Oleh: Anju Nofarof Hasudungan, S.Pd., Gr.

Mama Papua Dan Peranannya Dalam Sosial-Ekonomi Masyarakat: Studi Kasus Suku Dani Jayawijaya

Administrator
Jumat, 27 April 2018 16:53:42 WIB
224 Views

 

Abstrak

 

Tulisan ini bertujuan untuk memperkenalkan mama Papua dan perannya dalam sosial-ekonomi masyarakat suku Dani di Kabupaten Jayawijaya Papua yang selama ini ter(di)hilangkan perannya. Selain itu juga, memperkaya khazanah tulisan mengenai perempuan dalam sejarah sosial ekonomi. Bagaimana mama Papua dapat bertahan dari kondisi ekonomi yang memprihatinkan dan struktur sosial adat yang membelenggu. Tulisan ini mengunakan metodelogi penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Studi kasus mencakup studi tentang suatu kasus dalam kehidupan nyata, dalam konteks atau setting komtemporer (Yin, 2009 dalam John W. Creswell 2018:135). Teknik pengumpulan data yang digunakan dengan cara observasi, kajian pustaka, dan dokumentasi.

 

Pendahuluan

 

Saat penulis mengabdi menjadi guru di SD Negeri Niniki Distrik Pyramid Kabupaten Jayawijaya Papua melalui Program Sarjana Mendidik Di Daerah Terdepan Terluar Tertinggal (SM-3T) Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Angkatan V periode Agustus 2015-Agustus 2016. Sosok mama Papua dalam kehidupan sosial-ekonomi masyarakat adat Papua menjadi satu diantara perhatian penulis selain anak-anak, pendidikan, nasionalisme di Papua. tidak hanya menjadi guru, penulis juga sebagai Kepala Divisi Pendidikan SM-3T di Jayawijaya dan Ketua Pekan Generasi Emas Jayawijaya Papua tahun 2015-2016. Hal ini menjadi kesempatan penulis untuk lebih dalam dan jauh untuk mengenal masyarakat Papua serta dinamikanya, khususnya suku Dani di kabupaten Jayawijaya..

 

Dalam interaksi dan dinamika hidup yang penulis alami bersama masyarakat suku Dani Papua, sosok mama Papua menjadi inspirasi penulis untuk menggambarkan sosok sentral dalam sosial-ekonomi keluarga dan masyarakat. Selama ini, orang luar menganggap hanya kepala sukulah menjadi sosok sentral dalam masyarakat suku Dani Papua. Peranan mama Papua ter(di)hilangkan karena belum banyaknya yang menulis kajian ini, padahal jika kita melihat lebih dalam bahwa mama Papua sangat punya andil besar dalam sosial-ekonomi masyarakat Papua. Ini menjadi refleksi, mengingat sosok perempuan menjadi perhatian ditengah gerakan feminisme, emansipasi dan kesetaraan gender.

 

Dalam kunjungannya ke Papua Presiden Republik Indonesia Joko Widodo berpendapat, ibu-ibu di Papua atau yang populer disebut mama-mama merupakan simbol perjuangan kaum ibu (Kompas.com, Jum’at 22-12-2017). Atas pernyataan presiden tersebut yang patut dipertanyakan bukan lagi benar atau tidak pernyataan tersebut. Tetapi dari mana orang nomor satu di negeri ini mengetahuinya ? Menurut penulis, ada dua kemungkinan jawaban yakni, dari penelitian atau pengalaman sendiri. Dalam konteks ini, penulis mengalaminya sendiri.

 

Realitas mengenai mama Papua adalah bahwa mama Papua bekerja di kebun, berjualan di pasar distrik atau kekota, menyusui wam (babi), melakukan pekerjaan rumah, mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), potong jari saat suami berduka (bentuk kesetiaan). Sejatinya, ibu adalah sosok sentral dalam keluarga bahkan dalam negara. Peran mama Papua belum banyak ditulis. Masyarakat diluar Papua selama ini hanya mengenal otoritas kepala suku (pria) dalam masyarakat Papua. Dan ini menjadi kekayaan inspirasi sosok seorang ibu. Inilah menjadi latarbelakang penulis untuk mengkaji lebih dalam mengenai Mama Papua Dan Peranannya Dalam Sosial-Ekonomi Masyarakat Suku Dani Papua.

 

Pembahasan

 

Pada beberapa penelitian tentang keluarga inti yang pernah dilakukan, diungkapkan bahwa dalam keluarga dan rumah tangga, wanita pada dasarnya seringkali berperan ganda. Hal ini pertama-tama dicerminkan oleh perannya sebagai ibu rumah tangga, yang melakukan pekerjaan rumah tangga, mengurus, dan membimbing anak, mengurus suami, suatu pekerjaan produktif yang tidak langsung mendapatkan pendapatan karena pekerjaan itu memungkinkan anggota keluarga lainnya untuk mendapatkan penghasilan secara langsung. Peranan kedua adalah sebagai pencari nafkah baik pencari nafkah pokok atau tambahan (Ihromi, 1990:81).

 

Gerakan perempuan di Indonesia tumbuh pada awal abad 20 ketika sekolah modern didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda, dan organisasi modern didirikan oleh “kaoem bumiputera”. Pengalaman pribadi pelopor gerakan emansipasi perempuan, Raden Ajeng Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman- temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu. Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

 

Hingga saat ini, hampir satu abad lamanya, perjuangan itu mengalami pasang surut. Bahkan apa yang disebut capaian tentang “Hak Perempuan” saat ini, pada prinsipnya belum dapat menjawab problem penindasan yang dialami kaum perempuan itu sendiri.

Dalam konteks struktru sosial masyarakat suku Dani, perempuan Papua (Mama Papua) relatif belum tersentuh capaian hak perempuan yang dimaksud.

 

Masyarakat Papua menganut sistem patriarki. Dalam hal ini, awalnya sistem patriarki tersebut dimaksudkan untuk melindungi kaum perempuan yang cenderung lemah tetapi pada kenyataannya sistem ini sering digunakan secara semena-mena oleh kaum pria bahkan yang berasal dari kaumnya sendiri untuk memuaskan egonya, menindas bahkan membatasi gerak kaum wanita. Perempuan Papua didefinisikan dengan banyak karakteristik. Di dalam adat setempat memang biasanya perempuan Papua tidak memiliki hak untuk bicara, tetapi di sisi lain, perempuan Papua saat ini berperan sangat aktif, dan mampu memberi kontribusi bagi Papua dalam bidangnya masing-masing.

 

Di Papua, kendala struktural seringkali berkaitan dengan permasalahan pendidikan, status sosial, ekonomi, dan pekerjaan. Pekerjaan perempuan masih sering diidentik dengan pekerjaan “kelas dua” yang sulit berimbang dengan laki-laki, (Vera Falinda dan Rahmawati Retno Winarni, 2015:5). Sementara kendala kultural terkait dengan faktor budaya dalam masyarakat yang menempatkan perempuan sebagai seorang ibu rumah tangga yang bertugas mengurus semua pekerjaan dalam rumah tangga. Secara fisik, perempuan ditempatkan sebagai pendamping dalam pemenuhan biologis. Disisi lain, konsekuensi dari pemaknaan fisik menempatkan perempuan sebagai kaum yang lemah. Perempuan bisa tampil dan berekspresi dengan kemampuan yang dimiliki.Perempuan sangat terlibat aktif dalam berjualan di pasar dan membentuk organisasi Mama-mama Pasar.

Undang-undang Otonomi Khusus (Otsus) Papua No. 21 Tahun 2001 telah memberikan peluang bagi perlindungan dan pemberdayaan perempuan Papua. Hanya, dalam pelaksanaannya kebijakan perlindungan dan pemberdayaan perempuan Papua belum maksimal dan sinergis. Bahkan, dana Otsus yang dialokasikan untuk pemberdayaan perempuan (6%) belum banyak dirasakan secara langsung dalam meningkatkan partisipasi perempuan dalam pembangunan.

UU Desa No. 6 Tahun 2014 memberikan peluang bagi peningkatan partisipasi perempuan dalam pembangunan di kampung. Dana yang dialokasikan untuk pembangunan kampung sangat terbuka bagi pemberdayaan perempuan. Interaksi dengan mayarakat dan khususnya perempuan Papua selama ini menyiratkan bahwa:

 

  1. Peran perempuan Papua sangat bergantung pada pendidikan dan keterampilan
  2. Peran perempuan Papua bergantung juga pada karakter pribadi perempuan
  3. Peran perempuan Papua bergantung pada akses yang diberikan kepada perempuan untuk berkreasi dan berekspresi. Akses yang terbuka lebar dan dapat menjadi pintu masuk adalah melalui partisipasi dalam organisasi menggereja, dan dalam organisasi kemasyarakatan.

 

Antusiasme mama Papua dalam perekonomian terlihat dalam usaha peternakan babi (mengingat babi adalah hewan ternak termahal di Papua, harganya bisa sampai Rp 40 juta perekor). Pater Ferdinand Pr, yang merupakan Pastor, saat meminta warga agar mulai kembali beternak babi, tetapi dengan cara mengandangkannya. Langkah itu ternyata memperoleh sambutan yang baik dari warga, khususnya mama-mama Papua, (Laporan Jurnalistik Kompas, 2008: 132). Hal ini memperlihatkan bagaimana mama Papua sangat menginginkan ada kehidupan yang layak untuk keluarga dengan peningkatan pendapat ekonomi keluarga melalui ternak babi. Selama ini hanya berjualan di pasar saja.

 

Tabel I

Peran Perempuan Berdasar Wilayah Adatnya

(Vera Falinda dan Rahmawati Retno Winarni, 2015:6).

No

Suku

Peran

1

Maybrat (Papua Barat

  1. Perempuansebagai investasi seseorang laki-laki untuk menjadi Bobot/bangsawan. Bagi orang Maybrat, lebih baik punya anak perempuan dari pada anak laki-laki.
  2. Perempuan membuka jalur politik tradisional (kaintimor)

 

2

Dani (Papua Tengah)

  1. Perempuan sebagai tumpuan kehidupan ekonomi keluarga perempuan sebagai simbol kejayaan seorang laki-laki (kepala suku)

3

Asmat (Papua Timur)

  1. Perempuan sebagai kepala dalam keluarga (menafkahi) karena ia lebih berperan dari pada suami.

 

Dalam tulisan ini penulis mengakaji peran dari mama Papua di masyarakat suku Dani. Terlihat jelas bagaimana peran mama Papua dalam sosial dan ekonomi sangat signifikan.

 

Tradisi Iki Palek (Potong Jari) Bentuk Kesetiaan Istri pada suami dan adat.

 

Tidak hanya dibidang ekonomi, dalam struktur sosial suku Dani, terdapat tradisi potong jari atau disebut Iki Palek masih dilakukan di Suku Dani. Umumnya yang melakukan tradisi itu adalah mama-mama Papua yang ditinggalkan sanak saudara, anak, hingga suami tercinta. Semakin banyak jari yang dipotong, pertanda jumlah saudara yang meninggal atau dalamnya duka.

 

Mengadu Nasib Di Emperan Toko Dan Pasar

Sebutan pasar sebenarnya tidak seperti pasar kebanyakan pasar di daerah lain di Indonesia. Pasar di Wamena Kabupaten Jayawijaya Papua hanyalah lataran terbuka, tanpa bangunan beratap penahan hujan. Kalau hujan besar, pedagang bubar. Kalau cuma gerimis, dagang pakai pentangan paying. Pasar tumpah di sempalan aspal sepanjang jalan protokol. Menurut Jack Morin, Kepala Laboratorium Antropologi Universitas Cendrawasih Mama-mama tidak hanya berjualan. Mereka juga punya keinginan untuk bertemu dan mengamat-amati dunia, sambil menunggui dagangannya. Hubungan antarteman sangat penting karena mama Papua menganggap pertemanan sebagai investasi sosial, (Laporan Jurnalistik Kompas, 2008: 146).

Bisa jadi sulitnya pemerintah mengentaskan kemiskinan di Papua karena peran mama Papua masih belum dilibatkan secara utuh, dibutuhkan studi lanjut untuk mengkaji ini.

 

Kesimpulan

 

Dalam sejarah republik ini, perempuan sangat berperan dalam pembangunan bangsa bahkan gerakan dan kongres perempuanpun telah dilakukan jauh sebelum negara ini merdeka.

Menurut presiden Soekarnodalam bukunya “Sarinah” mengatakan soal perempuan adalah soal masyarakat, karena soal perempuan berkaitan erat dengan generasi. Kesejahteraan sosial di Indonesia akan terwujud jika tak ada gap pemisah antara laki-laki dan perempuan dalam berjuang, tak ada gap dimana laki-laki dan perempuan berjuang sendiri.

Seperti halnya perempuan lainnya, peran mama Papua dalam sosial ekonomi suku Dani Papua sangat signifikan tetapi mama Papua masih mengalami tindakan kekerasan rumah tangga dan ketidakadilan dalam memenuhi haknya. Diperlukan suatu kebijakan holistik untuk mengatasi hal ini. Dengan terpilihnya Yohana Susana Yembise sebagai perempuan pertama Papua yang menjadi menteri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia di Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla, yang sebelumnya sebagai profesor pertama perempuan Papua dapat menjadi inspirasi perempuan Papua yang berani keluar dari himpitan, keterbatasan dan kultur Papua. Hal ini sangat relevan mengingat laporan Jim Elmslie dalam tulisannya berjudul West Papuan Demographic Transition and The 2010 Indonesian Census, Sydney University, Februari 2011 (dalam Socratez, 2013: 85) terjadinya penurun demografi penduduk asli Papua yang salah satunya faktornya adalah tingginya angka kematian ibu dan anak.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Sumber Buku

 

Creswell, John W. 2018. Penelitian Kualitatif Dan Desain Riset Memilih Di Antara Lima Pendekatan (Edisi ke-3). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Ihromi,Tapi, Omas. 1990. Para Ibu Yang Berperan Tunggal Dan Yang Berperan Ganda: Kelompok Studi Wanita Fisip ? UI. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

 

Laporan Jurnalistik Kompas. 2008. Ekspedisi Tanah Papua Terasing Di Tanah Sendiri. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

 

Sofyan Yoman, Socratez. 2013. Apakah Indonesia Menduduki dan Menjajah Bangsa Papua. Jayapura: Cenderawasih Press.

 

Sumber Internet

 

 

Falinda, Vera dan Rahmawati Retno Winarni dalam http://www.tuk.or.id/perempuan-Papua-dan-pemerintahan-desa/ diakses pada 15 April 2018.

 

https://nasional.kompas.com/read/2017/12/22/18001741/jokowi-anggap-mama-mama-Papua-simbol-perjuangan-kaum-ibu diakses pada 5 April 2018.

 

Prev
Quo Vadis Special
Next
ANALISIS SISTEM PENDIDIKAN



  Agenda Kegiatan
  Galeri

  Kalender Agenda

Mon
Tue
Wed
Thu
Fri
Sat
Sun