Oleh:Tri Zahra Ningsih

MENG-UPGRADE PERAN PENDIDIKAN KELUARGA DALAM MEMBANGUN BUDI PEKERTI ANAK

Administrator
Jumat, 09 Maret 2018 11:24:36 WIB
124 Views

Penulis adalah Penerima Beasiswa LPDP Kemenkeu yang saat ini sedang berkuliah di S2 Pendidikan Sejarah UNiversitas Sebelas Maret, S1 Alumnus Pendidikan Sejarah Unversita Negeri Padang.

email: Trizahra10019@gmail.com

Bila kita mendengar kata meng-upgrade, berarti kita sedang dihadapkan pada suatu usaha untuk meningkatkan sesuatu hal menjadi lebih baik. Usaha untuk melakukan upgrade pada dasarnya terjadi pada sebuah situasi yang bisa dikatakan lemah, menurun, tidak berdaya guna, atau suatu keadaan yang sedang berada pada titik bawah. Begitupun halnya ketika kita akan Meng-Upgrade peran pendidikan Keluarga dalam membangun budi pekerti anak. Hal ini berarti bahwa ada penurunan peran keluarga dalam melaksanakan fungsinya sebagai pendidikan bagi anak. Untuk itu, perlu rasa kita paparkan bagaimana peran Pendidikan keluarga dalam membangun budi pekerti anak.

Hampir setiap hari kita menyaksikan tawuran antar pelajar, minum-minuman keras, seks bebas, dan berbagai penyimpangan gaya hidup lainnya yang dilakukan oleh kalangan remaja yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Fenomena ini, menyeret kita pada suatu konsep kehancuran (degradasi) moral atau budi pekerti. Masalah budi pekerti tidak bisa lagi di pandang sebagai masalah sepele, masalah ini bahkan dapat menjadi masalah terberat yang sedang dihadapi bangsa Indonesia yang harus segera dicarikan solusinya. Terdapat banyak sekali faktor yang dapat membuat hancurnya budi pekerti seorang anak, faktor utamanya dapat berasal dari lingkungan keluarga. Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang sangat berpengaruh terhadap tingkah laku anggota keluarganya, karena keluarga merupakan lingkungan pertama yang dimasuki oleh seorang bayi yang baru lahirkan kedunia. Hancurnya keluarga (broken home), seringkali memunculkan perilaku menyimpang pada anak sebagai dampak dari penyimpangan terhadap norma yang ada, hingga menggeser nilai-nilai budi pekerti yang tumbuh dalam masyarakat. Untuk itu, pendidikan keluarga sangat penting dalam membentuk budi pekerti seorang anak.

Kegoncangan budaya (cultural shock)

Pada saat ini, kita telah dan sedang memasuki era globalisasi, yaitu suatu era atau zaman yang sangat di pengaruhi oleh perkembangan teknologi. Sebuah era terbuka yang mudah sekali dimasuki oleh pengaruh asing. Arus informasi yang datang dari waktu ke waktu menggerus dan menghantam budaya bangsa. Melalui internet, akses informasi menjadi lebih mudah, proses interaksi antar individu dengan latar budaya yang berbeda bisa dilakukan di tempat yang berbeda, serta proses difusi kebudayaan yang mapan pun akan terjadi lebih cepat.

Kekaguman akan kehebatan masyarakat barat yang tampil dengan modernisasinya membuat mainset para generasi menjadi terbuka terhadap budaya barat. Tak ayal jika nilai-nilai yang dianggap luhur dikalangan generasi tua sudah tidak lagi sama dalam pandangan generasi muda. Ide akan kebebasan dan hak asasi manusia menjadi sebuah alasan untuk memberontak dan tidak mematuhi norma-norma yang berlaku dimasyarakat. Jika penyimpangan-penyimpangan sosial tersebut terus terjadi maka kelak nilai-norma tersebut  akan ditinggalkan dan akan muncul nilai baru sebagai penggantinya. Proses pengadopsian budaya baru ini dapat mengakibatkan terjadinya cultural shock (kegoncangan budaya).

Pengaruh baru yang mudah diterima dikalangan masyarakat, akan menghadapkan kita pada kemajemukan dan perbedaan sistem nilai. Perubahan sistem nilai sebagai dampak pertemuan terhadap budaya lain dengan sistem nilainya yang berbeda dapat menimbulkan krisis nilai. Paling kurang untuk sementara waktu, orang seperti kehilangan pegangan atau mengalami ketidakjelasan arah hidup (disoriented). Dalam situasi seperti ini, erosi nilai-nilai kemanusiaan perlu diwaspadai. Erosi nilai-nilai moral dan spritual akan membuat orang semakin pragmatik dan oportunistik.

Dalam kajian kebudayaan, nilai merupakan inti dari setiap kebudayaan. Dalam konteks ini, khususnya nilai-nilai moral yang merupakan sarana pengatur dari kehidupan bersama, sangat menentukan di dalam setiap kebudayaan. Lebih-lebih lagi di era globalisasi yang berada dalam dunia yang terbuka, ikatan nilai-nilai moral mulai melemah. Masyarakat mengalami multikrisis yang dimensional, dan krisis yang dirasakan sangat parah adalah krisis nilai-nilai moral. Untuk itu, pendidikan sebagai suatu wadah pembentuk manusia yang cerdas sangat di nantikan perannya untuk menghasilkan pribadi yang tidak saja cerdas dan terampil secara intelektual, tetapi juga menghasilkan pribadi yang berbudi pekerti luhur.

Pendidikan budi pekerti

Dalam pembicaraan masalah moral, pendidikan budi pekerti dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengadakan perubahan secara mendasar, karena membawa perubahan individu sampai ke akar-akarnya. Pada sebuah museum di Konstantinopel, terdapat koleksi benda kuno berupa lempengan tanah liat yang berasal dari tahun 3800 SM, yang betuliskan “ We haven fallen upon evil times and the world has waxed very old and wicked. Politics are very corrupt. Children are no longer respectful to their parents. Makna yang terkandung dari tulisan tersebut adalah kita mengalami zaman edan dan dunia telah diliputi kemiskinan dan kejahatan. Politik sangat Korupsi. Anak-anak sama sekali tidak hormat kepada orang tuanya.

Kalau kita runut dari sejarahnya, masalah budi pekerti telah lama menjadi masalah hidup manusia seperti tercermin pada lempengan tanah liat tersebut. Pembahasan filosofis tentang budi pekerti khususnya dari segi pendidikan moral sebagaimana dikemukakan oleh Kilpatrick terus berkembang dengan berbagai pendapat dan aspek budi pekerti itu sendiri. Ia mengutip beberapa pendapat tentang hal ini, baik yang menyangkut perkembangan maupun latar belakang sulitnya pengembangan budi pekerti. Ajaran budi pekerti di sekolah yang ditempuh melalui proses panjang itu dapat menghasilkan semangat pada diri siswa untuk memberontak atau melawan tatanan budi pekerti. Salah satu penyebabnya adalah siswa mencampakkan norma moral atau budi pekerti yang diajarkan dalam bentuk himpunan perintah dan larangan.

Sebaliknya, budi pekerti seseorang dapat dikembangkan dengan menggunakan landasan kemampuan dan kebiasaan hidup orang itu berdasarkan norma masyarakat tempat hidupnya. Norma masyarakat inilah yang menjadi acuan bagi aktivitas seseorang termasuk di dalamnya cita-cita hidup, cara yang ditempuh untuk mencapai keinginan, dan kemauan bekerja sama dengan orang lain dalam masyarakat.

Pendidikan Keluarga

Bila kita membicarakan tentang pendidikan keluarga, maka kita tidak boleh terlepas dari sosok Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan Nasional, peletak dasar konsep pendidikan Indonesia. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan keluarga itu adalah suatu tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan sosial, sehingga bolehlah dikatakan bahwa keluarga itulah tempat pendidikan yang lebih sempurna sifat dan wujudnya daripada pusat lain-lainnya, untuk melangsungkan pendidikan ke arah kecerdasan budi pekerti dan sebagai persediaan hidup kemasyarakatan. Dari Pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa pendidikan keluarga adalah pendidikan dasar kepribadian, karena dari pendidikan keluargalah mental seseorang dapat terbentuk menjadi baik atau buruk, sebab keluarga merupakan tempat interaksi pertama sejak seseorang itu dilahirkan.

Keluarga adalah guru pertama bagi anak, keluarga merupakan alam yang paling penting bagi pertumbuhan anak. Keluarga merupakan lingkungan yang sangat bermakna bagi anak. Apa yang terjadi dalam keluarga merupakan fenomena yang dihayati anak sebagai peristiwa penting dan oleh karena itu dijadikan titik-tolak anak untuk belajar dan berusaha memahami dunia. Pendidikan yang tidak relevan dengan keluarga akan cenderung diabaikan anak sebab dinilai bukan sebagai hal yang bermakna. Lingkungan yang mengitari anak secara tidak sadar merupakan alat pendidikan meskipun kejadian atau peristiwa yang berada di sekeliling anak tidak dirancang, namun keadaan-keadaan tersebut mempunyai pengaruh terhadap pendidikan anak. Ki Hajar Dewatara memandang bahwa perilaku, kecerdasan, serta bakat manusia tidak mutlak bawaan dari dalam dirinya. Tetapi, semua itu dipengaruhi oleh unsur luar dari dirinya melalui pendidikan dan pelatihan-pelatihan yang berpusat di dalam keluarga.

Bila kita pandang dari sudut agama, dalam salah satu Hadist, Nabi Muhammad menegaskan bahwaanakyangbarulahiradalahsuci bersih,ibubapaknya yangmenjadikan anakituYahudi,Nasrani, Majusi”. Hal ini berarti bahwa peran keluarga (orang tua) sangat besar terhadap pembentukan kepribadian/watak anak-anaknya. Melalui keluargalah anak-anak akan dibentuk menjadi baik atau buruk.

Jika kita menilik pemikiran barat, tampaknya peran pendidikan keluarga dalam membangun budi pekerti anak juga telah menjadi produk pemikiran tokoh-tokoh barat. Koningmenegaskan bahwadasar-dasardarilapisanwatakdan kepribadianterbentukdalam perkembanganawaldariumursatusampaiempattahundalam lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Liklikuwata mengutarakan bahwakenakalan seoranganakakibatdarilatarbelakang yangserbasemrawutdansebaiknyafaktorkeluargasebagaifaktordasar dalam pembentukan pribadi anak benar-benar harmonis. Ilustrasi diatas   memberikan indikasi bahwa betapa pentingnya perananpendidikan keluargadalampembentukan budi pekerti anak.

Prev
TIPS LULUS BEASISWA
Next
Jack Ma Bicara



  Agenda Kegiatan
  Galeri

  Kalender Agenda

Mon
Tue
Wed
Thu
Fri
Sat
Sun