dari Dinas Pendidikan dan Pengajaran di Kabupaten Jayawijaya. Mengajar mata pelajaran Penjaskes. Setelah kehadiran guru Penjaskes siswa semangat untuk olahraga karena selama ini tidak ada yang mengajar mereka. Begitu juga dalam hal pramuka dan PBB mereka sangat semangat ikut kegiatan tersebut

Demikianlah pengalaman saya dalam mengajar dan mengabdi di tanah mutiar hitam Papua, dimana saya mendapatkan siswa-siswi saya yang beda dengan siswa-siswi yang pernah saya ajar di kota besar. Siswa-siswi di tanah mutiara hitam sangat polos, tapi kepala batu. Karena mereka susah menangkap pelajaran. Mereka lebih suka dalam hal bermain, menggambar dan mengerjakan tugas di depan kelas. Inilah gambaran mutiara hitam yang ada di tanah Papua semoga dengan adanya kegiatan SM3T ini dapat mengubah mutiara hitam ini menjadi lebih bagus dan bersinar terang di Indonesia. Sekian dan terima kasih.

 

Penulis,

Monalisa L.G Girsang   

 

3 Bulan Pengabdianku

Oleh: Resti Santa Mona Sidabutar

 

Kecewa….. Itu hal pertama yang saya rasakan ketika pertama sekali mendengar pengumuman lokasi penempatan mengabdi. SD Negeri Wamena. Hati ini benar-benar tidak puas dan tidak terima jika harus mengabdi di sekolah tersebut. Kota dan siswa-siswa yang kebanyakan mayoritas pendatang. Dimana 3T-nya? Hidup di kota dengan siswa yang sudah menguasai CALISTUNG (Baca, Tulis, dan Menghitung) dengan bangunan sekolah yang sudah tergolong kategori layak, fasilitas yang cukup lengkap, dan administrasi sekolah yang sudah pasti terkontrol. Katanya SM-3T, Sarjana Mendididik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. Apa yang tertinggal? Sekolah di kota dengan fasilitas yang sudah baik. Itu gerutu yang terus ada di dalam hati ini.

Merasa tidak terima, saya berusaha mendekati para staf dan kepala bidang untuk mengajukan permohonan agar bisa pindah lokasi pengabdian di distrik yang memang lokasi 3T. Tetapi jawaban yang saya terima hanyalah, “Sudah, jalani dulu sampai 1 bulan ke depan. Kalau memang benar-benar tidak nyaman, baru pindah.” Jawaban yang benar-benar tidak saya harapkan. Semakin kecewa. Hati terus berontak bahkan ingin meneteskan air mata. Iri dengan teman-teman lain yang mendapatkan lokasi di distrik-distrik. Mereka akan benar-benar merasakan pengabdian yang sesungguhnya. Berada di sekolah yang benar-benar membutuhkan seorang guru dengan siswa-siswa pribumi asli (anak-anak Papua) yang memang masih kurang dalam CALISTUNG, jauh dari hidup perkotaan, dan bisa merasakan hidup dengan warga-warga Papua asli. Akan ada banyak pengalaman yang bisa mereka ceritakan yang membuat pengabdian mereka bermakna. Saya? Apa yang akan saya ceritakan? Bermaknakah pengabdian saya selama 1 tahun ke depan? Tidak akan, jawab hati ini.

Tetapi semua gerutu itu akhirnya hilang dari hati ini setelah 2 minggu berada di SD Negeri Wamena. Wali kelas VIb. Seolah cara agar gerutu-gerutu itu hilang, saya tidak pernah membayangkan akan mendapatkan mereka. Mereka adalah sosok-sosok yang awalnya tidak saya inginkan bahkan berjuang untuk menolak mereka. Menyesal sempat memiliki gerutu-gerutu itu. Sekarang yang ada rasa syukur dan terima kasih yang luar biasa pada-Nya karena telah mempertemukan dan memberikan pada saya.

Betapa manis dan lugunya mereka. Mereka juga membutuhkan seorang guru yang benar-benar mengerti mereka. Awalnya saya berpikir CALISTUNG sudah mereka kuasai, ternyata tidak. Masih ada yang membaca dengan cara mengeja terbata-bata, tulisan yang masih susah dibaca dengan huruf yang kurang tiap katanya bahkan menulis dengan huruf yang terbalik. Dalam perhitungan, hampir keseluruhan dari mereka belum hafal perkalian. Dan itulah tugas saya. Saya harus mampu membuat mereka tidak ada lagi yang membaca dengan cara mengeja, tidak ada lagi yang menulis dengan huruf yang terbalik juga huruf yang kurang-kurang, serta membuat mereka semua menguasai perkalian. Dan target saya yang paling berat adalah membuat mereka semua bisa lulus di Ujian Nasional nanti. 3T tidak lagi menjadi hal yang penting buat saya. Sekarang yang ada dibenak adalah “mereka juga butuh saya”.

Suatu kali saya pernah mendengar pengakuan dari mereka bahwa mereka sangat semangat dan mudah mengerti saat belajar semenjak saya menjadi guru mereka. Perasaan haru muncul di hati saya dan itu membuat saya semakin semangat untuk mengajar dan mendidik mereka. Tetapi tidak lama duka datang menghampiri. Saya harus kehilangan salah satu dari mereka. Muhammad Amin.

  

Amin…Begitulah saya memanggilnya. Siswa mungil luguku ini adalah salah satu siswa yang paling rajin di kelas. “Miss….semenjak Miss yang ngajar dikelas kami, kami lebih cepat ngertinya, Miss. Apalagi saya, Miss.” “Miss….nanti kita belajar bahasa Inggris toh, Miss? Sebentar kita main permainan seperti kemarin toh, Miss?” Dua kalimat yang sangat saya ingat darinya. Tapi mungkin sudah kehendak yang di atas, pertemuan saya dengan dia hanya sementara saja. Kini tidak ada lagi Amin si mungil lugu di kelas VIb. Semoga kamu tenang disana. Miss sayang kamu.

Kesedihan tidak berhenti sampai disitu saja. Tidak pernah terbayangkan kalau saya hanya 2 bulan saja menjadi ibu mereka. Wali kelas mereka yang sesungguhnya sudah datang kembali. Tak sanggup mengatakan apapun kepada mereka. Tidak terpikirkan sama sekali kalau mereka akan menangis sejadi-jadinya saat mengetahui kalau saya tidak akan menjadi wali kelas mereka lagi. Sambil berusaha menahan air mata, saya berusaha untuk menenangkan mereka. “Tenang saja. Miss masih tetap masuk kok di kelas kalian. Miss akan mengajar bahasa Inggris sama kalian. Trus kalau Bu Malo (wali kelas mereka) tidak masuk, kan Miss bisa masuk ke kelas kalian.” Begitulah kalimat penghiburan yang saya lontarkan kepada mereka. Walau tidak bisa terima sepenuhnya, setidaknya mereka sudah sedikit lebih tenang mendengarnya.

Kini sudah 1 bulan terakhir saya tidak lagi menjadi seorang guru wali kelas, tetapi guru bidang studi yaitu guru bahasa Inggris. Memasuki sembilan kelas tiap minggunya. Dan ada lebih banyak lagi karakter siswa yang harus saya kenali. Tetapi yang membuat saya takjub lagi, ternyata mereka sangat suka belajar bahasa Inggris. Dan berdasarkan survey saya dengan teman-teman yang lain, kebanyakan siswa-siswa di Papua ini, khususnya kabupaten Jayawijaya, sangat menyukai dua mata pelajaran saja yaitu Matematika dan Bahasa Inggris.

Tahun ajaran 2015 sudah berlalu. Tidak ada aktivitas belajar-mengajar lagi. Sekarang program kerja yang difokuskan adalah “Perayaan Natal SM-3T”. kami seluruh peserta SM-3T membuat program ini tanpa terkecuali, Kristen dan muslim. Natal ini akan diisi sepenuhnya oleh para siswa, khususnya anak-anak dari distrik-distrik. Adapun tujuan dari program ini adalah untuk menunjukkan kepada masyarakat yang ada di kabupaten Jayawijaya ini, bahwa kami tidak hanya seorang guru yang mengajar dan mendidik di sekolah saja. Tetapi kami juga ingin menunjukkan bahwa guru-guru SM-3T juga perduli terhadap kehidupan social umat beragama, tanpa membeda-bedakan agama yang satu dengan yang lain. Semoga program ini dapat disambut baik oleh masyarakat.

 

Maju terus SM-3T….

Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia

 

PROBLEMATIKA DAERAH 3T

Oleh Muslih

“Pendidikan merupakan jembatan emas menuju kesejahteraan”, Quote tersebut menjadi semangat kami para pendidik di program SM-3T Jayawijaya.

Pendidikan di daerah 3T nampaknya membutuhkan perhatian serius dari banyak pihak, baik pemerintah swasta maupun masyarakat. Hal ini menjadi sangat jelas ketika kami telah terjun selama kurang lebih tiga bulan di daerah 3T. Peran pemerintah saja dirasa kurang untuk dapat mengatasi permasalahan pendidikan ini. Peran pihak swasta dan masyarakat memegang andil yang tidak sedikit dalam urusan yang menjadi jembatan emas kesejahteraan ini.

Banyak permasalahan yang timbul di daerah sasaran SM-3T dalam hal ini Jayawijaya khususnya. Minimnya tingkat pendidikan masyarakat adalah imbas dari berbagai permasalahan yang hadir. Akses jalan yang minim merupakan akar permasalahan yang kemudian menimbulkan banyak permasalahan lain. Siswa harus menempuh jalan puluhan kilo Meter untuk dapat menjangkau sekolah yang mengakibatkan jam belajar di sekolah menjadi berkurang. Selain itu harga kebutuhan yang sangat tinggi karena akses yang sulit memaksa masyarakat untuk menekan kebutuhan sehari hari, sehingga masyarakat kebanyakan hanya mengkonsumsi ipere (ubi) sebagai makanan pokok tanpa didampingi makanan pendamping sehingga kebutuhan gizi yang dibutuhkan tubuh tidak terpenuhi secara optimal. Disamping itu sekolah sebagai sarana belajar kurang memiliki kelengkapan sarana prasana yang memadai, jumlah guru yang minim di tambah dengan buku sebagai sumber belajar yang boleh dibilang sangat sedikit menambah pelik permasalahan ini.

Pendidikan dasar yang tidak memiliki standar kelulusan yang jelas berimbas pada tingkat pendidikan diatasnya. Hal ini menjadi bumerang pada tingkat pendidikan menengah yang membutuhkan pemahaman yang mendalam pada materi materi yang diajarkan. Banyak dari siswa siswi didik ditingkat SMP bahkan SMA/K yang masih belum lancan membaca, menulis dan menghitung. Hal ini memaksa guru untuk menurunkan standard kelulusan yang berimbas pada lemahnya daya saing lulusan.

Pada tingkat SMA/K literasi yang ada sangat minim. Kurikulum yang sering berubah ubah juga berefek pada ketersediaan literatur yang berbeda pada setiap kurikulum. Distribusi buku bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku juga tidak optimal, sehingga sumber belajar kebanyakan menggunakan literatur lama dan tidak sesuai dengan kurikulum yang diberlakukan. Untuk tingkat SMK khususnya bahan ajar dirasa sangat minim, hal ini karena ketersediaan buku dipasaran juga sangat minim, bahkan untuk program keahlian teknik dapat dibilang tidak ada buku yang bisa digunakan sebagai referensi dan hanya guru lah sebagai satu satunya sumber belajar siswa. Ditambah lagi ketersediaan dan kelengkapan peralatan laboratorium yang minim memaksa guru dan siswa berandai andai tentang materi yang disampaikan.

Permasalahan pelik ini tak cukup jika hanya pemerintah yang menangani, butuh uluran tangan kita semua untuk mewujudkan pendidikan yang layak guna mewujudkan cita cita mulia Negara ini yaitu Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.

 

 

 

NAMA                               : Novita sari

PRODI                                : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

DAERAH PENEMPATAN : Distrik Kurulu, SMAN Kurulu

 

Kurulu sebuah Nama distrik tempat saya mengabdi,merupakan pusat pemerintahan di daerah tersebut.Distrik kurulu merupakan dareah perlintasan menuju kabupaten-kabupaten pemekaran yang ada di pegunungan tengah Kab.Jayawijaya . SMAN Kurulu tempat saya mengabdi merupakan satu-satunya SMA Yang ada di distrik Kurulu .SMA yang bediri pada tahun 2006 ini merupakan SMAN yang berada di bawah kepemimpinan ibu Nani Dabi, S.pd .Gedung sekolah yang terletak di jantung distrik kurulu ini terdiri 4 ruang kelas dan 1 kantor Guru serta pembuatan 2 ruang kelas yang sedang berlangsung.

Banyak hal yang telah saya alami selama hampir 4 bulan saya mengabdi di SMAN Tersebut. Salah satunya masalah kehadiran Siswa sekolah .Absennya siswa siswi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar membuat saya berfikir ada yang salah dalam proses pelaksanaannya. Beberapa hal sudah saya lakukan untuk mengupayakan meningkatnya kehadiran siswa-siswi salah satunya dengan memberikan hadiah kepada anak-anak dengan persentase kehadiran di atas 90% . Memberikan kegiatan ekstra kulikuler yang di gemari oleh mereka seperti olahraga bola voli serta bola kaki serta mendekatkan diri secara personal kepada anak-anak didik agar mereka merasa nyaman dan dihargai selama disekolah. Hal ini diharapkan mampu memacu motivasi siswa untuk selalu hadir dan belajar secara aktif di sekolah tersebut.Di lihat secara keseluruhan sudah cukup menunjukkan hasil   yang cukup signifikan ,terbukti dengan meningkatnya jumlah kehadiran siswa setiap harinya.

Untuk program kerja saya yang pertama yaitu menjalankan serta mengaktifkan kembali OSIS. Dalam hal ini saya bekerja sama dengan pembina osis untuk mengadakan latihan kepemimpinan dasar sebelum pemilihan ketua serta pengurus OSIS periode yang baru.Hal ini dilakukan agar anak-anak tersebut mampu menjadi pemimpin,contoh,tauladan serta pembimbing untuk teman-teman serta kakak-kakak tingkat mereka.Pelaksanaan Pemilihan ketua OSIS berjalan lancar dengan proses pemungutan suara dari seluruh warga SMAN Kurulu baik itu siswa maupun dewan Guru. Kemudian program kerja saya selanjutnya yaitu mengadakan acara Bulan bahasa pada tanggal 27-28 oktober 2015. Acara yang berlangsung dua hari ini berjalan cukup meriah ,dengan agenda kegiatan perlombaan Deklamasi puisi pada hari pertama dan Keindahan serta kebersihan kelas, serta Mading pada hari kedua .Untuk lomba Deklamasi Puisi sendiri sesuai dengan mata pelajaran yang saya ampu ,menjadikan saya penanggung jawab serta juri untuk kegiatan lomba tersebut.Dan, Alhamdulillah acara Bulan bahasa juga berjalan dengan lancar dengan diumumkannya para juara juara sesuai dengan masing-masing perlombaan pada minggu berikutnya.

Untuk program kerja selanjutnya yang berhasil saya upayakan yaitu pengadaan Buku-buku perpustakaan , karena di sekolah kami belum ada buku-buku untuk menunjang siswa dalam mencari referensi atau sebagai pedoman dalam mengerjakan tugas dari masing masing guru per mata pelajaran.Dan ,saya sangat berterima kasih kepada pihak Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kab.Jayawijaya karena dengan cepat tanggap telah memberikan buku-buku tersebut untuk anak-anak peserta didik khususnya di SMAN kurulu .

Untuk tempat tinggal saya selama di distrik ,letaknya tidak jauh dari tempat saya mengajar hanya kurang lebih 200 meter dari sekolah. Namun untuk keamanan sendiri cukup memprihatinkan karena posko yang saya tempati sudah 3 kali kebobolan maling .Hal ini sangat mengkhawatirkan sekali,karena menurut pandangan saya masalah keamanan menjadi hal yang paling krusial dalam kenyamanan kami selama mengabdi .Sekolah sudah membantu dengan menutup lubang-lubang yang rawan untuk dimasuki maling tersebut,tetapi kejadian yang sama selalu berulang. Untuk kerugian materi sendiri itu telah kehilangan satu buah handpon, beeberapa ratus ribu uang tunai serta beberapa makanan ringan telah hilang dari tempat penyimpanan .

Untuk kejadian tersebut sudah di laporan ke pihak berwajib dan pihak dinas P Dan P Kab Jayawijaya namun belum tindakan lebih lanjut.Secara Pribadi hal ini   menjadi pelajaran buat saya agar lebih berhati –hati dalam menjaga barang-barang berharga yang saya punya.

 

                                   

                                              SALAM HANGAT DARI TIMUR INDONESIA

Cerita Ini Saya Dedikasikan Untuk Semua Rekan yang Turut Beprtisipasi Dalam Mencerdaskan Indonesia

            Terima kasih buat jiwa dan ragaku yang senantiasa kuat dalam menjalankan tugas mulia. Terima kasih buat semua keluaga dan rekan yang aku tahu pasti selalu mendukung apapun kegiatan positif yang kulakukan. Terima kasih buat semua pihak terkait yang berhasil membuatku terbang ke pulau di timur Indonesia ini. Tak lupa ucapan terima kasih kuucapkan pada negeriku, Indonesiaku yang telah berdiri gagah selama 70 tahun, yang tak henti hentinya mengadakan pembaharuan di bidang pendidikan. Jayalah pendidikan di Indonesiaku.

            Petang itu, 23 Agustus 2015, terlihat berbagai macam hiruk pikuk di pelataran BandarUdara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Tak jarang ku lihat raut sendu di muka teman dan para keluarga yang mengantarkan kami. Singkat cerita kami akhinya tebang menuju Bandar Udara Soekarno-Hatta Jakarta dan dilanjutkan menuju Bandar Udara sentani Jayapura, Papua. Setibanya di Sentani kami melanjutkan perjalanan menuju tempat pegabdian, yaitu Kota Wamena Kabupaten Jayawwijaya, Papua. Tak pecaya, kata itu yang kemudian terlontar di benakku ketika pertama kali aku sampai di negeri ini. Negeri dengan budi luhur ketimuran yang masih lekat pada masyarakatnya, negeri dengan ragam budaya, bahasa, adat istiadat, dan tak lupa lambang kegagahannya, Cendrawasih.

            Tak lama berselang, kami pendidik khusus yang didatangkan dari LPTK UR sebanyak 54 orang, siang itu dibagi masing – masing menuju wilayah sasaran penempatan pada tanggal 28 Oktober 2015. Kami yang saat itu telah berkumpul bersama dengan semua jajaran terkait, baik itu dinas pendidikan dan pengajaran, kemudian staf kebupatian, beserta perwailan masing – masing sekolah penempatan merasaan ketegangan yang luar biasa melingkupi ruangan rapat terbuka tersebut. Akhirnya satu persatu nama kami dipanggil lengkap beserta sekolah penempatan juga teman yang akan menjadi rekan di sekolah penempatan. Saya mendapat tugas mengajar di Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan dan Persekolah Santo Stevanus Distrik Wouma yang letaknya tidak terlalu jauh dari kota, sekitar ± 10 menit jika menggunakan kendaraan bermotor.

            Tepatnya tanggal 1 Agustus 2015 kami, 54 orang pendidik ini, di antarkan ke masing – masing sekolah penempatan dengan daerah yang berbeda. Kami dibagi menjadi 4 daerah cakupan jalur. Saya masuk kepada cakupan jalur 3 dengan wilayah penempatan masih pada ring 1 artinya masih pada cakupan lingkungan pinggir kota. Sekolah menyambut baik pada saat itu. Terlebih lagi anak – anak yang menyambut kami dengan tatapan riang ingin tahunya. Esok harinya kami memulai tugas kami sebagai pendidik, tepat pada Selasa tanggal 2 Agustus 2015.

            Unik dan menarik itulah kata yang patut untuk menggambarkan malaikat malaikat kecil kami di sini. Mereka yang notabene belum bisa baca dan tulis harus kami latih setiap harinya untuk mengajak mereka cinta akan bahasa ibu pertiwi, Bahasa Indonesia. Tak lupa kami selingi pelajaran hitungan di dalamnya, yang membuat mereka terbakar semangat untuk terus berkembang dan menyadari bahwa pendidikan itu perlu, dimulai dari membaca, menulis, dan berhitung.

            Saya sebagai wali kelas VI di SD YPPK St. Stevanus Wouma sadar benar akan pentingnya kemajuan dan keberhasilan mereka, terutama anak – anak didikan saya di kelas VI yang sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir. Mereka itu pada dasarnya pintar dan cerdas. Tinggal bagaimana kita mengolah mereka menjadi pribadi yang lebih berkembang lagi baik itu dalam bidang pendidikan dan akhlak mulia. Semoga dengan kehadiran dan kedatangan saya disini dapat mengembangkan potensi tersebut, walau hanya meningkatkan perbendaharaan kata dan kecerdasan mereka dalam hal hal dasar. Karena apa, karena yang paling penting itu mau belajar bukan mereka yang pintar dan tidak mau belajar. Salam hangatku dan malaikat – malaikatku disini, di timur Indonesia. Jayalah terus pendidikan Indonesia. Salam kami Sarjana Mendidik di Daeah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. Maju bersama mencerdaskan Indonesia.

 

Untuk Indonesia Tercinta

Dari Distri Wouma, Wamena,Papua

 

Putry Ayuningtyas

 

 

Kami Ini Manusia Toh

Oleh: Rahma Lisa Indra

 

“ hati-hati nak kami sayang kamu” adalah kata-kata yang melepasku pergi kesini ke tanah papua ini. Sayang mereka yang membuat aku juga merasa sayang kepada orang lain. Ketika ada orang disana yang tidak tau ini apa dan itu apa padahal usia mereka sudah bisa dianggap tau. Yah mungkin rasa itu yang membuatku sampai disini ditanah impiannku.

Di sini aku dan temanku tinggal di rumah ‘tuan tanah’ dengan empat anak dan dua orang istri. Terasa aneh tapi kami merasa nyaman disini. Kami bertugas di SD YPPK St Lukas Mulima Distrik Libarek Kabupaten Jayawijaya. Sekolah yang terletak di pinggir jalan raya tolikara-wamena dan berjarak lebih kurang tiga puluh menit dari kota. Tidak terlalu jauh memang dari kota tapi sarana dan prasarananya sangat jauh dari sekolah yang ada di kota. Di sana ada enam kelas dan satu kantor. Tapi sayang tidak terurus dengan baik.

“selamat pagi ibu guru” adalah sapaan pertama yang ku dengar disini dari siswa-siswaku dan dari warga yang berpapasan kalau kami akan ke sekolah. Dengan semangat aku melangkah ke sekolah dan berharap ada guru lain yang menunggu kami untuk berkenalan tapi ternyata tidak satupun guru yang kami temui. Bingung dan merasa agak canggung kami ambil alih untuk menyiapkan anak-anak di halaman dan memperkenalkan diri. Kaget dan merasa ihh beginikah anak-anak ke sekolah dengan ingus biru beku di hidung, kaki tanpa alas, baju kusam seolah tak kenal cucian dan bau yang luar biasa. Setelah perkenalan aku lari ke belakang sekolah, lambungku berontak tidak tahan lagi dengan gejolak mual karena bau dan keadaan anak-anak yang ku lihat, ya aku muntah.

Tatapan mereka semua melihat kami seolah melihat sesuatu yang wow, bersemangat dan berbinar-binar. Tatapan itu yang membuat aku merasa ya benar disini aku pasti sangat dibutuhkan. Aku tidak boleh mengecewakan mereka dan harus mencoba membuat mereka berani bermimpi seperti siswa kebanyakan. Kelas empat adalah kelas yang memintaku untuk mengajarnya pertama kali. Masuk dikelas ini membuatku merasa senang walaupun baunya tetap membuatku merasa mual. Tapi kali ini aku bertekat untuk tidak muntah lagi, aku harus merubah mereka atau aku harus terbiasa. Dan pilihan pertamaku adalah untuk mencoba terbiasa dulu sebelum aku bisa membuata mereka berubah. Terbiasa bau mereka dengan bantuan penolongku si minyak kayu putih.

Pelajaran pertama yang kami lakukan adalah membuat biodata. Dan hasil nya banyak dari mereka yang bernama aneh-aneh, pikirku begitu. Tapi ketika meraka disuruh memperkenalkan diri secara langsung. Cuma ada tiga dari enam belas siswa yang bisa menulis namanya dengan benar. Haah aku tidak percaya tapi ini nyata ternyata benar yang disiarkan di televisi tentang semua pendidikan yang ada di timur Indonesian ini. Menyedihkan siswa kelas empat SD masih tidak bisa menuliskan namanya sendiri. Akhirnya pelajaran kami kembali ke pelajaran kita anak Indonesia pada umumnya ketika kelas 1 SD, mengenal huruf dan mengeja kata.

Dengan PD-nya aku mengajarkan mereka tentang huruf dan membaca. Tapi apa? mereka terpelongo dan bingung dengan ucapanku. Masalah lagi, ternyata mereka tidak bisa memahami bahasa indonesia dengan baik. Aku coba berbahasa sesederhana dan sepelan mungkin, mereka mengangguk tapi tetap bingung dengan maksudku. Akhirnya aku pun jadi belajar bahasa indonesia ala mereka agar mereka bisa cepat mengerti apa yang kumaksud. Hari pertama aku mencoba berbahasa indonesia ala mereka, ricuh bocah sekelas itu menertawaiku habis-habisan dan berkata “ibu guru tidak bisakah bahasa indonesia yang benar”. Melihat mereka tertawa aku pun ikut tertawa.

Disini mengajar masih sering menggunakan kayu, ya seperti memperlakukan hewan. Dipukul bila tidak patuh. Hal ini membuat perintahku kadang diabaikan mereka karena kami tidak pandai menggunakan kayu untuk mengajari mereka. Kucoba memberi contoh dengan mengusir kambing yang lewat diteras sekolah dan ketika kambingnya tidak juga pergi aku memukulnya dengan kayu lalu aku mengumpamakannya kepada mereka dan menyampaikan apakah kalian mau disamakan dengan kambing atau bintang. Sontak mereka semua menjawab “tidak toh ibu guru, kami ini manusia tohh”. Dan ku katakan, jangan pernah membuat orang lain memukul kalian karena kalian bukan binatang.

Setelah lebih dari tiga bulan aku disini aku mulai merasakan perubahan pada mereka. Mereka bisa mendengarkan apa yang ku suruh. Sepuluh dari mereka pun sudah lancar membaca. Aku merasa senang dan berusaha mencari cara sederhana untuk membuat mereka mengerti apa yang ku ajarkan. Semoga keberadaanku disini memiliki arti bagi pendidikan dan semangat mereka.

 

SD YPPK SANTO YAKOBUS HONELAMA

WAMENA KABUPATEN JAYAWIJAYA PROVINSI PAPUA

Oleh Rika Maria Polina Ritonga, S.Pd (Pendidikan Sendratasik)             

SD YPPK Santo Yakobus Honelama adalah salah satu sekolah swasta yang ada di kota Wamena. Walaupun sekolah ini berada di dalam kota tetapi masih terbilang sekolah pinggiran karena letak sekolahnya yang berada dipinggiran kota. Untuk sampai ke sekolah ini, saya dan rekan bisa naik ojek ataupun becak yang dapat ditempuh sekitar 10 menit dari sekretariat SM3T. Tetapi kami lebih memilih berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki yang ditempuh selama 45 menit. Hal tersebut dikarenakan saya dan rekan ingin merasakan kebersamaan bersama siswa-siswi ketika hendak berangkat ke sekolah maupun pulang sekolah sehingga semakin mengakrabkan hubungan antara guru dan siswanya yang tidak pernah dilakukan oleh guru-guru SD YPPK Santo Yakobus Honelama karena kebanyakan guru-guru tinggal di rumah Dinas Sekolah yang berada di depan sekolah sedangkan guru lainnya berangkat dengan menaiki motor.

Guru SM3T yang ditugaskan di SD YPPK Santo Yakobus Honelama ini berjumlah dua orang yaitu Rika Maria Polina Ritonga (Pendidikan Sendratasik) dan Ivo Valentina Sihombing (Pendidikan fisika). Hal yang paling berkesan dihati saya berjumpa pertama sekali dengan siswa-siswi adalah ketika mereka mengucapkan salam sapa, seperti “selamat pagi ibu guru…selamat siang ibu guru…” ini adalah kata-kata yang sangat berkesan bagi saya. Mengapa berkesan? Karena ketika saya masih mengajar di kota Pekanbaru jarang sekali saya mendapatkan salam sapa seperti yang dilakukan oleh siswa-siswi di sekolah ini.

Saya dan rekan memang tidak menjadi wali kelas di sekolah tersebut tetapi kami mendapatkan kelas khusus yaitu dimana kepala sekolah membuka kelas honai yaitu kelas yang berada di dalam honai tetapi honai yang sudah modern yang atapnya terbuat dari seng, dan dindingnya terbuat dari kayu serta lantainya terbuat dari semen. Kelas honai adalah kelas yang dibuat untuk anak-anak atau siswa-siswi yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung. Ada sembilan jumlah kelas di sekolah ini dan hampir setiap kelas pasti ada anak-anak yang belum bisa membaca, menulis dan berhitung bahkan mengenal huruf pun tidak tahu.

 

Ketika saya menyuruh anak-anak untuk menyebutkan huruf dari A sampai Z secara berurutan rata-rata setiap anak mampu menyebutkannya. Tetapi ketika saya menunjuk huruf secara acak dan menyuruh siswa menyebutkan huruf apa yang saya tunjuk maka kebanyakan anak-anak bingung dan tidak tahu huruf tersebut. Mereka tidak tahu huruf apa yang saya tunjuk dikarenakan anak-anak hanya menghapal hurufnya saja tetapi tidak tahu tentang bentuk dari pada huruf itu sendiri. Terkadang saya sedih melihat itu semua akan tetapi ada hal-hal yang membuat saya senang dan bangga kepada mereka semua yaitu dimana semangat mereka untuk belajar itu tidak pernah pudar, dan tidak pernah lelah, walaupun jawaban yang mereka ucapkan salah mereka tetap semangat dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang saya berikan.

Ada juga cerita lain yang membuat saya terkadang tertawa mendengar perkataan anak-anak dan melihat sikap anak-anak. Contohnya setiap kali saya masuk ke dalam kelas untuk mengajar saya selalu mendengar pertanyaan seperti ini, “Ibu guru tulis?” dan itu bukan hanya pertanyaan satu siswa saja tetapi rata-rata semua siswa berkata demikian. Saya bingung ada apa dengan mereka dan mengapa mereka selalu bertanya tidak hanya bertanya seperti itu anak-anak juga sering sekali bertanya seperti “ibu guru masuk?” “ibu guru pulang?” padahal mereka sudah mendengar bunyi lonceng dan dapat melihat waktu sudah menunjukkan pukul berapa.

Besar harapan saya bahwa anak-anak di SD YPPK Santo Yakobus Honelama mereka semua menjadi anak-anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. Semoga dengan adanya saya dan rekan di sekolah ini membawa pengaruh yang baik bagi anak-anak khususnya pengetahuan tentang membaca, menulis dan berhitung. Bagi saya menjadi bagian dari mereka adalah suatu hal yang sangat indah. Bagi saya mengajar mereka adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan sampai kapan pun. Sebab saya sangat mencintai mereka dan saya tidak ingin kehilangan senyum mereka dan kepolosan mereka. Sampai hari ini saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan saya kesempatan untuk dapat mengajar di tanah papua khususnya di SD YPPK Santo Yakobus Honelama.

                                    Wamena, 14 Desember 2015

 

 

Riska Ariestine Sarita S, Pd

SD YPPGI Napua. Distrik Napua.

Kabupaten Jayawijaya, Wamena. Papua.

 

 

“ P.A.P.U.A... Entah kenapa, berada di sini masih seperti mimpi ??

“ Ahh.... rasanya terlalu banyak yang ingin ku ceritakan. Entah dari mana aku harus memulainya ??

 

 

WAMENA UNDERCOVER

 

Setelah 12 jam perjalanan dari Pekanbaru, akhirnya sampai juga kami di Wamena. Rasa lelah yang tadi kami rasakan dalam sekejap hilang begitu saja. Papua yang tadinya hanya bisa kami lihat di berita TV, sekarang tanahnya sudah kami pijak. Sejauh mata memandang, tempat ini hanya dikelilingi oleh pegunungan. Udaranya segar sekali. Hari pertama saja kami sudah di sambut oleh Suhu 8o Celcius.

Wamena itu berasal dari bahasa suku DANI, yang terdiri dari 2 suku kata, yaitu WAM yang berarti BABI dan ENA yang berarti Jinak. Jadi Wamena artinya adalah babi yang jinak. Seperti namanya, dimana saja bisa kita temui babi babi sedang berkeliaran. Baik itu di rumah, sekolah, pasar, maupun di jalan jalan raya. Karena itu kita harus sangat berhati hati.

Di wamena, babi merupakan hewan yang sangat penting. Babi biasa digunakan pada saat upacara adat, mahar, kematian, kelahiran, dan pembayaran denda adat. Harga babi disini bisa mencapai 30 – 40 juta per ekornya. Karena begitu pentingnya babi di sini, hewan ini sampai diberikan Honai dan perlakuan khusus.

Mayoritas penduduknya beragama Kristen (Nasrani), dan pekerjaannya adalah berkebun. Di wamena ini ada hari yang di sebut dengan hari Tuhan yaitu hari Minggu. Jadi semua bentuk ativitas di luar rumah pada hari minggu akan ditiadakan hingga jam 17.00 WIT. Hari tuhan merupakan suatu bentuk penghormatan agama Nasrani (Kristen) kepada tuhannya.

 

 

DISTRIK NAPUA

Setelah beberapa hari di Wamena, akhirnya di tetapkanlah tempat bertugas guru-guru SM3T angkatan V. Menurut Surat Keputusan dari Dinas Pendidikan Wamena, saya di tempatkan di SD YPPGI NAPUA Distrik Napua bersama teman saya Welni Acnes yang berasal dari Medan.

Hari pertama agenda kami hanya perkenalan dengan guru – guru dan siswa siswi SD YPPGI Napua. Setelah itu rapat untuk menentukan di kelas berapa kami mengajar. Keputusan akhirnya di tentukan, saya akan mengajar di kelas 2. Tapi karena di SD YPPGI Napua banyak kekurangan guru, terkadang kami harus mengajarkan kelas rangkap. Jumlah siswa di distrik Napua lebih banyak di bandingkan distrik distrik lain nya.

Sekolah di papua tidak seperti sekolah di indonesia bagian barat pada umumnya. Kebanyakan siswa siswi di papua hanya bersekolah pada hari senin – jumat. Banyak siswa yang meminta izin untuk tidak masuk di hari sabtu karena membantu orang tuanya berkebun.

Hari pertama saya masuk ke kelas, banyak siswa siswi yang tidak menggunakan seragam sekolah, kaki beralas lumpur, ingus yang berserakan di pipi, dan bau yang menyengat. Inilah tugas saya di hari pertama. Setiap hari saya harus mengingatkan mereka untuk membuang ingus, lalu seminggu 2 x saya akan melakukan pemeriksaan kuku, dan sebelum masuk kelas harus mencuci kaki. Karena kebersihan merupakan bagian yang amat penting. Jika lebih bersih maka pembelajaran pun akan lebih mudah di terima.

 

Kegiatan yang biasa kami lakukan di sekolah selain belajar adalah bermain. Permainan yang biasa kami mainkan adalah anjing tangkap kucing dan marina menari di atas menara. Setelah itu di lanjutkan dengan menyanyi bersama.

Anak anak papua sangat senang menyanyi. Lagu yang biasa kami nyanyikan sebelum dan setelah belajar biasanya adalah happy ye happy ya, dua orang bersaudara, pergilah cepatlah, 7 hari, domba kecil, dan banyak lagi. Lagu lagu tersebut merupakan lagu yang biasa mereka nyanyikan di sekolah minggu.

Di hari sabtu biasanya kami tidak melakukan pembelajaran. Di karenakan siswa yang datang ke sekolah sangat sedikit. Kegiatan belajar di kelas di ganti dengan belajar di luar kelas, seperti peraturan baris berbaris dan kerja bakti membersihkan halaman sekolah. Kadang kadang kami melakukan latihan upacara bendera dan senam pagi.

 

Selain mengajar kami juga bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Kami sangat senang mendengar bahwa di distrik Napua terdapat beberapa kebun Strwaberry dan Air terjun. Terkadang kami juga di undang ke acara bakar batu.

 

“ Papua itu rumah. Bagaimana bisa aku tidak rindu ? “

Terima kasih SM3T. Terima kasih PAPUA

 

 

MASIH BANYAK YANG HARUS SAYA LAKUKAN DI SINI

Oleh Riska Linawati

 

Saya Riska Linawati. Bertugas di SD YPPK St. Matius Yiwika. Sekolah ini menjadi tempat saya mengabdikan diri sebagai seorang guru. Sekolah ini memiliki 147 siswa dengan tujuh rombongan belajar. Di sekolah, saya mengajar bidang studi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris untuk kelas IV, V dan VI. Selain itu, sya juga ditugaskan oleh kepala sekolah untuk menjadi wali kelas dikelas IV.

Selama empat bulan menjalankan tugas, saya mendapat pengalaman-pengalaman yang menakjubkan, terkhusus pengalaman mengajar. Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan di daerah Wamena ini, terlebih di distrik-distrik, keadaannya sangat menyedihkan. Hal ini ditunjukkan dengan keadaan dimana begitu banyak anak-anak usia sekolah dasar yang belum bisa membaca dengan lancar, bahkan banyak dari mereka juga belum mengenal 26 abjad dalam bahasa Indonesia. Tidak hanya itu, fenomena ini juga ditemukan pada siswa-siswa sekolah menengah. Ini fakta. Inilah kenyataan yang ada di lapangan. Selain itu, tingkat ketidakhadiran guru yang begitu tinggi juga menjadi salah satu masalah serius yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di sini. Dalam hal ini, saya dan teman-teman lain tidak dapat berbuat banyak. Masalah ini lebih baik diserahkan kepada pihak dinas dan pemerintahan terkait, karena kami guru-guru bantu ini tidak memiliki hak untuk mengatur hal tersebut.

Masalah yang saya kemukakan sebelumnya hanyalah sebagian kecil dari begitu kompleksnya permasalahan pendidikan yang ada di daerah ini, terutama di tempat saya mengajar, termasuk masalah keamanan lingkungan tempat tinggal. Namun, masalah dan hambatan yang ada tidak menyurutkan niat saya untuk membantu anak-anak melihat bahawa ada banyak hal besar yang harus mereka ketahui selain situasi dan kondisi kampung tempat mereka hidup. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, masalah utama hampir di semua wilayah ini adalah kemampuan baca, tulis dan hitung (calistung) yang masih rendah, termasuk di sekolah tempat saya mengajar. Keadaan ini tentu saja menyulitkan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan calistung para siswa menjadi fokus utama.

Ketika awal September, pertama kali saya sampai di daerah tugas saya ini, dari 58 siswa kelas IV, V dan VI yang saya ajar, hanya terdapat 15 orang siswa yang dapat membaca dengan lancar. Selebihnya, masih mengeja, belum bisa mengeja, belum bisa menuliskan huruf, bahkan belum mengenal huruf. Disamping hal tersebut, ada banyak anak yang begitu malas untuk hadir ke sekolah. Tak heran, banyak pula dari mereka yang tak dapat membaca, menulis dan berhitung. Namun saat ini, anak-anak sudah mulai berubah lebih baik. Dengan usaha, perhatian dan motivasi yang diberikan kepada siswa, mereka kini menunjukkan kemauan untuk belajar yang lebih tinggi. Malah pernah dalam banyak pertemuan, mereka tetap meminta saya melanjutkan pelajaran walaupun jam pelajaran sudah habis. Saya bahagia ketika mereka meminta saya untuk tetap mengajar. Sedikit demi sedikit mereka mulai tahu huruf, mengeja dua huruf, tiga huruf, empat huruf, dua suku kata, tiga suku kata dan empat suku kata, hingga saat ini kami sudah mulai membaca cerita-cerita rakyat yang ada dalam buku bacaan. Kemudian, dalam pelajaran bahasa Inggris, pelajaran ini baru untuk mereka. Mereka baru mendapat pelajaran ini dan mereka sangat exited. Senang sekaligus terharu rasanya ketika mendengar mereka mengucapkan good morning, good afternoon, thank you, thanks, you’re welcome, bye dengan seutas senyum perasaan bangganya itu.

Selain kemampuan membaca mereka yang semakin membaik, tingkat ketidakhadiran mereka ke sekolah pun menurun drastis. Sebagai seorang wali kelas, sudah menjadi tugas saya untuk selalu memonitor perkembangan belajar dan perilaku mereka. Pada awal saya mengajar, bukan hal yang aneh ketika satu orang siswa tidak hadir selama empat atau lima hari dalam seminggu. Dengan kesabaran, perhatian dan motivasi yang diberikan, mereka mulai menyadari bahwa mereka memang wajib belajar ke sekolah setiap pagi, tidak boleh tidak, kecuali sakit atau ada hal sangat penting yang harus dilakukan. Komitmen untuk mendidik mereka juga ditunjukkan dengan bepergiannya saya dan seorang guru ke rumah seorang siswa saya yang sudah seminggu tidak masuk sekolah tanpa kabar yang pasti. Kami menempuj jarak lima kilometer pada saat itu. Tapi itu tak masalah, karena kami memang sangat ingin semua anak punya pemikiran bahwa sekolah itu penting! Sekarang, siswa-siswa yang sangat sering tidak masuk sekolah, menjadi begitu rajin ke sekolah. Bisa dikatan kini mereka hadir hampir setiap hari ke sekolah. Kemudian, mereka juga mulai bertanggungjawab untuk mengerjakan tugas-tugas dan pekerjaan rumah yang diberikan, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar sekolah.

Walaupun demikian, sebagai guru, masih banyak hal yang harus saya dan teman saya lakukan di sekolah ini. Waktu delapan bulan yang tersisa ini akan dan harus kami gunakan dengan sangat baik. Semoga pengabdian ini memberi perubahan baik yang berarti bagi anak-anak kami di SD YPPK St. Matius Yiwika ini.

 

 

Yiwika, 14 Desember 2015

 

 

MENDIDIK GENERASI EMAS DI PELOSOK NEGERI

oleh: SANTI EKA PUTRI

 

            Tangisan orang tuaku yang melepaskan aku ke tanah Papua ini, walau berat hati meninggalkan mereka tetapi ini harus ku jalani, demi tujuan dan cita-cita yang kuinginkan. Sesampainya di tanah Papua hati ini sungguh terkagum-kagum melihat keindahan Negeri ini, satu kata “Waw” yang bisa kuucapkan. Aku ditempatkan di SD YPPK Santo Matheus Yiwika, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua sekitar 35 menit ke kota Wamena. Awal penempatan disana aku bersama teman ku tinggal di Susteran samping sekolah, didampingi oleh Bapak-bapak dari Dinas Pendidikan dan teman-teman. Disini sungguh menyenangkan karena kami disambut oleh suster dan beberapa anak-anak asrama, mereka sangat ramah sehingga memberikan harapan baik buat aku untuk kedepannya.

            Hampir satu bulan kami tinggal di susteran kemudian kami pindah ke rumah dekat SMP bersama teman-teman SM-3T yang mengajar di SMP dan SMA. Setiap pagi kami berjalan kaki ke sekolah sekitar 15 menit. Di perjalanan kami melewati puskesmas, Pos tentara, kantor Distrik, dan Koramil karena kami tinggal tepat di kecamatan. Sesampainya di sekolah kami selalu disambut dengan senyuman anak-anak yang tulus sambil menyapa           “ Selamat pagi ibu guru” di setiap harinya, walaupun dengan baju yang lusuh, tidak pakai sendal, ingus yang mengalir, serta bau khas yang tercium setiap harinya.

            Di sekolah kami ada sebelas guru, karena guru disana sudah cukup untuk menjadi wali kelas jadi aku dipercayakan menjadi guru bidang studi IPA ( Ilmu pengetahuan Alam ) kelas IV, V, dan VI. Saat pertama kali mengajar aku bingung karena anak-anak banyak yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan menulis namanya sendiripun tidak bisa. Saat itu aku berpikir dan mencari cara bagaimana caranya supaya mereka bisa membaca, menulis, dan berhitung, dengan pembelajaran yang menyenangkan. Aku bingung harus memulai dari mana, dan aku harus mengajarkan mereka mulai dari abjad.

Setiap mengajar aku selalu berusaha memberikan motivasi agar mereka rajin belajar dan semangat ke sekolah. Alhasil masih banyak anak-anak yang bolos dan tidak datang ke sekolah. Saat proses pembelajaran berlangsung pun mereka selalu ribut dan suka mengganggu teman di sebelahnya. Bagaimanapun aku harus sabar menghadapi mereka. Keadaan inilah yang kulalui setiap harinya.

Walaupun mereka nakal tetapi keingintahuan mereka sangat tinggi, dan mereka juga menyayangi gurunya. Kami diajak ke kampung sebelah untuk mencari ikan di kolamnya, dikasih noken, sesekali mereka ngantarkan ikan, sayur, hipere ke rumah. Aku sangat menyayangi mereka. Terkadang mereka meminta pelajaran tambahan, maka kami mengadakan les di rumah dari hari senin sampai kamis. Mereka sangat antusias dan bersemangat datang dibandingkan datang ke sekolah setiap harinya.

Setelah hampir satu bulan tinggal di SMP akhirnya kami pindah rumah lagi ke perpustakaan sekolah. Disini sungguh sepi, Cuma ada rumah kepala sekolah tepat di depan sekolah. Kemudian terjadilah hal yang tidak diinginkan, rumah kami dimasuki maling ketika kami berada di kota. Mereka masuk lewat plavon dan mengacak-acak rumah. Mereka makan, mengacak-acak koper, dan mencuri sebagian barang-barang seperti flashdisk, modem, uang, charger HP, handset, pisau, dll. Aku tidak bisa berkata-kata, sungguh shock dengan kejadian ini. Tidak habis pikir mengapa mereka mencuri padahal kami datang kesini untuk mengajar dan mendidik mereka.

Setelah kejadian itu kami meminta tolong kepada salah seorang guru yang mengajar di SMP (SM-3T angkatan IV) untuk menemani kami di perpustakan sekolah, sesekali kami menginap di asrama kesusteran. Sabtu pagi kami pulang ke rumah, aku shock untuk kedua kalinya, rumah kami dimasuki maling lagi. Mereka masuk lewat jendela, bahkan mereka sempat memasak telur dan menulis, serta menggambar aneh-aneh. Di saat itu aku shock untuk kedua kalinya, tidak habis pikir, bertanya-tanya tidak tau mau berbuat apa. Tetapi hari itu aku masih mengajar meskipun hati tidak tenang. Sepulangnya dari sekolah kami memperbaiki jendela dibantu oleh anak-anak, kemudian kami bersiap-siap berangkat ke kota untuk rapat bulanan.

Minggu pagi kami mendapat telepon dari kepala sekolah bahwa rumah kami dimasuki maling untuk ketiga kalinya. Hati ini sungguh kesal, marah, dan perasaan campur aduk. Mereka mencuri sepatu, sendal, beras, rice cooker, bawang, minyak goreng, dll. Kali ini mereka masuk lewat pintu. Sore harinya kami langsung ke sekolah, kami mengemasi semua barang-barang untuk dibawa ke kota. Sungguh menyedihkan.

Beberapa hari setelah itu kami diminta hadir untuk pertemuan dengan maling, karena malingnya sudah ditangkap. Rapat dihadiri oleh kepala sekolah, guru-guru, pater, komite sekolah, orang tua maling, 2 orang maling, dan aku juga turut serta dalam rapat itu. Hati ini sungguh tidak bisa berkata-kata, aku melihat mereka dengan tubuh yang kecil, kusam, ingusan, diam beribu bahasa, ternyata merekamereka siswa SMP. Perasaan ini sangat kesal, marah dan sesekali aku lihat orang tua mereka, perasaan ku sangat sedih, takut, dan aku memutuskan untuk diam. Kalau diminta untuk berbicara baru mulut ini bisa bergerak. Setelah rapat diputuskan bahwa orang tua mereka harus ganti rugi sebanyak kerugian yang kami alami, serta bayar denda.

Aku tidak menginginkan seberapa uang yang mereka bayar, yang ku inginkan mereka menghargai kami berada disini. Maksud hati untuk mengajar, mendidik tetapi masih ada juga yang berniat jahat terhadap kami. Masalah ini sudah kami laporkan ke dinas, entah kami masih mengajar disini atau dipindahkan ke sekolah lain karena kesepakatannya jika terjadi kemalingan (tidak aman) maka kami dipindahkan. Aku tidak berharap untuk dipindahkan karena sudah sangat sayang kepada anak-anak disini. Setelah tiga bulan mengajar banyak perubahan yang ku lihat dan ku alami, kehadiran mereka sudah hampir 100% bahkan 100%, sudah banyak anak-anak yang bisa membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan sikap mereka pun sudah jauh lebih sopan dan lebih baik dari sebelumnya. Semoga kehadiranku disini bisa mengubah tingkah laku dan meningkatkan mutu pendidikan, khususnya di SD YPPK Santo Matheus Yiwika ini. Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.

 

 

SD INPRES ISAIMA, DISTRIK KURULU

oleh Elvi Sri Rizkiyani

 

Ketanah Papua tidak lagi hanya cerita, tidak lagi hanya mimpi atau angan- angan semata. Melalui program SM-3T kini saya bisa menginjakkan kaki di tanah Papua. Tanah yang memiliki banyak keindahan yang sangat luar biasa. Ditanah Papua saya akan mengabdi selama 1 tahun, mengabdikan diri untuk mendidik anak- anak di timur Indonesia, Tanah Papua Kabupaten Jayawiya Kota Wamena adalah menjadi daerah sasaran saya.

Tanggal 23 Agustus 2015 saya dan rombongan berangkat ke Tanah Papua dan tiba di Tanah Papua tanggal 24 Agustus 2015. Sampainya di Tanah Papua saya dan rombongan di sambut hangat oleh pemda setempat. Setiba disana tak sabar rasanya saya ingin mendengar dimana akan ditempatkan untuk mendidik, namun kami masih menunggu keputusan dari Dinas Pendidikan kapan kami akan di tempatkan. Tepat pada tanggal 28 Agustus 2015 membagian lokasi diberitahukan oleh pihak Dinas saya Elvi Sri RIzkiyani S.Pd mendapatkan lokasi di SD Inpres Isaima, lokasi yang berada di jalur 2 Distrik Kurulu, yang berjarak sekitar 48Km dari Kota Wamena, di SD tersebut mendapat 2 orang guru bantu yaitu saya dan rekan saya Ema Yuliani.

Tanggal 1 september 2015 kami di antar oleh pihak dinas ke lokasi sasaran, setibanya di sekolah kami di sambut dengan kepala sekolah SD Inpres Isaima. Kami disediakan tempat tinggal yang ada di dalam lingkungan sekolah. Saya hanya diam saat melihat kondisi rumah yang akan menjadi tempat tinggal saya selama 1 tahun di Kota Wamena, bukan karena rumahnya jelek, tetapi karena rumahnya jauh dari warga dan juga sepi, walau begitu saya tetap bersyukur karena penempatan saya tepat di pinggir jalan raya, listrik sudah ada, dan jaringan/ sinyal juga ada, wc di dalam rumah, hanya saja harus mengangkat air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Belum terobati rasa susah tersebut sebelum melihat anak-anak Papua. Esok harinya kami ke sekolah, dan berkenalan dengan guru dan juga murid-murid SD Inpres Isaima. Di Sekolah tersebut hanya ada 3 guru yaitu Kepala sekolah, guru kelas dan juga penjaga sekolah. Selama ini sebelum ada guru bantu hanya mereka bertiga yang mengajar dan mereka mengajar kelas rangkap. Saya mendapat tugas untuk mengajar di kelas V (lima) dan saya menjadi wali kelas disana. Murid saya berjumlah 14 orang laki-laki 9 orang dan perempuan 6 orang. Prihatin dan sedih rasanya saya melihat anak-anak disini, sudah kelas V (lima) masih banyak yang belum bisa membaca, dari 14 orang siswa ada 7 orang yang belum bisa membaca. Untuk membantu supaya mereka bisa cepat membaca saya mengadakan les setiap hari di rumah. Anak-anak sangat senang karena telah ada guru di sekolah, selama ini ada guru tetapi jarang masuk sekolah dalam 1 bulan belum tentu dia akan hadir ke sekolah, dengan adanya kami disini kami selalu mengajak anak-anak untuk rajin sekolah, mereka masih banyak yang belum mengenal jam, jam mereka masih ditentukan dengan matahari, jadi kalau masuk sekolah jam 08.00 pagi bisa saja mundur jadi jam 09.00 atau lebih.

Nakal itu pasti sama dengan halnya anak-anak dari daerah barat Indonesia, Setiap hari ada saja kenalan yang dilakukan mereka. Terkadang mereka selalu bilang kalau mereka malas belajar, ngantuk, lapar, bosan mau pulang. Setiap mengajar saya selalu berusaha memberikan motivasi agar mereka rajin belajar dan semangat ke sekolah. Tetapi masih banyak anak-anak yang bolos dan tidak datang ke sekolah. Saat proses pembelajaran berlangsung pun mereka selalu ribut dan suka mengganggu teman di sebelahnya. Walau begitu saya harus tetap sabar menghadapi mereka. Keadaan inilah yang saya lalui setiap harinya. Walaupun mereka nakal tapi mereka selalu menyayangi gurunya. Kenakalan kecil seperti itu membuat saya rindu untuk masuk kelas meraka, karena setiap hari mereka memiliki perangai yang berbeda- beda.

Sepulang sekolah biasanya anak-anak selalu membantu kami untuk mengangkat air dari mata air yang jarak tempuhnya kurang lebih 15menit dengan berjalan kaki, mereka senang dan tidak merasa keberatan membantu ibu gurunya menimba air. Mereka juga sering membawakan kami sayuran, hipere terkadang ikanpun mereka sering bawa untuk kami.

Satu bulan belum berakhir disini, kami mengira kami sudah merasa aman karena kami juga sudah mulai berbaur dengan masyarakat disini, tetapi kenyataan berkata lain, tepat pada hari minggu tanggal 27 bulan september 2015 pukul 14.30 sore, rumah yang kami diami di masuki oleh maling, dan pada saat itu kami sedang berada di dalam kamar dan penjaga sekolah sedang tidak ada di tempat karena beliau sedang menghadiri acara di gereja. Kami ketakutan bukan main, rumah warga jauh dari tempat kami tinggal, dan tidak ada orang yang dapat kami mintai tolong pada saat itu, kami kunci pintu kamar dan kami berusaha menelepon bapak kepala sekolah untuk meminta pertolongan, naasnya bapak kepala sekolah tidak tinggal dekat sekolah bapak kepala sekolah tinggal di kota, kami nangis ketakutan didalam kamar karena tidak ada yang bisa menolong kami saat itu. Kami mencoba menelepon kepala suku yang ada di kampung ini, tetapi no. Hp beliau tidak aktif. Kami hanya diam mengurung diri di kamar, tidak berapa lama kemudian maling tersebut berhasil masuk rumah kami, dan dia mengedor- gedor pintu kamar kami, kami semakin panik dan cemas takut kalau kami akan di bunuh oleh maling itu “hehe parnok y”. Maling tersebut terus berusaha untuk dapat masuk kamar kami dan menyuruh kami untuk membuka pintu dan menyerahkan hp kami. Kami tetap berusaha bertahan di dalam kamar dan tidak membuka pintu kamar kami, dan tidak berapa lama kemudian kepala sekolah kami menelepon dan mengatakan kalau kepala suku akan datang ke sekolah ke rumah kami, karena mendengar kepala suku akan datang, dia merasa takut dan akhirnya dia pergi keluar dari rumah kami. Alhamdulillah tidak ada barang berharga yang diambilnya hanya saja pisau dapur kami yang dibawanya.

Dari kejadian itu kami merasa takut kalau di rumah hanya berdua saja., dan kepala sekolah selalu mewanti- wanti kepada kepala suku dan penjaga sekolah untuk extra hati-hati dan menjaga benar-benar kami disini.

Tiga bulan lebih disini dan setelah kejadian itu tidak ada lagi kejadian-kejadian aneh yang membuat kami takut, dan semoga pengabdian saya kedepannya tidak ada masalah dan lancar. Aamiin....

Salam MBMI

 

CERITA DARI BUK GURU SITI AMINAH

 

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan atau penelitian. Pentingnya pendidikan bagi manusia adalah untuk menjadikan manusia yang leih baik dan berkarakter. Sekolah merupakan tempat kedua pendidikan peserta didik setelah keluarga yang dilakukan melalui mata pelajaran. Guru adalah salah satu penunjang dalan dunia pendidikan. Guru yang berkualitas dan yang berkompeten akan menciptakan peserta didik yang kompeten pula tentunya didukung oleh sarana dan prasanan yang memadai. Namun, tidak semua daerah dapat merasakan pemerataan pendidikan dengan prasarana yang memadai dan guru yang cukup. Masih banyak wilayah-wilayah di negara Indonesia ini yang kekurangan guru salah satunya di propinsi Papua.

SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal) adalah salah satu program pemerintah dalam mengatasi kekurangan guru khususnya untuk daerah dimana masih banyak sekolah-sekolah yang kekurangan guru sehingga proses belajar mengajar tidak terlaksana secara optimal. Saya adalah salah satu peserta SM3T yang ditugaskan untuk mengabdi di propinsi Papua kabupaten Jayawijaya tepatnya di distrik Walesi. MI Merasugun Asso Walesi adalah nama sekolah tempat dimana saya mengajar. Saya mengajar di kelas IV. Hari pertama saya mengajar saya mulai mengenal siswa-siswi saya dengan menyuruh mereka memperkenalkan diri dan cita-cita mereka.

Pada minggu pertama saya mengajar saya merasa lain dan saya bingung , setiap akhir pelajaran saya memberikan pertanyaan dan tugas kepada anak-anak tetapi mereka tidak bisa menjawab dan menyelesaikan tugas dengan baik. Setiap kali saya menyuruh mereka untuk membaca mereka diam. Setelah saya perhatikan dan melakukan pendekatan ternyata masih banyak diantara mereka yang belum bisa membaca dan menulis. Itu adalah penyebab mengapa pelajaran yang saya ajarkan mereka tidak memahaminya, selain mereka belum bisa membaca juga terkendala oleh bahasa. Bahkan sudah beberapa kali dijelaskan mereka masih belum mengerti. Selama ini apabila ada anak yang belum bisa membaca tidak terlalu diperhatikan dan tidak diberi perhatian khusus sehingga anak-anak yang tidak bisa membaca dan menulis mereka jadi tidak bersemangat belajar dan menjadi malas ke sekolah karena hanya duduk dan diam saja di kelas sehingga motivasi belajarnya menjadi hilang. Akhirnya setelah saya mengetahui kemampuan setiap anak saya membagi mereka kedalam 2 kelompok yaitu kelompok membaca dan menulis. Di mana setiap kelompok akan dibimbing dalam latihan membaca maupun menulis kegiatan ini tidak hanya dilakukan waktu jam sekolah saja tetapi saya meminta kepada mereka untuk belajar sore dan belajar malam. Dengan adanya kelompok membaca dan menulis ini mereka menjadi lebih semangat dan lebih rajin membaca dan menulis. Kegiatan ini sudah berjalan 2 bulan lebih dan hasilnya sudah mulai terlihat dari mereka sudah rajin ke sekolah dan semangat dalam belajar. Kegiatan ini akan terus saya laksanakan agar mereka bisa lancar membaca dan menulis sehingga apa yang mereka cita-citakan dan yang diimpikan dapat terwujud.

 

 

SURGA KECIL DI JAYAWIJAYA

oleh : SYAIFUL ANSHAR

SMP N WALELAGAMA

 

Bagaikan sebuah mimpi saya bisa menginjakkan kaki di tanah Papua. Keluar dari pulau Sumatera saja suatu hal yang sangat mustahil bagiku dulu, apalagi bisa sampai ke tanah Papua di ujung timur Indonesia.

Mengikuti salah satu program pemerintah yaitu SM-3T telah mengantarkan saya hingga ke tanah impian ini. Memang kami bukanlah yang pertama, melainkan ada dua angkatan sebelumnya yang sudah mendarat di tanah ini, tepatnya di jantung Papua Kabupaten Jayawijaya.

Berbekalkan sekantong harapan untuk mencerdaskan anak bangsa kami bertolak dari Pekanbaru menuju bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Ada sedikit kekecewaan di awal keberangkatan kami, pasalnya keberangkatan kami harus ditunda selama dua hari. Akhir bulan Agustus tahun 2015 tepatnya tanggal 23 pagi kami sampai di bandar udara Wamena. Sungguh suatu kebanggaan yang sangat besar bisa menginjakkan kaki di tanah Papua dengan beban dan tanggung jawab mulia untuk mendidik anak-anak di pedalaman Papua.

Setelah sampai di kabupaten Jayawijaya, tepatnya di kota Wamena kami tidak langsung ditugaskan ke sekolah-sekolah melainkan kami istirahat di penginapan Silimo Siloam, sebuah penginapan yang tidak terlalu jauh dari bandara. Lebih kurang satu minggu lamanya kami menunggu keputusan dinas terkait lokasi penempatan kami, setelah diumumkan masing-masing kepala sekolah sudah membuat janji dengan kami kapan mau dijemput ke sekolah masing-masing, sementara dijemput kami menunggu di sekretariat yang telah disiapkan oleh pemerintah daerah di kota Wamena.

Saya ditempatkan di SMPN Walelagama distrik Walelagama, salah satu tempat yang menurut kami merupakan surganya Jayawijaya, bersama salah seorang rekan SM-3T yaitu Gunarto Tampubolon, yang sangat akrab dipanggil Pak Igun. Saya sendiri ditugaskan mengajar mata pelajaran IPA Terpadu dan Pak Igun mengajar Bahasa Indonesia sesuai dengan jurusan kami masing-masing.

Satu minggu pertama setelah pengumuman lokasi penempatan, sebagian besar teman-teman sudah dijemput oleh kepala sekolahnya masing-masing, sementara kami masih menunggu konfirmasi dari kepala sekolah karena beliau bilang belum ada persiapan dan kepastian untuk tempat tinggal kami di sekolah ataukah di Puskesmas Distrik.

Memasuki minggu kedua, saya dan Pak Igun masih belum mendapat kepastian dari Kepala Sekolah. Sementara teman-teman kami semuanya sudah berada di sekolah tempatan masing-masing, hanya tinggal kami berdua tang belum jelas nasibnya. Akhirnya memasuki akhir minggu ke dua saya dan Pak Igun memberanikan diri untuk berangkat langsung ke SMPN Walelagama tempat dimana kami ditugaskan berharap bisa mendapatkan kepastian dari kepala sekolah.

Lokasi yang jauh dibalik bukit dan minim sekali transportasi mengharuskan kami berjalan kaki sejauh + 2 km dari pangkalan taksi (sebutan untuk angkutan umum). Namun kenyataannya, kedatangan kami ke sekolah tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Kepala sekolah justru tidak ada di tempat, hanya ada beberapa guru defenitif dan dua orang guru garis depan (GGD). Akhirnya kamipun kembali turun ke kota dengan perasaan kecewa.

Setelah berkali-kali diskusi dengan pihak dinas akhirnya kami di instruksikan untuk langsung saja mengajar ke sekolah, namun masih naik turun setiap hari ke kota. Beberapa hari berikutnya barulah diusulkan oleh guru GGD ke kepala sekolah agar kami tinggal di kantor guru saja dan membelikan kami peralatan tidur dan peralatan dapur. Hari berikutnya kami sudah mulai tinggal di sekolah dan mengajar sebagaimana mestinya setelah 3 minggu lamanya kami menunggu kepastian.

Saya ditugaskan untuk mengajar IPA Terpadu di kelas VII sampai kelas IX, mengajar TIK di kelas VIII dan kelas IX dari hari Senin sampai Kamis, selain itu saya juga di amanahkan sebagai operator sekolah dan pelatih Pramuka setiap hari Sabtu.

Kegiatan kami di sekolah berjalan lancar sebagaimana biasanya, siswa-siswi yang sekolah disini tergolong patuh dan pandai menghormati guru. Mereka terdiri dari 21 orang kelas VIIa, 23 orang kelas VIIb, 27 orang kelas VIII dan 27 orang kelas IX.

Tenaga pendidik tetap di sekolah ini berjumlah enam orang, ditambah dua orang guru GGD dan dua orang guru SM-3T. Yang membuat saya sedih adalah kurangnya kesadaran dari beberapa orang guru tetap akan tugas mereka di sekolah, mereka jarang ke sekolah sehingga akibatnya kebanyakan dari anak-anak tidak belajar. Namun secara keseluruhan saya dan Pak Igun sangat menikmati bertugas di SMPN Walelagama ini, selain karena pemandangannya yang bagus, masyarakatnya yang ramah juga karena siswa-siswi yang memiliki semangat untuk belajar dengan kami.

 

PENGABDIANKU

OLEH TAUFIQURRAHMAN

Papua, pegunungan tengah jayawijaya wamena. Papua di kenal dengan julukan bumi cendrawasih yang terdiri dari beragam keindahan alam yang menakjubkan. Selain keindahan alam yang menakjubkan. Di papua khususnya di daerah pegunungan tengah, masyarakatnya di kenal dengan keramah tamahannya terhadap orang lain terutama seorang Guru. Selain itu masyarakat pribumi di kenal dengan hasil karya kerajinan tangan yang kreatif yaitu NOKEN. Pertama kali saya menginjakkan kaki di bumi cendrawasih Papua hanya satu kata yang terucap (menakjubkan) sesuai dengan lirick Tanah papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi.

Sebelumnya perkenalkan nama saya Taufiqurrahman. Saya berasal dari LPTK UR SM3T angakatan V. di pegunungan tengah jayawijayah wamena kami terdiri dari 54 orang. Khususnya saya sendiri mendapatkan penempatan di daerah Sogokmo. Sogokmo menurut saya merupakan suatu daerah yang termasuk kedalam 3T yaitu terluar karena berbatasan langsung dengan kabupaten tetangga yaitu desa kurima. Sesampainya di sogokmo luar biasa penyambutan dari masyarakat mama-mama dan papa-papa luar biasa terhadap seorang guru. (karena mereka sudah mengetahui seberapa pentingnya seorang guru bagi masa depan anaknya) dan selain itu luar biasa udara dingin yang menusuk langsung ke tulang-tulang sendi, yaitu dengan julukan angin kurima yang luar biasa dinginya seperti tinggal di korea saja. He..he... Hari pertama saya dikenalkan dengan guru-guru dan murid-murid SD Inpres Sogokmo, luar biasa penyambutannya di luar prediksi saya. Mereka antusias dan tidak lupa dengan cirikhasnya senyuman papua.

Di SD Inpres Sogokmo saya di tugaskan sebagai wali kelas tepatnya kelas V setelah beberapa minggu saya jalani, sudah keliatan semangat dan keinginan untuk belajar dari murid-murid ada juga sebagian murid yang tinggal di perbukitan sebelah yang menempuh perjalanan 2 jam untuk ke sekolah tanpa menggunakan alas kaki yaitu kaki ayam, Subahanallah luar biasa keinginannya untuk belajar. Tapi ada satu hal yang saya harus bekerja lebih ekstra karena disini terutama SD lebih fokus ke Calistung. Kebanyakan anak yang sudah kelas atas IV, V, VI masi membaca terbantah bantah berbeda jauh dengan kita yang tinggal di pulau jawa dan Sumatra jadi saya memberikan jam tambahan kepada anak-anak tersebut seperti les soreh yang saya adakan 3 x seminngu (karna kalau dipaksakan tiap hari pasti membosankan bagi anak-anak, mereka masi tidak lepas dari masa-masa bermainnya)

Selain kegiatan disekolah,saya juga bersosialisasi dg masyarakat yaitu ikut serta dalam acara tradisi bakar batu dalam rangka peletakan batu pertama gereja dan dg bersilaturahmi mengunjungi rumah warga, saya juga mendapatkan pengalaman luar biasa yaitu tidur di HONAI kepala kampung, dan satu hal yang paling saya syukuri yaitu adanya MASJID di tempat pengabdianku, lebih kurang 4 KM yang dapat di tempuh dengan berjalan kaki, dan sebagai minoritas disini saya juga di hargai dan di hormati. Subahannallah pengalaman yang luar biasa dan langkah dalam kehidupan saya.

WA……WA….WA…                       WA….WA….WA…….

 

KARENA PAPUA JUGA INDONESIA

By: Wawan Suroso

 

Adalah Papua, pulau yang di anugerahi Sang Pencipta dengan berbagai kekayaan alam yang dikandungnya. Kekayaan yang jumlahnya tak ternilai. Keindahan alam bagaikan surga kecil jatuh ke bumi. Berbagai jenis flora tumbuh subur di tanah leluhur ini. Orang menyebut Papua adalah paru-paru dunia. Kebudayaan yang dimiliki Negeri Mutiara Hitam pun berbeda dengan kebudayaan yang ada di penjuru tanah air. Namun, sangat disayangkan, di Negeri sekaya Papua pendidikan masih jauh tertinggal.

 

Banyak siswa/i yang tidak memakai seragam dan sepatu saat sekolah, dan banyak siswa yang kemampuan baca, tulis, dan hitung masih kurang. Padahal dong hidup di pulau yang kaya, to. Sa pu kakak pasti miris melihat keadaan ini, kawan. Dengan keadaan yang demikan, Alhamdulillah telah ada upaya nyata dari pemerintah pusat dan pemerintah setempat agar pendidikan di Papua mampu beraada di posisi paling tidak setara dengan daerah lain, yaitu dengan adanya Program SM-3T. Merupakan program yang sangat mempedulikan pendidikan di Papua, karena Papua juga Indonesia. Keadaan seperti itulah yang saya (sebagai guru SM-3T) alami di SD Inpres Sogokmo, dan saya yakin di sekolah-sekolah lain juga mengalami keadaan yang sama.

 

Saya ditugaskan menjadi guru kelas IV, kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) di SD Inpres Sogokmo dilaksanakan lima hari dalam seminggu, yaitu hari Senin sampai dengan hari Jumat. Setiap hari Senin dilaksanakan Upacara Pengibaran Bendera, dan di hari Jumat dilaksanakan Senam Pagi. KBM tidak hanya dilakukan di dalam kelas, terkadang juga dilakukan di luar kelas, ini bertujuan agar siswa tidak jenuh. Saya juga mengadakan bimbingan belajar atau les yang dilaksanakan tiga hari selama seminggu, bimbingan belajar ini tidak dikhususkan hanya untuk siswa kelas IV saja, tetapi semua siswa bisa mengikuti les pada sore hari.

 

Anak-anak Sang Fajar

Ialah mereka anak-anak yang rela berjalan kaki tanpa alas kaki menaiki dan menuruni perbukitan berjam-jam, menyeberangi sungai sungai hanya untuk demi mendapatkan hak mereka – hak mendapatkan pendidikan yang layak. Sungguh, semangat yang patut diacungi jempol untuk mereka Anak-anak Sang Fajar. Dengan berbagai keterbatasan dan kekurangan yang mereka miliki tidak mematahkan semangatnya, semangat untuk pintar, semangat untuk menuntut ilmu, dan semangat untuk maju.

 

Kearifan Masyarakat Setempat

Sungguh, di Tanah lelulur ini, saya merasa sebagai guru yang begitu dihormati oleh siswa dan masyarakat setempat. Terbukti, salah satu bentuk hormatnya siswa berbagi macam sayur-mayur, cabai, bawang merah, bawang putih, dan kayu bakar untuk guru, saat berpapasan masyarakat di jalan, mereka menyapa saya dengan panggilan “bapak guru”. Mereka semua sangat menerima keberadaan saya, karena mereka menginginkan si anak menjadi pintar sehingga mampu mengubah kehidupan keluarganya menjadi lebih baik.

 

Tidur di Honai

Inilah sa pu impian, kakak. Impian saat saya mampu menapakkan sa pu kaki di Papua, saya ingin merasakan tidur di Honai. Alhamdulillah terwujud, sudah. Tidak tanggung-tanggung saya tidur di Kepala Kampung punya Honai, kakak. Sa pu impian terwujud saat Tim Indonesia Menyapa Negeriku menyapa SD Inpres Sogokmo beberapa hari lalu. Wa…wa…wa… untuk Indonesia Menyapa Negeriku telah membantu mewujudkan sa pu impian jadi.

 

 

CERITA BERSAMA MUTIARA HITAM SD YPPGI NAPUA

Oleh : WELNI ACNES

 

Mungkin takdir lah yang membawaku terbang ke timur Indonesia ini. Tanah Papua yang kaya serta pemandangan nan elok membuatku terpesona dan terkagum-kagum sambil berucap syukur pada Sang Pencipta. Kata “pengabdian” sebenarnya membuat ku agak terbebani, karena hal itu berarti aku harus benar-benar ada guna nya bagi “Generasi Emas Indonesia” yang ada di sini. Sedangkan aku yang seperti ini bisa apa? Sering kupertanyakan hal itu pada diriku sendiri. Apa yang bisa kuperbuat? Mampukah aku menjalani hidup disini tanpa keluarga? Apakah siswa-siswa bisa menerimaku? Atau bisakah aku beradaptasi dengan lingkungan yang jauh berbeda dari sebelumnya? Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul dibenakku. Tapi aku hanya bisa berdoa pada Yang Maha Kuasa, semoga diberikan kemudahan dalam menjalani hidupku disini dengan label “guru SM3T”.

 

Sepenggal ceritaku di tempat pengabdian “SD YPPGI NAPUA.

 

Hari ini pertama kali aku berjumpa dengan “generasi emas Jayawijaya” itu. Mereka masih terlihat polos dan haus ilmu pengetahuan. Senyum tulus dan agak malu-malu itu seperti penasaran dengan kami guru baru. Aku dan Riska ditempatkan di SD YPPGI NAPUA. Kepsek SD YPPGI NAPUA, Bapak Yehekiel Matuan, pun memperkenalkan kami kepada guru-guru dan siswa-siswa SD YPPGI NAPUA.

 

 

Dihari pertama saya melihat betapa semangatnya siswa siswaku mau kesekolah untuk belajar terlihat dari kotornya semua kaki mereka. Walau tanpa alas kaki dan berseragam yang lengkap mereka tetapi bahagia. Wajah yang begitu polos membuat aku ingin bersama mereka dan memberikan yang terbaik.

 

Walau saya belum terbiasa dengan keadaan siswa yang kotor, jarang mandi, ganti baju dan ingus yang mengental dan kering di hidung. Saya selalu memberikan tisu kepada mereka supaya melap ingus dan menyuruh ke kolah sekolah untuk cuci muka. Saya menyuruh mereka supaya ke sekolah mandi, tetapi jawabannya “ ibu guru air dingin” . anak anakku tidak ttahan dengan air dingin, itu sebabnya saya menyuruh mereka ke kolam sekolah untuk cuci muka dan buang ingus.

 

Tiba saatnya pembagian kelas, Bapak kepala mempercayai saya untuk menjadi wali kelas V. Dengan senang hati saya menerimanya.

 

Saat masuk ke dalam kelas semua siswa duduk rapi sambil senyum senyum sendiri, saya berusaha mengakrabkan diri bersama mereka, seiring berjalan saya terkejut melihat pengetahuan mereka saat saya bertanya “apa nama negara kita?” mereka dengan lantang menjawab “ PAPUA Ibu guru” sangat terpukul dengan jawaban mereka, yang mereka tau hanya Papua! Lagu kebangsaan pun mereka tidak tau. Melihat keadaan ini dalam hati saya bertekat mereka harus tau Indonesia. Proses belajar dan mengajar pun masuk dan saya sangat sangat terkejut bagaimana mungkin anak anak kelas V tidak tau membaca dan berhitung, apa begitu mirisnya pendidikan di sini? Ah, rasa sakit di dada terasa. Ntah kenapa air mata menetes melihat kemampuan mereka. Tapi itu semua tidak membuat saya mundur, ini adalah tantangan yang luar biasa dalam hidupku. Aku mulai menyusun strategi dalam mengajar supaya siswaku kelas V BISA ! setiap hari saya membuat les semua kelas. Les dilakukan jam 15.00 sampai 17.15. kami melakukan les di bukit honai. Walau awal les Cuma sedikit yang datang tapi saya percaya lama-kelamaan pasti banyak yang datang.

Agar siswa siswaku semakin banyak yang datang saya selalu memberikan permen supaya mereka semakin rajin datang, dan pemberian permen saya kasih di akhir les.

 

 

Berjalan sudah waktu tiga bulan hal yang paling sulit diterima siswa asalah membedakan huruf Y dan J. Walau terkadang Y menjadi J saya selalu memberi semangat kepada siswa supaya tetap membaca. Saya selalu bertanya “mau pintar toh nak?” mereka selalu menjawab “iyo ibu guru”. Untuk itu tetap membaca nak, masih banyak rahasia yang harus kalian tau.

Mungkin yang paling membuat berkesan adalah ketika saya menulis sesuatu di depan semua bertanya “ ibu guru tulis? Dan kata kata ini setiap hari muncul ketika saya mengajar, kalo tidak tau mereka bilang ibu guru bisa kasih ulang jelaskan? Dengan senang hati saya menjelaskan . ini adalah respon sederhana mereka. Dan yang membuat ku betah dn semangat mengajar ketika mereka berdoa “ Tuhan Yesus selalu kasih semangat kepada ibu guru kita, supaya ibu guru bisa kasih ajar kita sampai bisa baca tulis dan hitung” doa sederhana yang membuat aku terharu.

Setiap 1 kali seminggu saya rutin untuk memotong kuku anak anak saya Karen mereka tidak punya jepit kuku. Saya mengajarkan kebersihan diri kepada anak anak saya, walau tidak gampang saya yakin mereka lama kelamaan akan mengerti akan pentingnya kebersihan diri

Saya bukan hanya mengajarkan tentang ilmu pengetahuan, saya juga mengajarkan untuk berkreasi menghiasi kelas.

 

Walau perbedan yang begitu ketara itu tidak menghalangi saya untuk merangkul mereka. Perrbedaan yang begitu manis membuat kedekatan kami semakin erat.

Setahun pengabdian ku di SD YPPGI NAPUA akan ku maksimalkan dan akan ku berikan yang terbaik untuk mutiara hitamku. Semoga Tuhan memberkatiku dan mutiara hitamku.

 

 

TEMPAT TERJADINYA WAMENA BERDARAH, ITULAH DAERAH PENGABDIANKU!

by : Winanda Dwinasari

 

            Papua, sebuah pulau yang tak pernah saya duga bisa menjadi tempat pengabdian saya selama satu tahun kedepan melalui program SM3T. Tepatnya pada tanggal 28 Agustus 2015, yaitu hari pengumuman daerah sasaran, saya mendapat amanat untuk melaksanakan tugas pada sebuah sekolah yayasan katolik bernama SD YPPK Santo Stevanus Wouma, yang berada pada distrik Wouma, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

 

            Pertama kali saya dijemput oleh pihak sekolah untuk perkenalan dengan guru beserta staff adalah pada hari Sabtu, tepatnya tanggal 29 Agustus 2015, sehari setelah pengumuman daerah sasaran resmi diumumkan. Perasaan saya ketika itu sangat rumit saya ceritakan, karena saya belum tahu sama sekali seperti apa kondisi masyarakat, kondisi sekolah, keadaan anak-anak yang nanti akan saya didik. Ketika saya sampai disekolah, saya merasa senang karena ternyata sekolah saya masih cukup dekat dengan kota, jika menggunakan sepeda motor hanya memerlukan waktu 10 menit saja.

Saya beserta rekan seperjuangan saya ketika itu langsung disambut baik oleh kepala sekolah beserta guru-guru, setelah berbincang-bincang dan berkenalan, kepala sekolah mengumumkan bahwa saya diamanatkan mengajar di kelas III sedangkan rekan saya mendapat tugas mengajar di kelas VI. Tak lama setelah acara perkenalan dan pembagian tugas tersebut, hal yang tak disangka-sangka pun terjadi, PERANG antar suku sedang berlangsung tepat dijalan didepan sekolah. Mama-mama beserta anak bayinya berlarian meminta perlindungan disekolah. Saya beserta rekan saya ketika itu panik, karena hal ini baru pertama kali kami alami. Suara teriakan pun terdengar membuat siapapun yang mendengarnya merasa ketakutan. Saya mulai berdoa dalam hati begitu pun rekan saya, guru-guru mulai menghubungi polisi. Alhamdulillah perang tersebut hanya berlangsung 15 menit saja, saya pun bisa bernapas lega ketika itu, tak lama setelah itu saya beserta rekan diantar pulang oleh guru-guru.

Itulah pengalaman yang paling saya ingat ketika pertama kali menginjakkan kaki disekolah tempat pengabdian saya. Hari baru pun datang, pada tanggal 01 Agustus 2015, saya beserta Tim SM3T Angkatan V LPTK UR 2015 diantar oleh bapak dari dinas pendidikan ke daerah sasaran masing-masing. Keesokan harinya, ketika saya masuk pertama kali masuk dikelas IIIA , saya menemukan pemandangan yang sangat tidak biasa, anak-anak dengan kulit hitam, rambut keriting, bulu mata lentik, melihat saya dengan pandangan antusias. Pelajaran pun dimulai dengan perkenalan, baik saya yang memperkenalkan diri maupun anak-anak. Mereka maju satu persatu kedepan untuk memperkenalkan diri.

Jumlah anak didik saya sebanyak 29 siswa, terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 15 siswi perempuan. Mereka semua anak yang baik dan manis meskipun ada kalanya mereka membuat saya kesal, namun dengan melihat semangat, senyum serta tingkah polos mereka mampu membuat rasa kesal saya hilang seketika.

Setelah 4 bulan pengabdian berjalan, setidaknya sekarang sudah ada sedikit perubahan pada diri anak didik saya, dimana yang tadinya belum bisa membaca, sekarang sudah bisa membaca meskipun belum terlalu lancar. Anak yang tadinya belum bisa berhitung, sekarang sudah bisa penjumlahan, pengurangan serta perkalian. Saya berharap semoga doa saya selalu dijabah Allah untuk membuat perubahan-perubahan yang lebih baik lagi pada diri anak didik saya disisa 8 bulan pengabdian saya disini.

Rasa syukur tak lupa saya haturkan atas segala nikmat hidup serta kesempatan yang Tuhan berikan kepada saya, ketika saya dipertemukan dengan anak-anak didik saya, mereka amanat yang harus saya jaga dan saya selalu berusaha dan berdoa, agar ketika masa pengabdian saya telah usai saya bisa melihat perubahan-perubahan yang baik pada diri anak-anak didik saya, saya berharap anak-anak saya bisa menjadi anak-anak yang dibanggakan orangtua, serta bisa menjadi anak-anak yang dapat menaikkan harkat martabat keluarganya.

 

Tanah wamena

Luar biasa

Udara segar

 

Berikan Perhatian yang Lebih kepada Mereka

Oleh Windy Delvia

Berawal dari program pemerintah dinas pendidikan tinggi yang menugaskan sarjana pendidikan ke daerah 3T yang di sebut dengan SM-3T (Sarjana Mengajar terdepan, terluar dan tertinggal) dan saya pun sampai di tanah Wamena, Papua yang menyegarkan ini. Sungguh udara yang menyegarkan dengan suhu berkisar 90C-150C memberikan efek pikiran yang nyaman dan tenang dan saya tidak sedikitpun menyesal ketika sampai di tanah Wamena. Setelah seminggu di Wamena, barulah kami diberikan surat tugas untuk mengajar d sekolah-sekolah. Saya ditempatkan sekolah dasar INPRES MULELE yang terdapat di Distrik Wamena, betul saya dapatnya di daerah kota Wamena. Ada rasa syukur yang mesti rasa ungkapkan, karena tidak banyak teman-teman yang dapat di kota hanya 8 orang dan saya salah satunya.

Untuk menuju SD INPRES MULELE butuh waktu sekitar 10-15 menit menggunakan sepeda. SD INPRES MULELE terletak di jalan Hom-hom, disana ada juga Kampus Yapis II. Selain saya melihat Siswa saya juga melihat mahasiswa pribumi yang rata-rata mereka semua ketika pergi belajar hanyalah jalan kaki. Semangat seperti itu haruslah menjadi pertimbangan untuk kita semua, bahwa semangat belajar masyarakat pribumi itu luar biasa.

Jam sekolah rata-rata di Wamena mulai dari jam 07.30-12.00 WIT, itu berlaku mulai dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Setiap pagi saya pergi ke sekolah menggunakan sepeda, di jalanan bertebaranlah masyarakat yang sibuk menempuh aktivitasnya masing-masing, mulai dari siswa, mahasiswa, Guru, PNS, Pedagang, tukang becak, ojek yang disambut dengan udara yang segar. Rasa lelah mengayuh sepeda seketika bisa hilang ketika ada siswa yang menyapa dengan sebutan Ibu Guru, iya di Wamena ini sebutan guru itu Ibu Guru dan Bapak Guru. Padahal kalau di kampung saya biasanya hanya dengan sebutan Ibuk dan Bapak. Namun, beda halnya di Wamena yang mengistimewakan sebutan guru. Profesi Guru sangat di hormati oleh masyarakat, karena Guru bagi meraka adalah pendidik yang dapat memberikan kepintaran.

Di SD INPRES MULELE awalnya saya mengajar di kelas 1 mengganti Guru yang sedang cuti. Agak sulit mengajar siswa karena beda bahasa, jadi ketika saya berbicara yang mengerti hanyalah beberapa siswa saja dan saya juga kesusahan untuk mengerti bahasa mereka. Bahasa yang saya sebut maksudnya logatnya. Mereka berbahasa Indonesia, tapi logatnya yang membuat saya bingung. Untuk menutupi kesulitan itu saya banyak menugaskan siswa untuk menulis. Siswa kelas 1 sebagiannya belum bisa menulis karena tidak semua siswa mendapat pendidikan tingkat Taman Kanak-kanak.

Untuk menyetarakan semuanya, setiap masuk kelas saya memberikan kartu yang bertuliskan suku kata. Saya berikan 1 orang 5 kartu dan saya menugaskan untuk mengingat suku kata pada kartu itu. Namanya juga anak-anak yang masih suka bermain, semuanya ribut lari sana lari sini, pukul sana pukul sini. Teriak sana teriak sini. Tidak ada tertib seperti yang saya harapkan. Saya mulai bingung bagaimana caranya menertibkan 30 siswa ini. Saya suruh duduk ke tempat masing-masing, akhirnya mereka duduk. Tapi Cuma 2 menit mereka diam dan kembali ribut. Dan saya mulai bingung lagi. Rasanya mau menangis lihat siswa ribut-ribut, rasanya mereka tidak menghargai saya yang berada di depan kelas. Saya mulai kesal dan kecewa, jauh dari apa yang saya harapkan.

Untuk pertemuan selanjutnya saya berpikir harus menggunakan strategi jitu untuk memfokuskan pikiran mereka untuk belajar. Saya harus hapal nama mereka semua, biar ketika ada yang ribut saya tinggal panggil namanya. Cukup efektif ketika saya hapal nama mereka. Tapi lama-kelamaan mereka suka namanya saya panggil. Malah mereka sengaja berjalan agar di panggil dan disuruh duduk. Kebingungan mulai melanda. Saya harus mencari lagi sesuatu yang memfokuskan pikiran mereka. Saya mencari berbagai macam tepuk, mulai dari tepuk pramuka, tepuk diam, tepuk salut, dan tepuk-tepuk lainnya. Hal semacam ini juga memberikan efek yang positif meskipun belum maksimal karena namanya juga anak-anak agak sedikit susah mengaturnya. Perlahan-lahan keributan kelas mulai berkurang. Dan perlahan-lahan siswa satu persatu mulai mengenal huruf. Sampai disitulah cerita saya di kelas 1.

Setelah mengajar di kelas 1, saya dapat kelas baru yaitu kelas 5 denga mata pelajaran IPA sesuai dengan jurusan saya. Sebenarnya tidak terlalu sesuai, tapi ada sedikit hubungannya saya jurusan Pendiddikan Fisika masih kategori IPA.

Di kelas 5 perjuangan sama yang tampak ketika harus menenangkan suasana kelas. Ternyata kelas rendah maupun kelas atas sama ributnya. Kembali lagi saya bingung apa yang harus saya lakukan untuk menenangkan mereka tidak mungkin saya samakan dengan anak kelas satu tepuk-menepuk apalagi bernyanyi. Awalnya saya buat diskusi kelompok, tapi tidak berjalan dengan baik. Ternyata kalau dibuat kelompok mereka malah suka bisa diskusi. Diskusinya bukanlah tentang pelajaran, tapi cerita dan teriak-teriak. Masih saja dengan suasana keributan. Setelah itu saya tugaskan menghapal. Menghapalnya lumayan berjalan tapi ributnya masih ada, Karena mereka menghapal itu menggunakan metode suara, harus dikeraskan. Lalu saya memberikan tugas tulisan, ada sebagian yang mengerjakan dan ada yang tidak. Dan akhirnya saya pun menggunakan metode lama. Menjelaskan materi lalu diskusi, dicatatkan, terakhir diberi tugas. Hal semacam itu membuat mereka lebih nyaman dan semangat.kalaupun ada yang mulai ribut, teman yang lain pasti melarang. Ternyata mereka tidak bisa mandiri, belum bisa belajar secara mandiri. Mereka belajar memang harus selalu dipantau, diingatkan, dan harus diperhatikan. Saya harus memperhatikan semua siswa supaya mereka serius belajar. Tidak terlalu membutuhkan media yang penting mereka diperhatikan. Cukup pengalaman saya sampai di sini, mudah-mudahan pendidikan d Jayawijaya ada peningkatan karena adanya guru SM-3T.

 

 

Mengajar di SD YPPK Sinatma Walesi Papua

Oleh Yesi Herlina

 

Saya Yessi Herlina jurusan PPKn Universitas Riau. Ini pertama kalinya saya mengajar didaerah 3T, di tugaskan di daerah Papua,juga mengajar ditingkat sekolah dasar.Saya di tugaskan untuk mengajar di SD YPPK Sinatma Walesi.

 

Hari pertama saya datang mengajar ke SD YPPK SinatmaWalesi, saya merasa senang sekali karena disambut baik oleh guru-guru dan anak-anak murid di sekolah tersebut. Ditambah lagi jumlah anak-anak muridcukup banyak sehingga menambah semangat saya untuk mengajar. Memang terasa sekali berbeda mengajar di daerah asalku dengan disini. Kenapa? karena masih banyak anak-anak belum mengerti banyak bahasa Indonesia, terlebih untuk kelas 1 dan 2. Sehingga membuat saya agak sulit berkomunikasi, namun sedikit demi sedikit saya mempelajari bahasa sehari-hari mereka.

Untungnnya, di sekolah tersedia buku-buku pelajaran dengan kontekstual Papua. Dengan begitu dapat mempermudah saya dalam mengajar dan berkomunikasi dengan murid-murid. Sehingga kegiatan belajar dan mengajar pun berjalan dengan baik. Ada beberapa kondisi yang sangat membuat hati saya miris yaitu kondisi dimana masih banyak anak-anak yang belum mempunyai seragam sekolah sehingga anak-anak ke sekolah dengan berpakaian bebas dan tidak memakai sepatu.Saya sangat berharap sekali pemerintah dapat melihat itu dan tidak membiarkan kondisi tersebut.

Selain kondisi tersebut, juga kondisi dimana masih banyak anak-anak yang belum memahami kebersihan diri. Contohnya, banyak anak-anak yang tidak mandi ke sekolah bahkan berhari-hari tidak mandi. Untuk itu saya selalu mengajarkan kepada mereka bagaimana menjaga kebersihan diri. Mulai mandi 2 kali sehari pagi dan sore hari, cuci tangan sebelum makan, mengosok gigi dan untuk ganti baju setiap hari.

Kembali kekondisi kegiatan belajar mengajar, masih banyak guru-guru tetap sekolah yang jarang datang sehingga anak-anak jarang juga belajar di sekolah. Untuk itu saya membantu dengan kegiatan kelas rangkap. Walaupun adanya kelas rangkap saya merasa kegiatan belajar mengajar kurang maksimal, karena tidak fokus kesatu kelas. Tapi saya akan berusaha untuk itu.

Ada lagi kendala dalam KBM berlangsung yaitu masih banyak anak-anak yang belum bisa membaca, menulis, dan menghitung. Hal itu sangat menghambat dalam penyampaian materi pelajaran, sehingga harus dilakukan pengajaran yang berulang-ulang. Untuk itu selain fokus dalam penyampaian materi, saya juga fokus untuk mengajarkan calistung kepada mereka. Dan syukur ada kemajuan untuk itu.

Memang masih banyak tertinggal jika dibandingkan dengan kota-kota besar. Baik mengenai cara berpikir, teknologi, kebiasaan, dan lingkungan. Untuk itulah daerah ini termasuk daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Dan tugas sayalah sebagai guru SM3T untuk bisa memberikan yang terbaik guna mencapai kemajuan bangsa Indonesia dan sesuai dengan visi SM3T yaitu MBMI (Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia). Demikianlah cerita pengalaman mengajar saya. Mudah-mudahan dapat dimengerti dengan baik, dan mohon maaf jika ada kata-kata yang salah. Terima kasih. Wasalam.

 

                                                                                    Salam MBMI.

 

Prev
PERGILAH DAN BERKARYALAH
Next
Mengapa Kita Harus



  Agenda Kegiatan
  Galeri

  Kalender Agenda

Mon
Tue
Wed
Thu
Fri
Sat
Sun