Oleh: Anju Nofarof Hasudungan, S.Pd., Gr.

Quo Vadis Special Strategic Partnership Indonesia-Korea Selatan Sebuah Hubungan ‘Zaman Now’

Administrator
Sabtu, 07 April 2018 23:41:57 WIB
208 Views

Peningkatan status hubungan Republik Indonesia (RI) dan Korea Selatan (Korsel) dari Strategic Partnership menjadi Special Strategic Partnership di tahun 2017. Momentum ini, menjadi jalan baru untuk keluar dari ‘zaman old’ dan dapat menemukan cara ‘zaman now’ atas masalah khas kedua negara ini. Cara ‘zaman now’ yang penulis maksud ialah cara yang berbeda dari lazimnya, lebih kreatif dan inovatif.

Apa masalah khas dari RI dan Korsel ?

Indonesia, masalah khasnya adalah ketergantungan pada investor dan hubungan dagang dengan negara yang itu-itu saja (zaman old).

Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla saat ini sedang giat-giatnya dalam pembangunan infrastruktur negara seperti jalan tol, kereta api cepat, bendungan, listrik, dan lain sebagainya. Tidak jarang, biaya pembangunan proyek infrastruktur membebani Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) bahkan harus mencari dana diluar APBN, alias utang. Tahun 2018 ini saja, anggaran infrastruktur naik menjadi Rp 410,4 Triliun.[1]

Untuk skema pembiayaan infrastruktur yang bersumber dari utang. Pemerintah Indonesia dahulunya selalu memakai cara ‘zaman old’, dalam artian pemerintah hanya menjadikan negara itu-itu saja menjadi sumber utang atau investasi untuk membiayai proyek infrastruktur.

Di Asia Timur, Tiongkok dan Jepang menjadi investor dan pengutang langganan Indonesia yang besar. Selain itu juga, kedua negara tersebut menjadi mitra dagang besar Indonesia. Tetapi, lima tahun belakangan ini, neraca perdagangan Indonesia terhadap Tiongkok mengalami defisit. Tahun 2017, Jepang dan Tiongkok menjadi negara investor terbesar kedua dan ketiga di Indonesia, dengan US$ 4 miliar dan US$ 2,7 miliar sedangkan Korsel diurutan ke-5, US$ 1, 4 miliar. Sehingga, Jepang dan Tiongkok dengan mudah dapat mempengaruhi pemerintahan Indonesia dalam pengambilan kebijakan.

Dengan meningkatnya status hubungan RI dan Korsel serta potensi perdagangan yang telah meningkat menjadi 19, 3 persen untuk semester I 2017. Bahkan, ditargetkan tahun 2022 nilai perdagangan menjadi US$ 30 Miliar.[2] Dengan fakta dan sikap optimis ini, Indonesia bisa menjadikan Korsel sebagai investor dan pasar ekspor baru di Asia Timur dengan prinsip saling menguntungkan. Inilah cara ‘zaman now’ yang kreatif dan inovatif.

Korea Selatan, masalah khasnya adalah cara ‘zaman old’ dalam penyelesaian konflik di Semenanjung Korea yang militeristik dan sanksi ekonomi.

Pendekatan militeristik dan sanksi ekonomi (embargo), tidak membuahkan hasil, bahkan menambah runyamnya konflik tersebut. Korsel harus mengganti cara ‘zaman old’ tersebut dengan cara ‘zaman now’ yang lebih mementingkan dialog untuk menemukan win-win solution.

Cara ‘zaman now’ nya adalah menjadikan Indonesia sebagai fasilitator dialog Korea Utara-Korea Selatan. Disini, Korsel dapat mengunakan jasa Indonesia. Sebab, penulis yakin penerimaan Korut terhadap Indonesia sangat baik. Sebab, Indonesia mempunyai hubungan historis sangat harmonis dengan Korut di masa Presiden Soekarno dan Pemimpin Besar Korut Kim Il Sung. Eratnya hubungan Soekarno dan Kim Il Sung dimulai sejak tahun 1964 ketika Proklamator Indonesia itu melakukan kunjungan resmi ke Korut, yang dibalas dengan kunjungan Kim Il Sung dan anaknya Kim Jong Il ke Indonesia pada April 1965. Soekarno memberikan sebuah bunga anggrek sebagai hadiah ulang tahun kepada Kim Il Sung, yang diberi nama Kimilsungia. Bunga ini adalah simbol ikatan persahabatan antara Indonesia dan Korut.

[1]http://properti.kompas.com/read/2017/12/08/213705121/anggaran-infrastruktur-2018-naik-jadi-rp-4104-triliun

 

[2] https://www.kemlu.go.id/id/berita/berita-perwakilan/Pages/Babak-Baru-Kerja-Sama-dengan-RI,-Korea-Selatan-Akselerasi-Industrialisasi-di-Indonesia.aspx

Prev
Jack Ma Bicara
Next
Mama Papua Dan



  Agenda Kegiatan
  Galeri

  Kalender Agenda

Mon
Tue
Wed
Thu
Fri
Sat
Sun